Keesokan paginya. Matahari sudah terbit.
Agnes terbangun lalu terkejut melihat sosok Kenzo tertidur duduk di kursi samping ranjangnya. Sontak ia langsung mengangkat tubuhnya untuk bangun dan berteriak.
“Aaaaghhh....”
Agnes mengamati area tubuhnya. Semuanya masih utuh tidak ada yang berubah kemeja dan kancingnya masih rapi. Hanya blazer miliknya yang tersimpan di nakas, tasnya juga tergeletak di atas kasur, pintu kamar tertutup.
Kenzo yang terguncang mulai membuka matanya, dengan penglihatan buram. Ia bertanya. “Ada apa kamu?”
“Kaget lihat mukamu.”
Kenzo langsung meraba-raba wajahnya.
“Kenzo? Kenapa kamu ada di sini?”
Kenzo terbangun mata melek, ia memberikan segelas air putih ke Agnes dengan mata sayup-sayup sambil berkata. “Aku nggak melakukan apa-apa. Aku tidur di kursi.”
“Och.”
“Aku khawatir sama kamu. Jadi aku tetap di sini sampai kamu bangun.”
Kalimat Kenzo mengandung cokelat premium yang sangat mahal. Siapa pun yang beruntung mendapatkannya akan meleleh seperti es cream mencair di atas pemanas, itulah yang dirasakan Agnes.
“Apa aku mabuk semalam?” tanya Agnes pada diri sendiri. “Ya ampun! Aku pasti lupa diri tadi malam....”
“Jangan khawatir, kamu hanya merasa pening semalam.”
“Oh dan... Yola bagaimana?”
“Ah... dia sedikit mabuk. Beny mengantarnya pulang.”
“Dia tidak pernah minum banyak sebelumnya.”
Kenzo berdiri, dia harus pulang sebelum ketahuan oleh Pak Tua. Dia dapat mengambil libur karena hari ini adalah akhir pekan.
Ia berjalan ke arah jendela. Agnes mengira dia hanya ingin membuka jendela, ternyata Kenzo akan keluar lewat jendela.
“Padahal ada pintu malah lewat jendela. Memangnya kamu pikir spider-man yang bisa nempel di tembok?”
“Kamu khawatirin aku nih?” Kenzo memekik. “Kamu nggak mau aku ketahuan sama Kakek, kan?”
Nampak Agnes yang begitu malas mendengar ocehan Kenzo dari raut wajahnya.
Sebelum dia melompat keluar. Kenzo berbalik. “Oh iya, uh um maaf soal semalam. Ya kita semua tahu itu cuman permainan....”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Agnes segera memotongnya.
“Yah permainan kotor! Huh. Kamu selalu berinisiatif menciumku.”
“Kita sudah berciuman dua kali, kita melakukannya. Apa kamu benar-benar tidak merasakan....”
“Aku sangat memikirkan diriku sendiri. Bagaimana aku akan menyukai orang seperti kamu??” tegas Agnes seperti biasa. “Aku lebih suka tidak terlibat di dalam drama yang tidak berguna seperti ini lagi!”
Kenzo menyadari, bagaimana Agnes belum keluar dari traumanya.
“Kalau kamu tidak menyukaiku. Kenapa kamu terangsang dengan ciumanku semalam?”
“Huh?” Agnes berdecak kesal, lalu berubah kalem. “Berhentilah merasa benar sendiri.”
‘Tolong, jangan lakukan hal seperti itu lagi. Aku benar-benar aneh.’ – Agnes.
‘Aku nggak pernah dapatin jawaban yang aku tunggu.’ – Kenzo.
Yang Agnes lakukan hanyalah mendorongnya lebih keras dan jauh. Setiap dorongan menyakitkan lebih dalam dan membawa Kenzo lebih dekat dengan keputusasaan dalam bab terakhir hidupnya. Yang Kenzo inginkan dan harapkan hanyalah mendengar Agnes mengatakan kata-kata manis.
Dia akan tetap menjadi Kenzo yang suka berulah.
“Baik. Sebelum aku pergi, kamu tidak mau ucapin terima kasih sama aku?”
Agnes memiringkan kepalanya tanda bingung.
Kenzo melanjutkan. “Darling! Aku menyetir, aku mengantar kamu sampai di kamarmu, menjagamu sepanjang malam, duduk di kursi yang keras.”
“Oh, terima kasih! Kamu tahu, itu juga yang aku rasakan waktu aku duduk di kursi keras rumahmu!”
Masih pagi-pagi, telinga Kenzo sudah mendengar lidah tajam Agnes.
“Dan tolong lupakan tentang ciuman semalam. Aku sama sekali tidak menginginkan itu.”
‘Sialan, kita sudah bercuman mesra dan sekarang dia mengklaim tidak ingin. Dia sedang ngigau kayaknya.’ – Kenzo.
Ini membuat Kenzo menyedihkan, rentan dan tak berdaya.
“Kamu tidak jujur sama sekali, Agnes...”
Agnes menyanggah. “Itu hanya permainan seperti katamu.”
Kenzo cemberut. “Oia di mana kamu taruh bunga Lily curianku?”