Misteri Bolokotono: Tiga Demit vs Tiga Murid Plenger

Gun Kuntara Adhiarta
Chapter #7

Bab 7: Dinding yang Berbisik

Dua pilihan buruk itu tergantung di depan mereka seperti dua ujung pisau yang sama tajamnya.

Di depan: lubang gelap dengan mata-mata merah yang diam menunggu, sabar, seperti sesuatu yang sudah menunggu lama dan tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama lagi.

Di belakang: Kuntilanak yang langkah kakinya sudah terdengar di ambang pintu, diikuti aroma melati yang kini terasa seperti bau kematian yang wangi.

"Kita nggak bisa ke mana-mana, Jok," bisik Randi, tubuhnya sudah merapat ke dinding.

"Lemari!" Budi tiba-tiba berbisik keras, matanya berbinar seperti orang yang baru menemukan solusi. "Dorong lagi lemarinya buat nutupin pintu masuk!"

Tidak ada waktu untuk mengevaluasi rencana itu. Joko dan Budi langsung bergerak, mendorong lemari arsip besi yang tadi mereka singkirkan kembali ke posisi semula—menutupi pintu masuk gudang arsip. Terdengar suara frustrasi dari balik lemari, diikuti cakaran kuku panjang di permukaan besi yang memiliki frekuensi yang tidak nyaman didengar.

Tapi lemari itu menahan.

"Sekarang gimana?" Randi menatap lubang gelap di lantai. Mata-mata merah itu masih ada. Masih sabar.

Joko menyorotkan senter ke dalam lubang sedetik lebih lama. Ada sesuatu yang tidak ia ceritakan: begitu senternya menyorot ke bawah, mata-mata merah itu tidak bergerak maju. Mereka mundur.

"Pak Slamet bilang ruang ini disegel," kata Joko pelan. "Mungkin yang di bawah itu nggak bisa keluar. Cuma bisa mengintip."

"Mungkin," ulang Randi dengan penekanan yang sangat skeptis.

"Kita nggak punya pilihan, Ran." Joko menatap pintu di belakang yang mulai bergemuruh. Kuntilanak tidak sabar. "Turun."

Kaki Joko menyentuh anak tangga pertama. Kayu itu berderit seperti peringatan. Tapi ia turun. Randi di belakangnya, gemetar tapi tidak kabur. Budi paling belakang, menenteng tas perbekalannya dengan ekspresi seseorang yang masih berharap ini mimpi.

Satu hal yang aneh: semakin mereka turun, mata-mata merah itu semakin mundur, menghilang ke kedalaman yang lebih gelap. Seperti sesuatu yang mengundang, bukan mengancam.

Ruang bawah tanah itu tidak besar—sekitar enam kali delapan meter—tapi penuh dengan keheningan yang punya berat sendiri. Lantainya tanah padat dan dingin. Dinding-dindingnya batu tua yang berkeringat embun. Di setiap sudut, peti-peti kayu berdebu dan perabotan rusak menyimpan cerita yang tidak tertulis di mana-mana.

"Gudang harta karun yang gagal," komentar Budi, matanya melirik ke kanan-kiri dengan ekspresi surveyor profesional.

"FOKUS, BUD."

Lihat selengkapnya