Hari ini begitu panas, rasanya bajuku basah oleh peluh keringat. Keramaian, kemacetan, kebisingan dan polusi semakin melengkapi kesan begitu menantangnya hidup di kota Metropolitan ini. "Ups maaf Mas, enggak sengaja!". Seorang pria paruh baya lalu menabrakku dan membuat beberapa lembar naskahku jatuh berantakan di lantai. Hanya mengucapkan maaf dan berlalu begitu saja tanpa sedikit pun membantu untuk ikut mengambil serta merapikannya kembali. Ya, aku adalah seorang penulis pemula, tapi selain itu aku menerima pekerjaan lepas lainnya asalkan itu bisa menghasilkan uang bagiku. Dan hari ini aku memang sedang ada janji untuk mempromosikan tulisanku dengan salah satu penerbit yang ada di kota ini.
Oh iya, perkenalkan namaku adalah Bachtiar. Sudah hampir lima tahun aku merantau dan tinggal di kota yang padat serta hiruk pikuk lingkungannya akan membuat siapa pun pendatang baru yang mencoba peruntungannya hanya akan bertahan dalam hitungan hari, minggu, hingga beberapa bulan saja. Di rumah susun ini aku telah menyaksikan hal tersebut berkali - kali. Hanya segelintir orang bermental baja saja yang betah di sini. Jika ada orang yang bertanya kepadaku, "Enak ya jadi anak rantauan, karena bisa mudik dan pulang ke kampung halaman serta bertemu keluarga saat hari raya tiba nanti". Akan aku katakan kepada mereka kalau aku tidaklah mempunyai keluarga. Maksudnya adalah aku tidaklah mempunyai keluarga yang kecil, karena keluargaku adalah sebuah keluarga yang besar. Adik - adikku saja berjumlah puluhan dan selalu bertambah setiap waktunya. Aku kira jumlah mereka saat ini mungkin sudah mencapai seratus orang. Memang sudah dua kali aku pulang ke kampung halamanku selama hampir lima tahun belakangan ini. Dan untuk yang ketiga kalinya sebenarnya aku mempunyai keinginan ketika pulang ke kampung halamanku nanti paling tidak aku sudah cukup sukses. Cukup sukses menjadi penulis yang terkenal paling tidak. Walaupun saat ini sebenarnya aku hanyalah seorang penulis pemula yang baru saja mencoba menulis sebuah novel fiksi tentunya. Bukan mengapa, aku melakukan hal ini agar dapat menjadi contoh serta penyemangat bagi adik - adikku kelak kalau mereka pun bisa berhasil dalam menjalani hidup ini seperti yang lainnya juga. Waktu itu hanya beberapa anak saja yang bisa bersekolah termasuk diriku. Anak - anak yang mempunyai semangat serta keinginan yang kuat untuk bisa merubah takdirnya, masa depan keluarganya.
"Bachtiar Yudistira" ... Panggilan suara yang cukup lantang tersebut sontak saja memecahkan lamunanku. "Silahkan sekarang giliran anda ditunggu untuk memasuki ruangan redaksi" Serunya lagi. Dengan menghela nafas agak dalam, aku pun lalu mencoba bangkit dari tempat dudukku itu. Sebuah bangku tunggu yang cukup panjang dan nampaknya masih menyisakan tiga orang lagi. Beberapa orang yang sedang menunggu tersebut kulihat sama sepertiku tadi, dengan mimik wajah yang sama - sama kosong karena lamunan yang membawa mereka masing - masing entah ke mana! Terkecuali satu orang yang duduk di pojokkan sana, sepertinya ia sedang asyik memainkan handphonenya. Selain memastikan dan merapikan kembali kerah serta kancing kemeja yang kukenakan yang sebenarnya sudah kupastikan kerapiannya lima belas menit yang lalu di restroom, saat ini perasaan juga bagaikan berada di roller coaster. Benar - benar memacu jantungku naik turun.