Randi ambruk ke lantai dengan anggun seorang aktris drama Korea yang baru menerima kabar buruk. Joko dan Budi tidak sempat memikirkan dramaturgi itu; mereka terlalu sibuk memproses kenyataan bahwa tiga makhluk berbeda sedang mengepung mereka dari tiga arah berbeda.
Pocong melompat-lompat semakin dekat. Kain kafannya berkibar seperti bendera negara yang namanya tidak bisa diucapkan. Dari arah laboratorium, hentakan semakin keras—Kuntilanak rupanya tidak terima ditinggal lari begitu saja. Dan Genderuwo di ujung koridor itu berdiri tegak seperti tembok hidup yang sangat tidak ramah.
"BUD! ANGKAT RANDI!" Joko berteriak sambil menarik lengan Randi yang lemas.
Budi, yang biasanya bergerak dengan kecepatan seseorang yang sedang menunggu antrian somay, mendadak punya kecepatan yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Ia membungkuk, menyampirkan Randi di bahunya seperti karung. "BERAT BANGET JOK! INI KAYAK BAWA KULKAS!"
"NGGAK USAH DIKOMENTARIN, JALAN!"
Joko melihat sekeliling dalam sepersekian detik: satu-satunya celah adalah pintu toilet laki-laki yang sedikit terbuka, memancarkan bau pesing yang dalam konteks ini terasa sangat, sangat mengundang.
"TOILET! CEPAT!"
Mereka bergerak. Budi dengan Randi di bahunya, Joko mendorong dari belakang sambil menjaga jangan sampai Pocong sempat menyentuh mereka. Tiga langkah, lima langkah, tujuh langkah—mereka terjun masuk ke toilet, dan Joko langsung meraih gerendel berkarat itu dengan tangan gemetar.
KLIK.
Di luar, suara lompatan Pocong terdengar makin dekat lalu… melewati pintu. Langkah berat Genderuwo bergema di koridor. Tawa Kuntilanak melayang-layang di langit-langit seperti nyamuk yang tidak bisa dibasmi.
Mereka berdesakan di bilik paling pojok. Tiga orang—dua setengah jika dihitung Randi yang masih pingsan—di dalam kotak dua meter persegi yang berbau campuran lysol dan takdir.
"Dia tahu kita di sini nggak, Jok?" bisik Budi. Pipinya bergetar, dan kali ini bukan karena mengunyah.
"Sssttt." Joko menempelkan telinga ke pintu bilik. Detak jantungnya sendiri lebih keras dari suara luar.
Randi mulai mengerjap-ngerjap. "Hah… di mana ini? Kok bau terasi gosong—"
Dua tangan sekaligus mengebekap mulutnya.
"Toilet. Randi pingsan. Bocor total." Joko berbisik tepat di telinga Randi. "Sekarang diam atau kita mati beneran."