Mereka bertiga berjalan kembali ke kantin dalam diam. Lalu Joko berhenti.
"Malam Jumat," katanya. "Kita masuk."
Randi menutup matanya sebentar. "Gue sudah tahu lu bakal bilang itu."
"Logistik?" tanya Joko ke Budi.
Budi menepuk tasnya yang menggembung seperti seorang pramuka yang sangat siap. "Senter terang dari ayah lu yang pinjam kemarin. Kamera HP gue buat dokumentasi. Biskuit, cokelat batangan, air mineral, permen jahe—anti mual—dan…" ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Singkong goreng sisa semalem. Siapa tahu Genderuwonya mau nostalgia."
"Bud," kata Joko sabar, "ini misi menyelamatkan sekolah, bukan piknik."
"Misi apapun butuh perbekalan, Komandan." Budi merogoh lagi tasnya. "Oh, dan ini—" ia mengeluarkan sebuah cermin saku kecil bergambar kartun kucing, jelas-jelas milik adiknya yang masih SD, "—buat yang berkilau-kilau itu, sesuai pesan Pak Slamet."
Joko menatap cermin bergambar kucing itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—antara terharu dan ingin tertawa. "Bud, ini... ini sebenarnya cukup pintar."
"Gue kadang pintar kalau ada insentif yang tepat, Jok."
"Insentif apa?"
"Lo bilang misi ini selesai, kita rayain di warung sate Pak Karso."
Joko tidak bisa membantah logika itu.
Malam Jumat pukul delapan malam, tiga bayangan memanjat tembok belakang EsEmBo dengan teknik yang sudah terasah oleh puluhan sesi terlambat. Budi hampir gagal di momen kritis—tubuhnya tersangkut di puncak tembok selama tiga detik yang terasa seperti tiga jam—sebelum tarikan Joko dan dorongan Randi berhasil mendaratkannya di dalam dengan bunyi gubrak yang cukup keras untuk membangunkan seekor ayam, tapi tidak cukup untuk membangunkan penjaga malam yang tidur nyenyak di pos.