Langit pagi ini terlihat terang dihiasi awan putih bertebaran menemani gagahnya pagi yang bersinar menebar cahaya berkilauan.
Tuan Samir menerawang pancingan berwarna hitam. Mengecek joran pancingan yang masih mulus, lalu memutar-mutar reel yang masih berfungsi dengan baik. Selanjutnya ia membawa pancingan hitam tersebut ke halaman depan.
Meskipun akhir-akhir ini kesehatan Tuan Samir terganggu tetapi tidak menyurutkan niat untuk pergi memancing di telaga, berangkat bersama Pak Igor.
Tidak berselang lama kepergian Pak Samir. Dengan gaya kasual, Agnes nampak berdiri di meja makan.
Bibi Inem menegurnya. “Nona Agnes, apakah Nona ingin sarapan sekarang?”
“Ya. Tolong siapkan, ya,” jawab Agnes. “Kakek ke mana?”
“Oh Tuan Samir dan Pak Igor pergi memancing,” jawab Bibi. “Mereka berangkat pagi sekali.”
“Dan Kenzo?”
“Kenzo menelpon, katanya dia tidak bisa datang hari ini.”
“Oh. Apa alasannya?”
“Dia hanya berkata seperti itu, non.”
Agnes tidak menghiraukan seraya duduk di meja makan menunggu Bibi Inem membawakan sarapan paginya.
Sehabis sarapan nasi goreng, Agnes bergegas keluar jalan-jalan.
≈ΦΦ≈
Beberapa hari berlalu. Sejak Kenzo dan Agnes berselisih terakhir kali, Kenzo absen bekerja. Dia mengirim pesan bahwa Bibinya meninggal. Dua hari setelah kematian Bibinya, Kenzo meminta cuti selama seminggu. Pak Samir paham kondisi Kenzo.
Satu minggu berlalu... Kenzo tak kunjung berkabar, dia seperti ditelan bumi. Agnes yang biasanya mengabaikan Kenzo turut mencari dan bertanya pada Bibi Inem tiap hari. Dia bertanya karena peduli atau hanya simpatik seperti kakeknya.
Dalam seminggu itu, Agnes sibuk mengurus mitra yang di rekomendasikan oleh Marvin atau sekadar nongkrong bersama Yola.
≈ΦΦ≈
Sementara itu situasi Kenzo.
“Dari saat Ibumu membawamu kepadaku sampai sekarang, aku selalu merasa seperti itu. Karena sebenarnya tidak ada yang bisa kulakukan.”
“Saat ini, kamu menganggapku sebagai walimu karena aku merawatmu dan membiarkan kamu tinggal di tempatku. Tapi secara hukum, aku tidak! Jadi aku tidak punya wewenang atau hak untuk melakukan apa pun. Apa kamu mengerti?”
Itu beberapa ucapan yang terngiang antara Paman Kenzo dan Kenzo setelah istri pamannya meninggal. Orang sekaligus walinya yang telah memberi Kenzo tempat tinggal sewaktu kecil. Namun Kenzo muak dengan kelakuan buruk Pamannya.
Dalam hidup semua orang memiliki cerita diri mereka sendiri. Mereka dapat menunjukkan kepada orang lain, dan sisi di mana mereka jadi tertutup. Dua hal yang dibawa sepanjang hidup kita.
Dia berada di luar dari jangkaun selama beberapa hari terakhir, dan ponselnya turut di abaikan. Kenzo hanya menghabiskan waktu berdiam diri, memberenggut. Merokok sambil melihat langit-langit rumah.
Ring Ring Ring
Dering ponsel terus menggangu waktu sendiri Kenzo. Ia mengabaikannya beberapa saat kemudian menjawab panggilan tersebut.
Dia meletakkan ponsel di telinganya dengan tidur tengkurap.
[Kenzo : Halo.] *suara serak*
[Nizar : Ken, Kamu belum masuk bekerja?]
[Kenzo : Belum.]
[Nizar : Aku tidak mendengar kabarmu akhir-akhir ini. Kamu sakit?]
[Kenzo : Bukan urusanmu. Selamat tinggal.]
[Nizar : Eh tunggu sebentar, Ken!]
[Kenzo : Apalagi?]
[Nizar : Aku tidak bermaksud mengganggumu. Tapi ada sesuatu yang terjadi….]
Tii tit tit.
“Shit... apa-apaan dia.” Nizar mendesis.
“Ada apa? Dia masih hidup, kan?”
“Dia pasti dalam keadaan buruk sekarang. Kita harus pergi ke rumahnya!”
“Mungkin dia masih ingin sendiri.”
“Justru itu, kita harus menghiburnya agar dia nggak terlalu sedih.”
“Orang sedih biasanya nggak mau diganggu,” kata Marvin sengaja.
“Heh. Bukannya terbalik.”
“Beda-beda sih. Tapi besok sajalah kita menemui dia.”
“Sekarang!”
≈ΦΦ≈
Dengan modal nekad Nizar dan Marvin ke rumah Kenzo. Kenzo sudah mengunci diri beberapa hari. Sebagai teman, Nizar akan berbicara dengannya.
TOK TOK TOK!
“Ken… apa kamu mendengar kita?”
“Buka pintunya!”
“Kalau kamu mau curhat. Kamu bisa cerita dengan kami.”
“Ken….”
Dua pria ini terus berteriak memanggil nama Kenzo dan berceloteh di luar pintu.
“Vin, haruskah kita masuk ke dalam dan memeriksanya?”
“Apa kita dobrak saja?”
Tetapi Kenzo tak punya energi. Saking lemasnya bahkan untuk bangun saja rasanya berat. Jadi dua pria itu nekad menerobos ke dalam rumah dengan mendobrak pintu.