Pak Igor memperlambat laju kecepatan, karena beberapa orang melintas di depan mobilnya. Dan Agnes duduk di kursi belakang. Kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil, melihat ke sekeliling jalan yang masih nampak ramai sambil menekan suasana hatinya yang ambigu.
Di antara orang-orang yang dia lihat di sepanjang jalan… spontan ia mencodongkan badannya ke kaca mobil untuk melihat jelas seseorang yang dia kenal.
Bola matanya terfokus pada bahu jalan, di mana sebuah meja kecil Kenzo dan seorang wanita. Agnes dapat melihat Kenzo dengan jelas dan punggung wanita di sampingnya itu dari dalam mobil. Pemadangan itu cukup membuat Agnes overthink sesaat, kemudian mengabaikan.
≈ΦΦ≈
Akhir-akhir ini Agnes dibuat bingung oleh banyak hal. Tentang pernikahan, perasaan. Memikirkannya terus semakin tidak enak. Tampak Agnes akan lari dari hatinya, mengikuti logikanya. Dia berusaha untuk membuang rasa yang ada itu dengan cara mengingat persepsi negatif tentang Kenzo.
Keraguannya terhadap Kenzo masih melekat. Dia kesal emosional batin campur aduk dirasakannya, menganggap Kenzo telah berani bermain dengan perasaannya setelah Agnes memberinya kesempatan. Dia akan membuat catatan buruk pada Kenzo. Dan... dia menyuarakan bahwa dia bukanlah wanita sembarangan.
Cucu Tuan Samir kembali berpikir, apa ini jawaban dirinya yang belum bisa memberikan ruang banyak ke Kenzo? Selain karena dirinya masih abu-abu, dia selalu dihadapi sikap ragu akan sesuatu yang buram. Walaupun dia sudah punya rasa tetapi itu belum cukup mempertimbangkan sosok Kenzo.
Ia mencoba kembali menemukan puzzle di pikirannya tentang rubah yang mengejarnya itu. Kemarin malam dia melihat Kenzo berduan dengan wanita lain di pinggir jalan, sebelumnya dia memiliki banyak mantan wanita, termasuk berciuman dengan tetangganya, belum lagi cerita erotis temannya tentang kebiasaan berbagi wanita.
Dia tak dapat menghitung berapa banyak minus Kenzo di matanya, mungkin masih ada wanita lain yang tersembunyi. Dia lalu berasumsi jika Kenzo masih liar terhadap wanita. Belum lagi kejadian yang lalu-lalu yang dia lihat. Tak dapat dipungkiri, bahwa Agnes merasa pahit dan marah.
Kalau dipikir-pikir, dia sedikit sensitif dengan Kenzo yang bergaul dengan wanita lain. Dia telah mencoba memahami perasaannya dulu. Jika seandainya hubungan keduanya serius. Apakah itu akan mendapat restu? Apakah keluarga Marvin akan terluka?
Agnes adalah orang yang, ketika diberi jalan mudah dia memilih jalan yang sulit. Agnes selalu kesulitan bertemu orang-orang yang cukup baik untuknya. sedangkan Kenzo tidak kesulitan bertemu orang-orang sekali bertemu.
Setelah beberapa saat terdiam, dia tersadar. Dalam otak Agnes situasi saat ini, Rubah itu sekaligus pengasuh Kakeknya adalah spesies jantan terlihat sangar seperti raja hutan. Menjauh adalah langkah terbaik.
≈ΦΦ≈
Kenzo mengetuk pintu kamar Agnes. Semalam Yola memberitahunya perihal bahwa Agnes ingin berbicara dengannya.
Agnes membuka percakapan.
“Apa kamu sibuk? Bisa kita bicara sebentar?”
“Kamu mau ngomong apa?” Tanya Kenzo tanpa basa-basi.
“Aku akan membuat ini singkat dan jelas.”
“Ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Ya!” Agnes menatap tajam ke arah Kenzo. “Tolong, berhenti membingunganku, Ken!”
Kenzo tampak bingung. “Membingungkan apa maksudmu?”
Agnes mendesis lalu berkata. “Kamu berpura-pura seperti kamu tidak tahu?”
“Agnes, aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan? Kamu berbicara tentang....”
Agnes menghela napas. “Aku berbicara tentang bagaimana perilaku kamu dengan orang lain dan bagaimana kamu bermain-main denganku.”
“Ha? Jadi kamu mau mengatakan kalau aku hanya mengarang semua ini? Membuat kamu terjebak di tengah permainanku?”
“Aku benar-benar tidak berpikir kamu seperti itu... aku masih mencoba memberitahu kamu dengan cara yang ramah...”
“Apa yang mau kamu katakan sebenarnya?”
Agnes mulai menaikkan nada suaranya. “Apa kamu sungguh jatuh cinta denganku?” tukasnya “Kamu pikir aku mangsamu? Mengapa kamu mengejarku terus?”
Lawan bicaranya ternganga. “Kenapa... kamu tiba-tiba menanyakan itu...? Kamu nggak lihat, bagaimana aku menunjukkan keseriusanku ke kamu.”
“Kamu hanya terlalu terobsesi dengan cintaku.”
“Terobsesi dengan cintamu?” Kenzo membeku. “Nes, apa maksudmu? Aku benar-benar mencintaimu....”
“Cinta? Siapa pun bisa mengatakan kata itu. Butuh waktu lama untuk seseorang mengutarakannya. Tapi kamu tidak...”
“Kamu hanya tidak percaya sama aku.”
“Bagaimana aku harus percaya kamu?”
Bewww
“Well... astaga itu sangat menyebalkan.” Agnes menyeringai dan melanjutkan. “Sebelum kamu datang padaku dengan cintamu, kenapa kamu tidak mencoba memahami perasaanmu dulu?”
“Apa maksud kamu?! Kenapa kamu jadi aneh seperti ini?” tanya Kenzo terheran-heran.
“Cari tahu sendiri.”
Kenzo nada menyangkal. “Apa? Heii!”