Misteri Bolokotono: Tiga Demit vs Tiga Murid Plenger

Gun Kuntara Adhiarta
Chapter #5

Bab 5: Riset Klenik dan Wejangan Pak Slamet

Keesokan harinya, EsEmBo terasa tegang dengan cara yang berbeda dari biasanya. Biasanya tegangnya karena ulangan mendadak atau Pak Jatmiko lagi bad mood. Kali ini tegangnya karena kabar-kabar yang menyebar dengan kecepatan gosip artis: ada kesurupan massal di aula setelah pelajaran olahraga—tujuh siswa kelas X sekaligus, yang menurut saksi mata berbicara dalam bahasa yang tidak dikenal. Dan papan tulis kelas XII-IPA 1 pagi tadi ditemukan penuh tulisan aksara Jawa kuno, padahal kemarin malam kelas itu terkunci.

"Gawat," bisik Randi saat mereka berkumpul di pojok kantin jam istirahat pertama. Wajahnya pias. Ia mendorong ponselnya ke tengah meja. "Gue riset semalem. Sampai jam dua pagi. Dan hasilnya bikin gue nggak bisa tidur—yang sebenernya sudah dipastikan sama kejadian di rumah Joko."

"Temuan lu apa?" tanya Joko.

"Pertama: kalau gangguan makin sering dan makin masif dalam waktu singkat, itu tanda ada 'sesuatu' yang baru diusik, atau…" Randi berhenti sebentar untuk efek dramatis. "…ada portal yang kebuka."

"Portal macam Stargate?" Joko mengerutkan kening.

"Bukan Stargate, Jok. Ini serius." Randi menggulir layar. "Kedua: gue nemu satu forum Kaskus lama—posting tahun 2009, sudah jarang yang akses—yang nyebutin soal 'ruang bawah tanah tersegel' di bawah EsEmBo. Katanya disegel karena terlalu angker waktu renovasi tahun delapan puluhan. Tapi tidak ada konfirmasi lebih lanjut."

Joko mengerutkan kening lebih dalam. "Ruang bawah tanah? Gue nggak pernah dengar soal itu."

"Kebanyakan orang nggak tahu." Randi menutup ponselnya. "Tapi kalau itu ada, dan kalau ada sesuatu di dalamnya yang terusik…"

"Komentar di forum itu ada yang lain?" Joko bertanya, sudah belajar untuk tidak meremehkan riset Randi meski sumbernya forum internet jadul.

"Ada satu yang menarik," Randi bilang, membuka lagi ponselnya. "Username-nya 'anak_eksemBO_98'. Katanya kakeknya dulu ikut proyek renovasi tahun delapan puluhan, dan kakeknya cerita ada pekerja yang hilang selama renovasi—ditemukan lagi tiga hari kemudian, tapi udah nggak bisa cerita apa-apa soal apa yang terjadi. Cuma bisa nyebut satu kata berulang-ulang."

"Kata apa?" Budi bertanya, untuk sekali ini benar-benar berhenti mengunyah.

"'Topeng,'" Randi bilang, suaranya merendah. "Cuma itu. 'Topeng, topeng, topeng.' Sampai akhirnya dia dipindahin ke rumah sakit jiwa dan nggak pernah sembuh total."

Keheningan menyelimuti meja mereka, hanya diisi suara kantin yang ramai di sekitar mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa tiga siswa di pojok sedang membahas sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada nilai ulangan.

Budi, yang sedang mengunyah roti cokelat-keju-ekstra dengan penuh konsentrasi, tiba-tiba ikut nimbrung. "Intinya, kita harus ketemu Pak Slamet."

Lihat selengkapnya