Hari selanjutnya.
Agnes terkejut ketika dia melihat dari kaca mobil, seorang pria dengan rambut diikat kecil berdiri tegak di halaman rumahnya. Dia keluar terlebih dahulu dan Kenzo memarkir mobil.
“Hi...”
“Hi.”
“Um, tempat ini masih sama setelah bertahun-tahun.”
“Ada perlu apa?”
Sementara Kenzo menutup pintu mobil dan tetap berdiri di samping mobil menyimak.
Pria itu berkata pada Agnes. “Aku hanya ingin melihatmu.”
“Kapan kamu kembali?”
“Sebulan lalu.”
“Berapa lama kamu berencana untuk tinggal kali ini?”
“Kali ini….”
Pria itu menunduk, ia menghela napas dan mengingat memori, ketika dia selalu meninggalkan Agnes keluar kota.
“Aku nggak berencana kembali lagi.”
“Oh jadi kamu akan menetap di sini?”
Pria itu berdehem. Agnes belum melangkah.
Pria itu menatap dalam wanita di hadapannya sambil berkata. “Nes, apa hal yang berharga dalam hidupmu?”
“Hal yang paling berharga dalam hidupku?”
“Karna akhirnya, aku mengerti setelah bertahun-tahun....”
“Apa maksudmu?”
Kali ini pria berambut ikat itu akan menempatkan lebih jauh keinginannya. Dia melangkah satu langkah. “Agnes. Bisakah kita bersama lagi...?”
Agnes terkesiap di dalam. Sekilas menoleh ke Kenzo.
Tatapan mata Agnes seperti sebuah isyarat. Kenzo pun menghampiri keduanya.
Ini bukan pertama mereka bertiga bersua, tentu pria itu masih mengingat paras Kenzo.
Dalam benak si pria. ‘Bukankah dia orang yang bersama Agnes tempo hari.’
“Siapa dia?”
“Dia Kenzo.”
“Pacarmu?”
“Dia orang terdekatku.”
“Oh. Aku kira kamu nggak akan jatuh cinta lagi selain aku.”
‘Ya ampun, sombong banget cowok ini!!’ – Kenzo.
“Banyak lelaki yang mendekatiku,” balas Agnes. “Hm kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan. Aku mau masuk.”
Tanpa menunggu jawaban mantan kekasihnya, Agnes langsung berbalik berjalan masuk, berharap mantan kekasihnya pergi. Dia tak akan meghabiskan waktu tak berguna, dia sudah menghabiskan waktunya di masa lalu dengan kekosongan pada orang yang sama.
Sementara Kenzo tetap berdiri berhadapan dengan pria tersebut.
Pria itu memainkan matanya naik turun memperhatikan cukup lama penampilan Kenzo yang ambur adul.
“Kamu bersama Agnes terakhir kali. Apa hubunganmu dengan Agnes? Apa kalian berkencan?”
“Lalu, apa masalahnya denganmu?”
Mantan kekasih Agnes menyeringai. “Apa kamu suka Agnes?”
Kenzo tidak menjawab. Dia harusnya masuk ke dalam rumah untuk kembali bekerja.
Pria itu melanjutkan. “Maaf, entah dari mana pertanyaan semacam itu muncul. Hanya saja Agnes adalah wanita yang baik dan berkelas, jadi aku hanya ingin tahu hubungan kalian.”
“Oh begitu.”
“Agnes memiliki status sosial yang tinggi. Dan bagaimana dengan kamu? Dilihat dari penampilan kamu. Aku percaya kamu tidak memiliki status tinggi, kan?”
Kenzo belum merespon sepatah katapun.
“Kami harus putus karna dia tidak tahan berjarak denganku. Tapi dulu kami sangat menyukai satu sama lain. Jujur saja, dari pandanganku kamu dan Agnes berada dari dunia yang berbeda.”
‘Ya, kami berbeda idiot! Aku kismin dan dia kaya. Aku pengasuh dan dia majikan.’ – Kenzo.
“Dia hanya main-main dan penasaran. Setelah itu perlahan akan memudar, dia akan kembali... kembali padaku. Aku bisa memberikan semua yang dia inginkan. Kamu tidak pantas untuknya.”