Dari hal yang tidak disangka-sangka satu persatu timbul. Ada yang menggembirakan, ada yang membuat pusing, ada kejutan dan juga rasa nano-nano.
Semakin Agnes memikirkannya, semakin marah dirinya, semakin dia berkompromi, semakin sedikit yang dia dapatkan.
Tok tok tok... suara ketukan kaca mobil.
Pengemudi mobil merendahkan kaca mobilnya.
“Apakah ada yang masalah dengan mobil Anda?” tanya seorang Polisi mengenakan rumpi lalu lintas.
“Tidak, Pak,” jawabnya santai. “Ada apa ya?” tanya Agnes heran.
“Lalu kenapa kamu berhenti di tengah jalan! Kamu menghalangi lalu lintas!” bentak Pak Polisi.
PICK PICK HONK! Suara klakson menggelegar.
≈ΦΦ≈
“Agnes di mana, Bi? Aku tidak melihatnya dari tadi.”
“Dia sedang tidak enak badan. Jadi dia istirahat di kamarnya,” jawab Bibi Inem sambal menata mangkuk di baki. “Ini Bibi baru buatkan buburnya.”
“Bibi, biar aku yang antarkan bubur Agnes ke kamarnya.”
Tok Tok.
Suara ketuk pintu dari luar. Si pemilik kamar memerintahkan untuk masuk. Kenzo berjalan masuk sambil membawa baki berisi bubur di tangannya.
“Kamu sakit ternyata? Bagaimana perasaanmu sekarang?”
“Sudah agak mendingan. Hanya merasa sedikit migrain.”
“Kamu sudah minum obat?”
“Ya. Dan vitamin,” jawabnya sambil memperbaiki tubuhnya.
Kenzo mengaduk-ngaduk bubur dan hendak menyendokki Agnes tanpa izin.
“Ini bubur masih hangat. Buka mulutmu!”
Agnes menggerutu keningnya. “Aku bisa mengurus diriku sendiri, Ken.”
Tanpa menghiraukan ucapan Agnes, Kenzo menaikkan satu alisnya.
Agnes hanya menurut. Lumayan dia memakan beberapa sendok dari Kenzo.
“Ken, cukup! Kamu bebas berada di rumah ini. Tapi aku lagi pengen sendiri sekarang. Aku butuh istirahat.”
“Beginilah caraku bekerja, totalitas.”
Ponsel wanita tengah sakit itu mendapat beberapa notifikasi pesan, salah satunya dari Yola yang menanyakan keadaannya. Diambilnya benda pipih miliknya untuk menjawab pesan tersebut.
“Karna sakit, aku jadi membatalkan dua pertemuan dengan dua mitra.”
“Sebagai pembantu nggak seharusnya aku mengatakan ini padamu. Tapi kamu tidak boleh hanya mengurusi pekerjaan. Kesehatanmu jauh lebih penting.”
“Aku baik-baik saja. Terima kasih atas perhatianmu.”
“Aku tidak mau mengganggumu.” Kenzo melirik ke ponsel Agnes yang terus digenggam sedari tadi. “Oia radiasi handphone bisa buat kepalamu makin sakit. Sebaiknya kamu simpan itu.” bada khawatir melonjak dari mulut Kenzo.
“Ken, Terima kasih. Kamu pria yang baik.”
Petir muncul di pagi hari, itu kalimat pujian tulus terlontar dari Agnes untuk pertama kalinya. Kenzo tersenyum.
Seketika Agnes terpaku, ternyata Kenzo memiliki aspek lembut. Tapi iblis berkata lain, ‘Jangan terpengaruh dari sampulnya. Terlihat begitu lembut, namun... itu bisa saja modus.’
≈ΦΦ≈
Hari berikutnya.
Kenzo datang kembali ke kamar wanita taksirannya berniat menawari sarapan. Namun dia mendapati Agnes tergeletak di lantai. Ia lekas memanggil dokter keluarga. Dokter berkata, bahwa saat Agnes pingsan itu kemungkinan karena sinkop keurokardiogenik. Biasanya disebabkan oleh stres fisik atau emosional yang ekstrem. Dokter juga meresepkan obat untuk Agnes. Dia akan pulih setelah istirahat beberapa hari.
Agnes meraih gelas untuk minum. Sementara Kenzo berkata. “Nona Agnes, kalau kamu nggak keberatan, aku bisa mengantar sarapan setiap pagi, setelah sarapan aku akan membantumu mandi lalu….”
Puff... Agnes menyemburkan air dalam mulutnya. “Mandi? Tidak tidak.”
“Mulutmu bilang tidak. Tapi hatimu bilang, IYA, kan?”
“Apa kamu sduah gila?”
“Sedikit.”
“Tau ah!”
Kabar kesehatan Agnes buruk sampai di telinga kedua orangtuanya dan teman-temannya. Namun Agnes meminta pada orangtuanya agar tidak perlu khawatir. Marvin dan Yola tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka berjanji akan datang menengok Agnes.
[Yola : Apa yang terjadi denganmu?]
[Agnes : Hanya kelelahan. Aku sudah merasa baikan sekarang. Dokter memberiku obat untuk memperlancar darah menghilangkan stasis darah.]
[Yola : Kamu bermasalah dengan tensi?]
[Agnes : Entahlah...]