Misteri Bolokotono: Tiga Demit vs Tiga Murid Plenger

Gun Kuntara Adhiarta
Chapter #4

Bab 4: Pura-Pura Normal di Depan Pak Jatmiko

Pagi setelah insiden lemari, EsEmBo menyambut tiga remaja kurang tidur dengan keceriaan yang sangat tidak sinkron dengan kondisi mental mereka. Matahari bersinar cerah, burung berkicau di pohon beringin keramat, dan bel masuk berbunyi dengan nada yang sama riangnya seperti hari-hari biasa—seolah dunia tidak tahu bahwa tiga siswa kelas XI-IPA 2 baru saja semalaman berpelukan ketakutan di kamar salah satu dari mereka.

"Lo kelihatan kayak zombie, Jok," Budi berkomentar di gerbang sekolah, mengamati lingkaran hitam di bawah mata Joko yang cukup gelap untuk dijadikan eyeliner gratis. "Tapi zombie yang lebih pucat dari biasanya."

"Lo juga nggak kelihatan segar-segar amat, Bud."

"Gue kan emang nggak pernah segar pagi-pagi. Itu bukan trauma, itu kepribadian."

Randi, yang berjalan di antara mereka dengan langkah seperti tentara yang baru pulang dari medan perang, menggumamkan sesuatu tentang "harus tetap normal, jangan kasih kecurigaan ke guru" sebelum mereka memasuki gerbang dan langsung berpapasan dengan Pak Jatmiko, yang berjalan dari arah ruang guru dengan map di tangan dan ekspresi datar khas guru Fisika yang sudah lelah dengan dunia.

"Pagi, Pak!" Joko menyapa dengan suara yang ia harap terdengar normal, tapi yang keluar justru terdengar seperti orang yang baru menelan baterai.

Pak Jatmiko berhenti, menatap tiga muridnya dengan tatapan yang membuat ketiganya secara refleks berdiri lebih tegak, seperti murid SD yang baru ketahuan bawa komik ke kelas.

"Kalian kenapa?" tanya Pak Jatmiko, suaranya datar tapi matanya menyipit penuh curiga. "Kelihatan kayak abis lihat hantu."

Keheningan yang berlangsung sepersekian detik tapi terasa seperti satu abad penuh menyelimuti tiga remaja itu.

"NGGAK, PAK!" mereka menjawab bersamaan, dengan volume dan kekompakan yang—ironisnya—justru membuat jawaban itu terdengar seratus persen mencurigakan.

Pak Jatmiko mengangkat satu alis. "Oke," katanya, dengan nada yang menyiratkan ia tidak percaya sama sekali tapi juga tidak punya energi untuk menyelidiki lebih jauh jam segini. "Jangan lupa, hari ini ada kuis dadakan soal Hukum Newton."

Tiga remaja itu membeku untuk alasan yang sama sekali berbeda dari alasan mereka membeku semalam.

"KUIS DADAKAN?!" Randi memekik, lupa sepenuhnya soal hantu untuk sesaat, tergantikan oleh kepanikan yang jauh lebih akademis dan, dalam beberapa hal, lebih menakutkan.

"Sudah saya umumkan minggu lalu, Randi."

"Saya kira itu cuma gertakan, Pak!"

"Hukum Newton bukan gertakan." Pak Jatmiko berjalan pergi dengan langkah yang sama datarnya seperti nada bicaranya, meninggalkan tiga siswa yang kini terbelah perhatiannya antara teror supranatural dan teror akademis—dua jenis ketakutan yang, anehnya, sama-sama valid di EsEmBo.

Lihat selengkapnya