Untuk mencegah kekacauan semakin besar dan mencapai tujuan dari keluarga masing-masing. Tanggal pernikahan telah ditentukan dan dilakukan sesegera mungkin.
Kedua keluarga mengadakan pertemuan untuk membahas ulang pernikahan agar dimajukan. Mereka mulai menyerah dan cemas.
“Baiklah, mari kita meluruskan ini. Kita tidak pernah setuju dengan apa yang kalian lakukan. Terlebih lagi, kita adalah pengusaha besar dengan reputasi yang baik. Apa kalian bisa menahan tekanan opini di lingkaran kita?”
“Kami sudah memikirkan hal-hal ini.”
“Apakah kamu berpikir, kamu akan benar-benar direstui?”
“Apa kalian serius tentang ini?”
“Ya.”
“Lalu bagaimana program bayi kalian? Apa itu bisa?”
Agnes menjawab percaya diri. “Seperti yang telah kami katakan sebelumnya. Kami melakukan ensimasi buatan.”
Marvin menambahkan. “Apa kalian belum pernah dengar tentang inseminasi? Sperma dari pendonor dan dokter akan menyuntikkan....”
“Kalian ini bicara apa, hah?”
“Apa kamu bercanda. Ini tidak lucu.”
“Kami tidak bercanda,” balas Marvin. “Dan pendonornya adalah Marvin sendiri.”
“Kita membuat keputusan penting bersama, itu sebabnya kami di sini,” tambah Agnes. “Lagipula menurutku apa lagi yang bisa kami lakukan untuk kalian.”
Marvin dan Agnes saling melempar pandangan untuk meyakinkan keluarga. Mereka datang berani setelah mempertimbangkan banyak hal dalam waktu yang singkat
“Kalian di sini hanya memberitahu kami hal gila...”
“Kalian adalah keluarga kami.”
“Ayah tidak begitu paham. Apakah itu akan berhasil?”
Marvin mengangguk tegas.
“Kakek, bagaimana menurutmu? Bayi itu bagaimana...”
“Ya Tuhan... Ya Tuhan... Ya Tuhan... bayi... Kakek tidak percaya ada hal seperti ini.”
Ayah Marvin tampak frustrasi. “Kami ingin lihat kalian seperti... ah sudahlah....”
“Ibu?”
Sang Ibu menenangkan Ayah Marvin. “Sayang... tolong... ”
“Ini hal konyol yang pernah aku dengar,” celutuk Tuan Samir.
“Bagaimana mereka melakukan ini, kita...”
Tampak mereka masih tidak habis pikir.
“Kami bisa menjaga bayi, merawat bayinya, melindunginya.”
“Kami bisa sekolah trimester untuk kehamilan.”
Tuan Samir menyahut. “Itu melegakan bagi saya.”
“Urus itu!”
“Tapi kami belum benar-benar mengetahui kapan kami akan pergi ke dokter.”
“Yah. Kalau begitu kalian harus menikah secepatnya. Ayah tidak sabar menunggu untuk menjadi nenek buyut.”
“Cucu yang menggemaskan,” tambah Ibu Marvin.
“Yah, kami berdua akan menjadi orangtua yang luar biasa. Kalian pasti bangga,” sahut Marvin percaya diri.
“Sedikit lagi Ayah akan gila.”
Pak Samir membuang napas lelah. “Huh pelan-pelan saja. Kalian berdua masih belum matang,” ucap Pak Samir masih tidak menyangka. “Walaupun pertunangan antara kedua kelurrga ini adalah keinginan kami. Tapi kalau memang mereka berdua merasa tidak cocok. Maka pertunangan ini lebih baik dibatalkan saja...”
Pak Samir melirik cucunya sekali.
“Maafkan kami. Kalau keduanya tidak ditakdirkan untuk bersama. Ini semua karena anak kami,” ucap Ayah Marvin menyadari anaknya seorang impoten.
“Tidak apa-apa. Katakan saja kepada semua orang kalau kedua keluarga telah membatalkan pertunangan dengan damai,” tutur Pak Samir. “Tidak ada yang bersalah di sini.”
Marvin menanggapi. “Kalau berita ini tersebar, orang-orang pasti akan berpikir macam-macam. Pada saat itu rumor akan berdampak buruk pada keluarga Samir dan keluarga kami.”
Ibu Marvin turut bersuara. “Saya dan Ayah Marvin menyukai Agnes... dan selalu ingin memiliki anak perempuan. Kami sudah menganggap Agnes seperti anak kami sendiri.”
Agnes berkata dengan lantang. “Pertunangan ini tetap dilanjutkan. Begitu pun perkembangan bisnis di antara keluarga.”
Ayah Marvin berkata dingin sambil berdiri. “Semakin cepat semakin baik. Saya sudah tidak peduli dengan siapa kamu berhubungan. Kalian lebih tahu apa yang harus kalian lakukan.”
Setelah musyawarah keluarga selesai. Mempertimbangkan kelangsungan bisnis kedua keluarga, berinvestasi dalam beberapa industri
Kedua pasangan palsu itu tidak sabar membagikan kabar baik kepada orang sekitarnya. Marvin berhasil menang perselisihan dengan Ayahnya. Semuanya baik-baik sekarang. Mungkin Ayahnya sadar bahwa dunia sekuler.
Itu agak mengejutkan Nizar dan Marvin. Mengingat Ayahnya orang yang sulit diperintah. Mereka memperjelas bawah mereka tidak mendiskriminasikan spesies lain, tetapi mereka berharap, pelakunya bersikap normal.
≈ΦΦ≈
Entah kenapa rasanya itu timpang. Sulit untuk Agnes menyingkirkan pikiran tersebut, tentang si rubah. Menurutnya, dia tidak akan membuat kemajuan jika hal itu terjadi. Terlintas di benaknya untuk menemui pengasuh Kakeknya tersebut di siang hari.
“Bi, apa Kenzo mengambil libur hari ini? Aku nggak melihatnya dari tadi?”
“Non, tidak tahu?”
“Tahu apa?”
“Saya mendengar Kenzo menghadap Pak Samir untuk mengundurkan diri.”
“Apa? Kapan?”
“Tadi pagi.”