Berawal dari kencan buta, kencan formalitas di antara keduanya. Agnes menikah dengan Marvin keinginan tetua. Marvin adalah pria yang paling baik di antara pria yang dikenal Agnes. Selain itu Marvin juga bersikap terus terang pada Agnes. Meskipun suaminya tersebut tampan tetapi kenyataannya tidak seperti novel romansa.
Kemudian membuat keputusan cukup mendadak yang harus dibuat, tanpa banyak waktu untuk memikirkannya. Mereka menunjukkan cara mengambil langkah sekaligus. Ini disebut keuntungan berada di posisi tidak menguntungkan.
Di zaman modern ini, memang masih ada beberapa keluarga yang punya tuntutan tinggi tentang perjodohan. Tapi, banyak juga orangtua yang masih menghormati pilihan anaknya.
Nah, itulah akhir dari pesta pernikahan. Marvin harus kehilangan istrinya. Karena istrinya mempunyai kekasih yang lain dan suami Agnes memiliki suami lain.
Satu pesan dari pihak keluarga. Yaitu, mereka harus menjaga hubungan dan kedetakan dan menjalani kehidupan yang baik.
Desas-desus berita tentang Marvin pun perlahan mulai hilang beriringan dengan berita pernikahannya, dan semua kembali normal setelah pernikahan dilakukan.
“Hei Ben, aku akan meminjamkan kamu buku ‘Cara menjadi pria dominan’,” ucap Nizar.
Kenzo menambahkan. “Dan aku akan memberikanmu cuma-cuman buku ‘Cara Menggoda Wanita’. Aku yakin ini akan membuat Yola terperangkap sama kamu.”
Kabarnya Beny sering begadang membaca dua buku setiap malam.
≈ΦΦ≈
Ruang tamu kediaman Marvin.
Marvin dan Nizar adalah teman seperguruan tinggi, mereka juga menjalin hubungan sejak bangku kuliah. Orang awam mengetahui keduanya adalah sahabat sejati.
Sambil berdiri menghadap jendela besar, pandangan ke taman botani rimbun yang berada di halaman. Ibu Marvin berkata. “Ngomong-ngomong kapan Marvin mulai begitu? Pantas saja dia tidak pernah bergaul dengan seorang wanita. Marvin lebih sering bergaul dengan teman prianya.”
Ayah Marvin menepuk jidat sambil menghembuskan napas. “Huff.t.. sayangnya Ayah hanya tidak menyangka kalau alasan Marvin melajang selama bertahun-tahun karena orientasi seksualnya.”
“Sayang, Marvin bukan anak kecil lagi. Jangan memaksakan stereotip semacam itu padanya.”
“Kamu terlalu memanjakannya. Sekarang lihat apa yang dia mampu??”
Ibunya memanjakan tetapi tidak mengajarkan ke arah orientasi salah.
“Seandainya gossip itu tidak ada, berapa lama anak kita akan merahasiakan hubungan gelapnya itu? Bagaimana dia bisa memutuskan masalah besar seperti pernikahan sendiri?!” geram Ayah Marvin, rahangnya ikut merasa tegang.
Sang Istri memegangi lengan Suamianya untuk menenangkan. “Sudahlah, Pa.”
Ayah Marvin menghela napas. “Baiklah... semua sudah terjadi.... tidak ada lagi yang bisa dilakukan.”
Awalnya Ayah Marvin mengalami syok, perlahan-lahan itu memudar. Bagaimanapun Marvin adalah anak tertuanya, dia akan mewarisi perusahaan keluarga. Dia masih tidak tahu, apa yang menarik dari Nizar. Pria manja yang agak cerewet. Namun sekarang orangtua Marvin sering berkata manis pada Nizar. Mereka tidak menentang kebersamaan anaknya seperti sebelumnya,
“Untung saja Agnes toleran pada Marvin.”
“Untung saja...”
“Agnes adalah wanita cakap dan tegas.”
“Sayangnya anak kita idiot.”
Sang Istri hanya tertawa kecil sambil menutup mulut.