Namun hidup tidak dapat diprediksi. Agnes akhirnya melawan logikanya sendiri dan mencoba membuka hatinya.
Kenzo memiliki kesempatan untuk berada di dunia yang sama dan melihat hal yang sama dan berjalan bersama menuju tempat yag sama dengan Agnes.
≈ΦΦ≈
Beberapa hari kemudian.
Selama periode penilaian Kenzo oleh Agnes. Dia telah melakukan hal baik. Kenzo seperti telah memulai kehidupan baru.
Pengasuh manula itu tampak sangat bahagia. Ketika mata keduanya kebetulan bertemu. Terkadang Kenzo melihat Agnes di dekat jendela kamarnya. Tidak hanya itu, perhatian lebihnya mampu meluluhkan Agnes tanpa risih seperti periode sebelumnya.
Seperti saat nafsu makan Agnes tiba-tiba meronta-ronta.
“Aku mau makan anggur, apel, mangga. Melon bar, ice cream jumbo.”
Kenzo selalu melakukannya dengan baik.
Dalam beberapa moment, keduanya tidak menyembunyikan lagi kedekatakan mereka. Yang hanya di anggap normal bagi penghuni rumah lainnya.
Dalam panggilan telepon sedang berlangsung.
[Kenzo : Hei kenapa kamu belum istirahat?]
[Agnes : Menyelesaikan sesuatu di laptop. Mataku sudah lima watt. Tapi nanggung dikit lagi.]
[Kenzo : Konsult Bisnis?]
[Agnes : Iya .....]
Malam itu mereka saling balas chat berdialog ringan dan sedikit fun hingga lupa mata yang lima watt masih bertahan lama. Perspektif Agnes terhadap Kenzo semakin positif semakin hari.
Hampir tiap hari Kenzo berusaha untuk berbicara apa saja dengan wanita incarannya, Agnes pun tak segan untuk meladenin jika dia memiliki waktu luang.
≈ΦΦ≈
Semakin hari semakin akrab. Sesekali mereka bertemu di area rumah dengan damai. Kenzo selalu menawarkan dirinya seperti menemani Agnes saat ada keperluan di luar dan di dalam rumah. Kakek Samir tidak keberatan dengan itu.
Agnes merasa puas terhadap sikap Kenzo padanya baru-baru ini. Dia telah berubah sedikit. Dan memberi harapan.... jika harapan itu terwujud, mungkin keduanya benar-benar bisa saling mencintai seperti pasangan biasa.
Seberapa keras pun dia bersembunyi, saat ini dia tidak bisa menghilangkan perasaan dan logikanya.
≈ΦΦ≈
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Kenzo baru saja selesai untuk Tuan Samir. Dia nampak lelah seharian di tengah cuaca yang terik.
Dia menghubungi Agnes lewat saluran telepon sebelum dia pulang ke rumahnya.
[Kenzo : Nes, Aku di bawah jendela kamarmu. Bisakah aku bicara dengan kamu?]
[Agnes : Ada apa?]
[Kenzo : Buka jendelamu!]
Pria macho itu menunggu berdiri tepat posisi di bawah jendela kamar Agnes.
Kenzo mendongak ketika Agnes menampakkan wajahnya pada jendela.
“Hi.”
“Apa yang mau kamu bicarakan?”
“Aku hanya ingin melihatmu. Malam ini terasa dingin, tiba-tiba aku ingin menikmatinya bersamamu,” rayu Kenzo seperti biasa.
Kenzo terus menatapnya lekat-lekat seolah-seolah belum pernah bertemu sebelumnya.
Agnes balas menatap sambil berpikir. Dia sepakat dengan perkataan sahabatnya.
“Aku nggak tahu, Nes. Kenapa aku bisa secepat itu sayang ke kamu, tiap jam itu pengennya dekat sama kamu terus. Padahal hubungan kita ya gitu-gitu saja. Bahkan sikapmu yang ambigu itu sangat menyebalkan. Tapi semakin kamu ngeselin semakin aku menyukaimu.”
Kenzo tak segan bersuara besar. Membuat kerusuhan malam hari.
“Aku nggak peduli kamu suka atau tidak! Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku. Aku bahagia kalau kamu ada di sisiku. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku.”
“Ken, apa kamu lagi mabuk? Aku nggak ngerti semua ucapanmu.” Eram dari Agnes.
“Heh?”
“Lebih baik kamu pulang ke rumahmu!!”