Isu palsu hanya bagian dari rencana Marvin dan Agnes untuk keluar dari tali pertunangan ini melalui makan malam bersama dua keluarga.
Kedua orang tua Marvin menghadiri perjamuan undangan Agnes dan Tuan Samir. Ayah Marvin memberikan pelukan hangat ke Pak Samir.
“Lama tidak bertemu, Pak Samir.”
“Aku tahu kamu sibuk.
“Haha, bagaimana kabar Anda?”
“Baik,” jawab Tuan Samir. “Sekarang ini mau pasar modal kelas atas. Bagaimana bisnis Anda?”
“Pak Samir, mari kita abaikan itu. Ini saatnya kumpul keluarga.”
“Kamu benar. Kita harusnya sering kumpul seperti ini.” Pak Tua itu tertawa kecil. “Ayo silakan duduk.”
Sembari menikmati hidangan di meja panjang itu. Mereka saling mengobrol hal ringan satu sama lain.
Di sela makan, Ibu Marvin berhenti mengunyah dan menatap Agnes. “Agnes, Bukannya kamu mengundang kami makan malam untuk membicarakan sesuatu dengan kita, kan?”
‘Aku harus tenang, aku harus berhasil membuat mereka menyetujuiku.’ – Agnes.
“Uh Iya. Maaf sebelumnya.” Agnes menatap satu per satu di mjea. “Ada yang harus aku katakan ke kalian semua.”
“Apa itu?”
“Tapi kalian harus berjanji untuk tidak panik!”
Semua yang di meja saling tukar pandang kecuali Marvin.
“Ada apa?”
“Katakan saja!”
Agnes berdiri dan mulai menyuarakan. “Kakek, Bibi, Paman. Agnes ingin membatalkan pertunanganku dengan Marvin.”
Semua yang di meja terhenyak menatap heran Agnes.
“Karena Marvin telah menghianatiku. Dia selingkuh di belakangku, dasar...”
Gigi gemeratak terdengar dari kedua orangtua Marvin. Sebagai pihak Marvin, itu sangat memalukan di publik.
Marvin ikut berdiri lalu membungkuk setengah badannya. “Ya, aku juga ingin membatalkan pertunangan kami.”
PFTT
Tuan Samir mendecil. “Apa-apa`an kalian berdua??”
“Itu keputusan yang cukup mendadak yang harus Agnes ambil. Aku sudah mengambil waktu untuk memikirkannya.”
“Agnes, kamu memutuskan sepihak? Kamu bahkan tidak memberitahu kami sebelumnya,” sela Ibu Marvin keheranan.
“Marvin berselingkuh. Aku sangat marah sampai-sampai aku ingin mengutuknya menjadi patung.” Agnes mengambil jeda setelah meluapkan emosi palsunya. Ia menunduk, dengan suara pelan. “Tapi aku ingin mengakhiri semuanya.”
“Tunggu....”
“Itu masuk akal,” sahut Marvin.
“Marvin tidak mencintaiku sama sekali,” ucapnya lagi tersisih.
“Marvin... kamu….” Ibunya menatap dalam-dalam anak prianya.
Keduanya tidak nampak khawatir sama sekali. Membuat kebohongan tidak kacau. Ini adalah situasi keduanya berakting tanpa kemampuan profesional.
“Apa kamu yakin?”
“Awalnya aku pikir Marvin pria yang baik-baik. Tapi setelah bertunangan, dia pemain dingin, bangsat, bajingan.”
Ibu Marvin merasa suasananya terasa aneh. Dia hanya mengerutkan keningnya. “Hmm.”
Nampak kedua orangtua itu mengerti situasi Agnes.
“Sekarang kamu bisa marah. Tapi biarkan aku berbicara.”
Tetapi jika mereka bersikeras untuk tidak membatalkan pernikahan itu, Agnes dan Marvin hanya dapat membuat rencana B.
“Benar atau tidaknya. Marvin sendiri yang tahu.”
“Nggak peduli siapa pun itu. Marvin kamu harus putuskan selingkuhanmu,” tegas Ayah Marvin.
“Ayah…”
“Apa?”
“Paman… Marvin menghianatiku. Aku nggak terima itu.”
“Nak Agnes, tenang dulu.”
“Bagaimana, Pak Samir?” tanya Ayah Marvin. Keriput dahinya lebih menonjol. “Sepertinya kita harus mendiskusikan dengan mereka lagi. Setidaknya kita harus punya anak untuk meneruskan garis keturunan keluarga...”
“Biarkan situasinya mereda dulu. Lalu kita mencari kebenarannya.”
Ayah Marvin hanya geleng-geleng kepala.
“Baiklah.”
“Saya mengundang kalian karena saya ingin makan enak dengan kalian dan berbicara tentang hal-hal bahagia. Tapi yang kudengar malah cerita omong kosong.”
Semua yang di meja saling kempar pandang, Marvin dan Agnes menunduk.
Kedua insan yang melakukan rencana berharap pertunangan lelucon itu dibatalkan.
Agnes dan Marvin tidak bisa berbicara banyak. Kedua keluarga ingin terhubung erat melalui pernikahan. Itu hanya bisnis.
≈ΦΦ≈
Beberapa hari berlalu. Pasangan tunangan palsu kembali berdiskusi dalam kafetaria.
“Marvin, apa kamu pikir... kita masih harus berpura-pura menjalin hubungan di depan orang tua kita? Maksudku, rencana kita yang kemarin sepertinya kurang efektif.”
“Hah? Benar... Haruskah kita memberitahu mereka?”
“Hm kita tidak bisa berpura-pura berbohong seperti ini terus,” resah Agnes. “Jadi itu harus diselesaikan. Setelah rencana ini gagal, mari kita lihat bagaimana memberitahu keluarga kita masing-masing hubungan palsu ini....”
“Apaa??? Hubungan palsu apa?” suara dari arah samping mereka menyahut.