Perubahan perilaku Agnes uring-uringan begitu jelas, sampai-sampai orang lain bisa memperhatikan. Bertentangan dengan perasaan dia awalnnya. Seiring berjalan waktu, merasa semakin nyaman.
Sejujurnya, dia tidak tertarik pada Kenzo awalnya, tapi kemudian tiba-tiba memiliki perasaan untuknya. Dia memberi kesempatan kembali pada Kenzo untuk lebih dekat dengan dirinya. Dia juga mulai berpikir positif tentang sosok Kenzo, pria yang dia kenal beberapa bulan lalu.
Sebuah grill pan sudah siap di atas meja bundar di taman halaman belakang rumah Agnes untuk makan siang dengan barbeque. Guna merayakan kebahagiaan pasangan baru.
Mereka berbagi tugas, Nizar, Yola dan Beny bertugas mengurusi tomyum sukiyaki dan menusuk daging ayam dan bakso menjadi sate. Kenzo dan Marvin bertugas untuk membakar sate. Sementara Agnes sibuk mempersiapkan kebutuhan lainnya.
Nizar menghampiri bagian pembakaran. “Coba sedikit,” katanya sambil meraih satu tusuk sate.
Marvin menepis tangannya. “Heh! Jangan. Dagingnya belum matang.”
“Gak apa, setengah matang juga enak.”
“Enak darimananya? Siapa yang bilang itu sama kamu?”
“Tapi aku suka yang setengah matang.”
“Kayak kamu setengah matang. Hahaha,” sahut Kenzo.
Nizar menonjolkan bibirnya ke arah Kenzo.
“Daging setengah matang nggak bisa dimakan.”
“Siapa bilang daging tidak bisa dimakan setengah matang?”
“Biarkan saja, Vin,” sahut Kenzo melerai.
“Bukannya daging itu sudah dibersikan sebelum disajikan. Jadi nggak perlu sampai matang baru bisa dimakan,” terang Nizar terus merengek.
Makan daging yang belum matang adalah sikap seorang pecinta daging sesugguhnya!
“Ha! Terserah kamulah.”
Setelah proses sudah selesai, mereka duduk melingkar di meja dan menikmati makan siang yang hangat. Semuanya sudah siap di halaman belakang
Marvin bertanya. “Jadi sekarang kalian....?”
Kenzo mengangguk seraya tersenyum manis. “Ini seperti mimpi jadi kenyataan.”
Huhu, akhirnya Kenzo dan Agnes tampak lebih santai waktu sekarang.
“Kenapa akhirnya kamu menerima Kenzo?”
Dengan wajah datar, Agnes menjawab. “Kupikir, aku satu-satunya orang yang di takuti si idiot itu.”
Gigi Kenzo gemeretak. Yang lain tertawa terbahak-bahak.
Yola mendelik. “Dan kamu menerima cintanya di kamarnya. Itu nggak romantis sama sekali.”
Bagi Yola, pengakuan impian seorang wanita itu seharusnya ada di pantai, sebelum matahari terbenam.
“Dia membuatku memilih di antara dua pilihan yang sama saja. Seperti neraka!!”
“Teknik apa yang kamu gunakan menjinakkan Agnes, Ken?”
“Hoho itu rahasia.”
Marvin berkata sambal melirik Nizar. “Mungkin seperti kita. Awalnya tidak tertarik, pada akhirnya kita bisa bersama.”
Agnes sungguh-sungguh berkompromi dengan keadaan hatinya dan membiarkan Kenzo. Dia tahu bahwa Kenzo tidak buruk-buruk amat dan mengizinkan Kenzo untuk menjangkaunya kembali.
“Akui saja kalau kamu menyukaiku,” goda Kenzo pada kekasihnya. “Kita sudah percaya itu.”
Agnes menahan diri. “Kapan aku mengatakan itu...”
“Waktu aku tidur di pundakmu.”
“Hah? Kapan kamu tidur di pundakku,” sela Agnes geram. “Kamu pasti mengarang... ”
“Tidak! Aku masih ingat, waktu itu kita...”
“Hentikan!”
Agnes menutup mulut Kenzo secepat kilat.
“Kenzo benar-benar licik!”
Cinta memang sangat aneh, tapi setidaknya kita mengerti perasaan kita yang sebenarnya.
“Yah, kamu berhasil!”
“Sejak pertama aku menculik Agnes, aku sudah menginginkannya. Itulah kenapa aku berani merayunya,” ujar Kenzo. “Kalian harus cukup berani untuk memberitahu siapa yang kamu cintai. Semuanya akan indah kalau orang itu menerima cintamu.”
Marvin tak henti bertanya sedari tadi. “Darimana kamu belajar kata-kata bijaksana seperti itu?”