Mobil melaju. Tiga ratus meter dari pusat kota. Dalam perjalanan dengan kekasihnya. Marvin menceritakan situasi tegang di rumahnya.
“Vin, kita mau kemana?”
“Pergi mendinginkan diri.”
“Bukan itu yang harus kamu lakukan sekarang,” kata Nizar lembut. “Kamu pulang saja ke rumahmu dan beritahu orangtuamu kalau kita tidak pacaran lagi. Katakan kita putus sekarang!”
“Apa lagi ini? Kita sudah bersama cukup lama.”
“Ahh. Tapi kita harus lakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan dengan keluargamu.”
“Cukup. Ini cuman drama bodoh.”
“Yeah, kurasa Ayahmu berhak marah sama kamu atas perbuatanmu.”
“Yeah dan aku berhak bahagia juga.”
“Vin, aku mengkhawatirkan kamu.”
“Sudah seharusnya kamu mengkhawatirkanku," celutuk Marvin. "Diam dan nikmati pemandangan malam ini.”
“Kamu emang bajing4n!”
Marvin tiba-tiba tidak waras. Bagaimana dia dalam keadaan mood yang bagus menikmati pemandangan malam ini di tengah pertengkaran keluarganya.
‘Bersama Marvin adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku, meskipun hubungan ini dilarang.’ – Nizar.
“Kenzo sudah siuman?”
“Ya. Aku meninggalkannya setelah dia minum obat.”
Cinta yang menyatukan dua pria di tempat pertama. Telah melakukan banyak hal.
≈ΦΦ≈
Marvin berselisih dengah Ayahnya dan bersikeras untuk tinggal sementara di tempat Nizar. Dia benar-benar pria dengan pesona luar biasa.
Sementara Nizar baru saja berpisah dengan Kenzo di Rumah Sakit. Kemudian bergabung dengan Marvin serta Agnes dan Yola di kafetaria.
Marvin sudah menceritakan situasi yang terjadi pada kedua wanita tersebut.
“Apakah itu benar?” tanya Agnes.
“Ya.”
“Bagaimana dengan orangtuamu?”
“Jangan khawatir. Lagipula aku yang menentukan kebahagiaanku.”
Padahal sebenarnya Marvin banyak tekanan.
“Tapi kalian menjadi berita utama akhir-akhir ini.”
Semua orang disekitar Marvin hampir sepenuhnya tahu apa yang terjadi padanya.
“Hah?”
“Sejauh yang aku tahu, iya”
“Semua orang sudah tahu itu? Itu terlalu memalukan.”
“Kalian cukup berani muncul dalam kekacanau ini...”
“Siapa yang melakukan ini?”
“Tidak peduli siapa yg menyebar berita itu. Yang terpenting bagaimana membersihkan berita buruk ini.”
Sebelum berita itu sampai ke Tuan Samir dan situasi semakin sulit.
“Apa Kakek akan membatalkan pertunangan kita setelah dia tahu? Tapi satu-satunya jalan saat ini untuk membersihkan rumor itu dengan menikah.”
“Aku akan berusaha meyakinkannya.”
“Yang kita butuhkan hanyalah membersihkan nama.”
Banyak hal yang harus diselesaikan dalam waktu sempit.
“Vin, lebih baik kamu pulang saja. Jangan bertingkah seperti anak kecil. Apa menurutmu dengan kamu minggat, masalah akan selesai!” tegur Yola mendesis. “Aku sering bertengkar dengan Ayahku sebelumnya, tapi nggak lama kami selalu berbaikan. Aku yakin Ayahmu pasti akan menerimamu. Dia hanya shock.”
Orangtua tidak bisa menjadi musuh anak-anak mereka. Mereka pasti akan kembali saling memaafkan, tidak peduli berapa bayak kesalahpahaman di antaranya.
“Oia, Zar. Bagaimana kabar Kenzo? Apa dia sudah pulih?” tanya Marvin.
“Kenzo kayaknya mengalami depresi dan energinya terkuras banyak, jadinya tubuhnya lemah dan demam.”
“Terus apa kata dokter?”
“Itu bisa karena kelelahan fisik dan juga faktor malnutrisi, itu kata dokter.”
Nizar sama sekali tidak paham apa-apa dengan semua yang dia katakan. Ini hal yang tidak biasa, mengingat Kenzo jarang jatuh sakit.
Agnes terkejut. “Heh? Separah itu.”
Marvin bertanya lagi. “Apa dia sudah keluar dari zona buruknya?”
“Aku tidak tahu. Lagipula ini masalah keluarganya,” jawab Nizar. “Aku nggak kepoin dia lagi.”
Agnes menjadi penasaran. “Ada apa dengan keluarganya?”
“Bibinya meninggal beberapa hari yang lalu,” jawab Nizar. “Kalian tahu, hubungan Kenzo dengan Pamannya kurang baik. Pamannya penjudi gila. Kenzo selalu memberi Pamannya uang untuk digunakan biaya pengobatan bibinya. Setiap kali pamannya tidak punya uang, dia akan pergi mengemis ke Kenzo, dan bangsatnya Pamannya pakai uang itu hanya ke hal salah.”