Kembali lagi hati dan logika Agnes bergelud, dilAnda overthink dilema campur bingung. Sudah saatnya untuk berbagi cerita. Ia kemudian membuat janji di kafetaria.
Walaupun hari ini Yola dan Marvin sedikit sibuk mengurus pekerjaannya. Tapi keduanya memenuhi undangan Agnes di kafetaria.
Agnes to do point. “Aku merasa ada yang berbeda...” ia diam sejenak. “Semalam aku berbicara tidak jelas, dengannya. Maksudku, itu spontantinas... tapi aku nggak sensitif.”
“Apa kamu sedang jatuh cinta? Dengannya?” tanya Yola penasaran, ingin tahu jawabannya segera. “Kamu mengerti apa yang aku katakan.” Ia menambahkan. “Hati-hati, nanti hidungmu jadi panjang kalau kamu bohong.”
Sontak Agnes memegangi hidungnya. “Kamu pikir aku pinokio.” Duduk terpaku, berpikir... Bagaimana dia bisa mudah tersentuh. Dia benar-benar tahu bagaimana membuat Agnes melunak, toleran dengan sikapnya akhir-akhir ini. Apakah dia benar-benar jatuh hati pada Kenzo?
Lamunannya buyar saat Marvin menepuk pundaknya. “Kamu okay?”
“Ti-tidak hm uh entahlah... maksudku aku benar-benar bingung,” jawabnya sedikit gagap.
Kenapa dia selalu nyaman berada di dekat Kenzo. Tetapi jika ini terus berlanjut, hubungan keduanya hanya akan mendapatkan kerumitan. Tarik napas.
“Sekarang kami mau nanya sama kamu.”
“Nanya apa?”
Perasaan Agnes jadi tidak enak.
“Kamu nggak merasa apa-apa... ya seperti cenat-cenut setelah berciuman dengannya? Perasaan yang aneh?”
Agnes diam tanpa kata.
Marvin bertanya. “Kamu ambigu?”
“....”
“Ya, kamu ambigu.”
“Aku tidak tahu dengan diriku. Tapi... kurasa aku lebih sensitif. Apalagi selama aku sakit, dia memberikan perhatiannya terus padaku,” ujar Agnes kesal sambil memandang keduanya secara bergantian. “Ini persis seperti yang kualami sebelumnya.”
Dari lubuk hati Agnes sungguh sangat dilema. Baru kemarin dirinya mengambil sikap penghindaran. Sekarang seperti ada sesuatu yang mendorongnya.
“Aku sudah tahu sekarang.”
“Keluarkan saja.”
“Perasaanku campur aduk. Satu sisi aku merasa... seperti senang, ada seseorang yang berusaha tetap di sekitarku. Tapi aku juga dilanda kebimbangan dalam situasi ini.”
Marvin dan Yola saling lempar pandang dengan reaksi tenang. Keduanya pun melihat sorot mata Agnes, bagaimana matanya ketika dia berbicara dan menjawab.
“Sudah kuduga. Aku memperhatikan mata kalian saling curi-curi pandang malam itu.”
“Hmm nggak juga.” Agnes mencoba menyangkal. “Sudahlah... Aku pikir kita harus berhenti membahas ini.”
“Eh?” Yola menyipitkan matanya. “Kamu sendiri yg mengajak kita bertemu untuk bahas ini, kan?”
“Humm.”
“Yah kalau begitu. Kita harus selesaikan ini!”
Agnes menghela napas.
“Kamu tidak nyembunyiin sesuatu dari kita kan?” goda Yola.
Wajah Agnes berubah memerah. Karena sudah ditebak, Agnes terpaksa mengakuinya.
“Masalahnya adalah... Apa yang harus kulakukan? Apa kami harus membicarakan ini?”
“Tapi kamu sudah tahu sendiri, kan. Gimana perlakuan Kenzo ke kamu.” Yola mencoba mengingatkan.
“Iya aku tahu, ....”
Yola memotong. “Bayangkan ada orang yang selalu menunggumu, menjagamu. Bahkan hal kecil saja dia perhatiin kamu.”
Agnes terdiam.
“Jadi sekarang bagaimana?” Agnes meminta solusi.
“Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kamu mau bicara serius dengan Kenzo tentang ini. Begitu?”
Agnes terdiam kedua kalinya. Seketika dia blank.
“Kok bengong.” Yola menyadarkan lamunan. “Berikan tanggapanmu.”
“A-aku tidak tau harus menanggapi apa....”
“Agnes... ini masalah dirimu, kenapa kamu malah acuh,” kata Yola jengkel. “Utarakan saja apa yang mengganggumu.”
“Apa aku harus ke dokter psikolog?” ia ingin konsultasi tentang kondisinya.
Marvin menepisnya. “Apa yang kamu bicarakan? Kamu nggak butuh itu.”
“Aku juga shock dan aku tidak menyadari bagaimana perasaan aku muncul saat ini. Jadi aku tidak tahu bagaimana berbicara dengan kalian tentang ini.”
“Nes, kamu terlalu keras terhadap dirimu. Itu membuat kamu sulit menilai....”
“Sekarang kalian memihak.” Agnes memandang kedua orang di meja itu secara bergantian.
“Kami tidak memihak. Kami hanya meluruskan dan sebagai sahabatmu, aku ingin yang terbaik untuk kamu.”
“Lalu kenapa kalian keras mendukung hubungan ini?” kritik Agnes. “Aku tidak siap dengan segala resiko.”
Marvin bertanya. “Apa yang membuatmu ragu?”
“Ya kamu tahu, aku pernah di jalan ini dan endingnya buntu.”
“Kamu tidak bisa menutup mata hatimu hanya karna seseorang pernah melukainya. Ingat, semua orang itu tidak sama,” ucap Yola. “Kamu hanya khawatir tentang bagaimana orang lain akan berpikir tentang kamu.”
“Awalnya kami juga berpikir seperti itu,” imbuh Marvin, “Kita juga nggak mau terlalu maksain kamu.”
Marvin dan Yola silih berganti memberikan opininya masing-masing, terus menekan Agnes mencoba menghasutnya dengan halus.
“Baiklah. Kita skip ini sementara.”
Agnes sudah mengerti tujuan kedua sahabatnya. Merasa dikalah. Agnes memilih diam.
Otak Agnes kembali terkuras untuk mempertimbangkan kesempatan dalam hubungan serius. Ketika sudah menyerah kenapa tiba-tiba muncul sebuah harapan baru.
≈ΦΦ≈
Semuanya sepakat akan berkunjung ke suatu tempat di akhir pekan. Yola telah mengatur semuanya untuk hari ini, bahkan dia melakukan pemaksaan pada Agnes.
Sementara di tempat lain, Agnes yang sedang beristirahat di kamarnya mendapatkan telepon dari Yola.