Misteri Bolokotono: Tiga Demit vs Tiga Murid Plenger

Gun Kuntara Adhiarta
Chapter #8

Bab 8: Topeng yang Tidak Seharusnya Disentuh

BRAKK!

Hantaman keempat linggis membobol lubang pertama. Debu semen mengepul, memaksa Joko menutup mulut dengan lengan bajunya. Dari lubang itu mengalir aura dingin yang berbeda dari sekadar angin malam—ini dingin yang punya berat, punya niat, punya usia yang lebih tua dari gedung sekolah ini sendiri.

Di belakang mereka, Genderuwo sudah sampai di dasar tangga. Bayangan raksasanya memenuhi seluruh pintu masuk ruang bawah tanah. Di sebelahnya, melayang dengan tenang yang lebih menakutkan dari amarah, Kuntilanak memegang ujung kain kafannya sendiri sambil memperhatikan Joko bekerja—seolah sedang menonton pertandingan dan belum memutuskan mau mendukung siapa.

"CEPETAN JOK!" Randi berteriak dari belakangnya, suaranya campur aduk antara takut dan marah dan dorongan adrenalin yang tidak pernah ia rasakan sebelum malam ini.

Joko menghantam lagi. Dan lagi. Semen itu runtuh dalam potongan-potongan besar, menyingkap kegelapan di baliknya—dan kemudian, dari kegelapan itu, perlahan muncul sesosok perempuan.

Gadis muda. Gaun putih khas Eropa abad lampau. Wajah pucat seperti porselen. Rambut pirang yang sudah kehilangan kilaunya selama ratusan tahun. Matanya—matanya biru abu-abu, dan di dalamnya ada kelelahan yang tidak bisa diukur.

"Terima kasih," bisiknya, dan suaranya terdengar seperti suara seseorang yang baru saja menghirup udara segar setelah sangat lama tidak bisa.

Lisette van der Rijn.

Tapi keharuan itu berlangsung singkat.

Dari belakang Lisette, dari kegelapan yang lebih pekat di dalam ruangan yang terbuka, melayang keluar sebuah benda. Topeng kayu berukir—wajah yang tidak bisa diidentifikasi sebagai manusia atau binatang, dengan mata dari batu obsidian yang memantulkan cahaya senter menjadi sesuatu yang tidak seharusnya. Topeng itu melayang setinggi kepala, berputar perlahan, dikelilingi kabut hitam tipis yang tidak terpengaruh gravitasi.

Lihat selengkapnya