Misi Hunter : The Fox and The Rich Woman

Haidee
Chapter #33

Galau

Apa yang terjadi sebenarnya? Saat itu Kenzo pun tak mengerti namun... saat dia mendengar kata-kata keluar dari mulut Agnes. Dia setidaknya mengerti satu hal yang pasti.

Kenzo melamun, untuk Agnes adalah seseorang yang memberi arti untuk hidupnya yang tidak berguna dan berulang. Dia hanya seorang pekerja dengan modus, dan Agnes adalah seseorang yang bahkan tidak pernah bisa Kenzo impikan untuk dikejar. Seseorang dari dunia berbeda seperti gunung tinggi, bahwa dia tidak pernah bisa bermimpi mendaki.

‘Aku tidak bisa melihat ekspresi di wajahnya. Aku tidak tahu apa dia punya rasa padaku atau tidak? Dan kenapa aku ingin sekali mendapatkannya? Aku hanya tidak pantas untuknya.’ – Kenzo.

Ini seperti menginjak pisau. Terasa buruk.

Setelah semua dikatakan dan dilakukan, si rubah hanya menemukan dia dan Agnes tidak memiliki kesamaan. Kenzo tidak bisa memberinya hadiah yang dia suka atau erasimilasi ke dalam lingkaran sosialnya. Keduanya bahkan melihat sesuatu dengan cara yang berbeda sekarang.

Mencintai seseorang berarti menghargai keputusannya!

≈ΦΦ≈

Sekitar pukul delapan malam, kedua lelaki berbeda karakter duduk bersampingan. Kenzo menceritakan kegalauannya serta percakapan tegang itu pada Nizar dalam rumah kecilnya.

“Dasar wanita! Ambigu banget. Itu sama saja dia mempermainkanmu.”

“Berani-beraninya dia mempermainkan kasih sayangku. Hiks hiks....”

Pria rubah itu meresapi semua yang telah dilalui. Selama ini dia terlalu fokus memperhatikan wanita taksirannya, ditambah statement Agnes yang membuatnya mulai sadar, tetapi dia tak pernah berpikir untuk berhenti. Selama ini dia yang selalu memulai duluan, menawari segala hal, menghampiri. Ya hampir semuanya. Itu karena rasanya lebih besar, itu hal wajar. Selepas Agnes telah memberinya ruang.

“Dia benar-benar ambigu,” keluh Kenzo.

“Dia nggak ada ekspresi bersalah gitu? Maksudku dia kan tahu... kalian bahkan telah berciuman beberapa kali. Dengan entengnya ngomong begitu ke kamu.”

“Dia tahu. Makanya dia minta supaya aku tidak mendekatinya lagi.”

“Achh... aku nggak tahu bagaimana cara menghiburmu... kenapa hal ini bisa terjadi sama kamu??”

“Aku... aku sangat menyedihkan. Hiks hiks.”

Nizar yang duduk disampingnya hanya tertawa geli mendengarnya. “Agnes tidak sangar tapi seram.”

Kenzo menutup wajahnya dengan kedua tangan, sambil merengek. “Kukira semuanya akan baik-baik saja untuk saat ini... ternyata... aachh masih saja mustahil.”

“Aku kira kamu nggak pernah galau, sekalinya galau luar biasa. Hahaha.” Nizar tertawa besar seraya mengusap punggung sahabatnya yang sedang galau merana. “Dari awal aku sudah memperingatimu, tapi kamu selalu sombong. Hahaha.”

Kalimat Nizar membuat hati Kenzo bergejolak, menambah kesedihan.

Kenzo cengengesan. “Hehehe... Bully saja aku sepuasnya,” katanya cengar cengir. “Achh fvck... seandainya aku tidak mencintainya, aku sudah menamparnya keras-keras.”

“Salahkah kalau aku katakan... kamu sangat bucin ke dia.” Nizar mengangkat dua jarinya dan membuat simbol tanda kutip.

Kenzo mendongak, semua yang telah dia lakukan hanya khayalan.

 “Apa dia mabuk saat itu? Aku ingin mengambil semua penghinaan yang dia berikan.” Kenzo mendengus. Dia seperti saputangan yang dilempar oleh Agnes. “Belum ada sejarahnya aku akan tunduk kepada seorang wanita.”

“Kenapa kamu tidak marah dihadapannya dan berubah menjadi rubah yang kejam seperti biasanya?”

“Aku benar-benar marah dan frustrasi tapi...”

“Tunjukkan kalau begitu!!”

“Tapi aku bisa sepenuhnya mengerti bagaimana perasaan Agnes.... mengapa dia ragu-ragu dan tidak bisa keluar dari rasa traumanya. Itu sebabnya aku tidak bisa mengatakan apa-apa, karena aku tahu betul kalau dia tidak bermaksud jahat.”

“Oh ya?”

Lelaki rubah itu telah menyisihkan semua harga dirinya untuk cintanya pada Aganes. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya.

“Aku tidak bodoh! Zar.”

“Yah. Kamu juga tidak terlihat pintar...”

Kenzo menghembuskan napas besar.

“Yang sabar yah....”

“Dari awal sampai saat ini aku sudah sabar. Kamu nggak usah ingetin trus!”

“Sebaiknya kamu jangan terlalu pikirin soal ini mulu, yang ada kamu tambah pusing dengan keambiguan dia,” kata Nizar santai. “Jangan merasa buruk, Ken. Ada banyak wanita lain di dunia ini. Bagaimana kalau aku panggil beberapa wanita untuk menghiburmu.”

“NIZARR... Tidak bisakah kamu mengerti perasaanku setelah semua yang kulakukan padanya??”

“Ayolah... aku yang mentraktirmu. Kebetulan aku juga lagi gabut. Ayo kita keluar nge-bar.”

“Hei aku benar-benar lagi nggak mood sekarang. Lebih baik aku pergi tidur!” kata Kenzo seraya menyipitkan mata.

Nizar bisa merasakan sakit hati sahabatnya, ini lebih sakit dari patah hati dirinya terdahulu. Terlihat dari wajah Kenzo yang tidak energik seperti biasanya.

“Betul kan yang aku bilang… wanita susah ditebak. Sesukanya saja, merasa yang paling benar. Sekarang kamu sudah paham kan!”

“Sejak kapan kamu jadi guruku?”

“Haha. Jadi masih mau lanjut?”

“Jalanku berat,” jawab Kenzo.

“Tapi dia pasti punya alasan, kenapa dia melakukan itu. Agnes tidak mungkin berbicara kasar seperti itu tanpa sebab.”

“Kakek Samir memintanya segera menikah.”

Nizar terkesiap. “Terus bagaimana?”

“Aku tidak tahu.”

Dengan perasaan batin yang tidak ingin ditampilkan dan harapan yang sulit disembunyikan.

“Zar, bisakah kamu nginap di tempatku malam ini? Aura rumahku terasa menyeramkan... ”

“Kamu membutuhkan betina asing untuk menemani kamu....”

“Saat ini aku hargai keputusannya, karena Kakek Samir prioritasnya.”

Nizar langsung bangkit seperti mengingat sesuatu. “Gawat!!”

Lihat selengkapnya