Dulu, setiap kali Agnes menatap Kenzo. Dia hanya melihat rabuh cabul yang mencoba menipu hatinya. Sekarang, ada rasa yang tak bisa di tahan. Apa ini? Apakah perasaan cinta yang sungguh-sungguh? Agnes nyaris jatuh cinta kepadanya.
‘Astaga, apa yang salah denganku? Aku menyukainya? Pasti aku hanya kasihan padanya. Ya pasti cuma kasihan!’ – Agnes.
Jatuh cinta adalah perkara Ya atau Tidak. Cinta bukan satu-satunya hal yang pasti di dunia ini. Ada banyak macam cinta, tapi semuanya sama-sama menghendaki jawaban Ya atau Tidak.
Padahal sebelumnya dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menghiraukan Kenzo sama sekali, tapi bagaimana mereka akan bertemu selama Kenzo bekerja. Ini membuatnya merana...
Sisi Kenzo, setelah mengobrol dengan Agnes tempo hari. Tampak suasana hati Kenzo sudah mulai membaik. Meskipun belum bisa menyelesaikan masalah dia dengan Pamannya yang sebenarnya.
Kenzo telah memulihkan diri di rumah selama sepekan lebih berkat dukungan dari kawan-kawannya serta Agnes membuatnya lebih lancar. Dia mulai kembali bekerja. Selama dia tidak bekerja, tugasnya telah diisi oleh Pak Igor dan Bibi Inem.
‘Kenapa aku punya sayap tapi tidak bisa terbang, hanya bisa jatuh?’ – Kenzo.
Karena sesuatu yang buruk telah terjadi sepanjang waktu.
≈ΦΦ≈
“Kudengar kamu menemui Kenzo?”
“Sebenarnya dia juga menderita. Tapi... dia menerima rasa sakitnya secara terbuka dan tidak pernah menyembunyikannya.”
“Sepertinya kamu lebih peduli padanya.”
“Um kamu terlalu berlebihan, Yol.”
“Ayolah… kamu tahu perasaanmu.”
“Tidak! Aku tidak akan jatuh untuknya. Maksud aku, itu bukan prioritasku saat ini.”
“Katakan saja kalau kamu takut jatuh padanya?”
Agnes terpaku. “Aku tidak bisa dan tidak akan.”
“Apa kamu membencinya? Sebenarnya kamu sangat peduli dengan Kenzo.”
“Entahlah... Dia hanya berbicara tentang masa lalu. Dan aku merasa simpatik.”
“Nes, kamu wanita sosial yang aneh.”
“Benar. Aku merasa tidak harus memberitahu kebenaran. Maksudku, kurasa aku mungkin khawatir tanpa alasan.”
“Apa kamu benar-benar harus menyudutkan diri seperti itu?”
“Apa yang salah?”
“Kalau kamu tidak menyukainya, kamu hanya harus membuat alasan dan berhentilah melarikan diri.”
“Kamu tahu bagaimana perasaanku pada Kenzo, kan? Ambigu.”
Pada akhirnya... perasaan bingung menyelimutinya.
“Setelah semua yang terjadi, aku masih bingung.”
“??!! Astaga... kenapa kamu begitu bingung? Apa ini tanda kalau kamu benar-benar tertarik dengannya?”
Agnes menghela napas sambil memijit keningnya.
“Ketika aku mengunjunginya kemarin, rasa khawatir terus membayangiku sampai aku nekad ke rumahnya. Ketika kami saling menatap, jantungku berdebar-debar. Aku juga mulai berpikir positif tentang dia setelah aku mendengar cerita kehidupannya yang kelam.”
Yola terbelalak. “Kamu harus pergi dan bicara dengannya… tentang apa yang kamu rasakan. Apa kamu beneran jatuh cinta sama dia atau tidak. Setidaknya kamu harus bicara lagi dengan Kenzo soal ini. Okey?”
Sekarang Agnes memangku tangannya di dagu. “Apa itu harus?”
“Kamu masih mempertimbangkannya??”
“Ya?”
“Aku tahu, ini pasti sulit untuk kamu. Tapi serius, jangan berpikir bodoh saat ini. Kamu mendapat petunjuk, kamu harus ambil itu.”
“Aku bingung, mengapa aku merasakan ini? Dan aku sangat tahu kalau aku tidak seharusnya melakukan ini. Karena sebentar lagi, aku akan menikah....”
“Tapi... itu tidak akan mengubah keadaan, sebelum dan setelah kamu menikah dengan Marvin.”
Agnes terpaku kembali.
Yola memegangi keningnya, dia merasa vertigo baru saja menyerangnya. Ia berkata. “Kenapa kamu begitu tidak pengertian terhadap perasaan orang lain... Kenzo benar-benar menyukaimu. Lihat bagaimana cara dia memperlakukanmu dan menggangggumu.”
Agnes bak murid tengah menyimak gurunya berkhotbah.
Yola berkacak pinggang. “Kamu harus bertanya pada dirimu sendiri. Bagaimana perasaan kamu tentang dia. Apa kamu sering memikirkannya? Apa kamu ingin membantunya karena kasihan? Atau bahkan mencium dan memeluknya?”
“Aku tidak tahu.”
“Tidak ada lagi yang bisa kukatakan.”
Kesimpulannya sudah jelas. Setelah itu Agnes benar-benar sadar... sebenarnya bukan latar belakang, maupun pemikiran yang membuatnya rumit tapi ego dirinya sendiri.
Baru kurung waktu sepekan, dia bersorak amarah pada Kenzo. Apakah dia benar-benar menyukai Kenzo. Agnes mendesah. Betapa ini sangat mengganggunya. Dia dapat menjadi gila.
≈ΦΦ≈