"Eh, denger-denger nih." Randi membungkuk ke depan di meja kantin, suaranya diturunkan ke level konspirasi internasional, matanya melirik ke kiri dan kanan seperti agen rahasia yang baru ketahuan makan nasi padang. "Tadi pagi Bu Endang, guru BP kita yang baik hati itu, lari dari toilet guru sambil jerit-jerit. Katanya ada yang ketawa cekikikan waktu beliau lagi⦠yah, lagi itu."
Joko, yang sedang asyik meniup-niup kuah bakso mendidih, nyaris menyemprotkan seluruh isinya. "Serius lu, Ran? Jangan-jangan Kuntilanak lagi?"
"Paling juga suara kran bocor." Budi menimpali dengan mulut yang masih penuh gorengan ketiga. "Atau Bu Endang sendiri yang ngigo pas ngaca."
"Ngaco lu, Bud!" Randi mempertegas kacamatanya yang sering melorot. "Ini serius! Pak Slamet kemarin malam juga lihat bayangan putih loncat-loncat di koridor depan laboratorium. Pocong, Jok! Pocong asli, bukan hoax!"
Joko bergidik meski berusaha terlihat cuek. "Ah, Pak Slamet mah hobinya nakut-nakutin. Biar kita nggak kelayapan malam-malam." Ia berkata begitu, tapi bulu kuduknya sudah berdiri sejak nama Pocong disebut.
SMA Negeri Bolokotono, atau EsEmBo, panggilan yang diucapkan para siswanya dengan nada antara sayang dan pasrah, berdiri di pinggiran kota dengan megah yang meragukan. Dindingnya yang konon pernah putih kini sudah retak-retak, memeluk lumut dan jamur seperti memeluk kenangan. Atapnya bocor di musim hujan, menciptakan simfoni tetesan air yang sanggup menyaingi musik latar film horor mana pun. Tapi bukan itu yang membuat EsEmBo terkenal seantero kecamatan.
EsEmBo terkenal karena satu fakta sederhana yang tidak tercantum di brosur pendaftaran mana pun: penghuninya bukan cuma manusia.
Di sinilah Joko, Randi, dan Budi, trio legendaris kelas XI-IPA 2 yang lebih terkenal karena kekonyolan daripada prestasi akademis, menghabiskan hari-hari mereka. Joko, sang pemimpin tak resmi dengan rambut jigrak yang seolah menantang gravitasi setiap pagi, memiliki keberanian yang sayangnya lebih besar di mulut daripada di hati. Randi, kurus dan berkacamata tebal, adalah ensiklopedia berjalan untuk hal-hal tidak berguna, juara teriak tingkat kabupaten setiap kali cicak jatuh dari langit-langit. Sementara Budi, dengan postur subur makmur yang mengesankan, hanya punya satu pertanyaan eksistensial dalam hidupnya: kapan jam istirahat, dan di mana siomay Mang Udin?
Reputasi EsEmBo memang bukan isapan jempol. Hampir setiap sudut sekolah punya cerita seramnya sendiri, seperti episode serial horor yang tidak pernah tamat. Toilet perempuan lantai dua: tempat nongkrong favorit Mbak Kunti, yang konon suka menyanyi saat tengah malam, lagu dangdut kata sebagian orang, tapi tidak ada yang berani memastikan. Gudang olahraga: istana pribadi Genderuwo berbau singkong bakar yang tidak pernah tidak menghilang. Kelas XI-IPA 2 sendiri katanya sering dikunjungi Tuyul yang spesialisasinya mencuri pulpen dan penghapus tepat sebelum ulangan. Dan jangan lupakan Noni Belanda yang kadang terlihat melintas di aula dengan gaun putih dan ekspresi seperti orang yang baru kehilangan sinyal internet.
"Yang penting," ujar Budi setelah menelan gorengan ketiganya, "selama mereka nggak ganggu pasokan siomay Mang Udin, gue pribadi tidak keberatan berbagi gedung."
"Otak lu makanan terus, Bud." Joko mengelus dahi. "Tapi ya bener juga sih. Selama kita nggak cari gara-gara, aman lah."
Kata 'aman', rupanya, tidak dikenal dalam kosakata EsEmBo.
Sore itu, Pak Jatmiko, guru Fisika dengan reputasi sehebat hantu-hantu EsEmBo sendiri, memberikan mereka tugas tambahan: merapikan alat di laboratorium yang sudah berbulan-bulan tidak tersentuh. Laboratorium Fisika terletak di ujung koridor paling sepi, bersebelahan langsung dengan gudang olahraga sang Genderuwo. Sialnya, lampu koridor menuju ke sana mati satu, menciptakan remang-remang yang tidak romantis sama sekali.
"Kenapa harus kita, sih?" Randi menyeret-nyeret langkahnya. "Udah mau Maghrib ini, Jok."
"Protes aja langsung sama Pak Jatmiko, Ran." Joko berusaha terdengar seperti pemimpin yang tabah. "Lumayan, nambah nilai. Nutupin nilai ulangan kemarin yang anjlok kayak harga kripto."
Budi hanya menghela napas sambil melirik ke kanan-kiri, berharap ada pedagang makanan yang nyasar ke koridor ini.
Pintu laboratorium berderit seperti efek suara dari aplikasi horor murahan ketika Joko mendorongnya. Aroma kamper bercampur debu menyergap mereka. Ruangan itu luas, dengan meja-meja panjang dan alat-alat tertutup kain putih yang tampak seperti sosok-sosok membeku. Cahaya senja masuk dari jendela besar, memanjangkan bayangan-bayangan yang bergerak-gerak mengikuti angin.