Topeng itu melesat lagi, mengincar Budi kali ini, seolah bisa merasakan ancaman dari benda kecil di tangannya. Budi mengangkat cermin kucing itu dengan tangan gemetar, memantulkan cahaya senter Joko tepat ke permukaan topeng.
Topeng itu tersentak di udara, seperti tersengat listrik, lalu melengking dengan suara yang membuat semua orang di ruangan menutup telinga—suara yang tidak seharusnya bisa dihasilkan oleh kayu mati.
"ITU BERHASIL!" Randi berteriak, mata masih terpaku ke buku harian. "Tapi cerminnya kekecilan, Bud, efeknya cuma sebentar!"
"Lisette! Kita butuh cermin yang lebih besar!" Joko berteriak, masih bergerak menghindari topeng yang kini berputar dengan kemarahan yang lebih besar dari sebelumnya.
"Peti besar di pojok," Lisette menjawab cepat, mengarahkan tangan transparannya ke arah peti kayu tua yang hampir tidak terlihat di balik bayangan. "Cermin rias ibuku. Bingkai perak."
Budi sudah bergerak sebelum instruksi selesai. Ia membuka peti itu dengan cara yang tidak akan dipuji oleh siapapun yang peduli dengan pelestarian barang antik—dan dari balik kain sutra yang sudah lapuk, ia mengangkat sebuah cermin tangan berbingkai perak yang masih memantulkan cahaya senter dengan sempurna.
"SIAP!" teriak Budi.
Topeng itu melesat lagi. Joko melompat ke kanan. Topeng itu berputar, mengincar Randi yang sedang membaca.
"BUDI, PANTULKAN!"
Budi mengangkat cermin, menangkap cahaya senter Randi dan memantulkannya tepat ke muka topeng itu.
Sesuatu terjadi.
Topeng itu berhenti di udara. Bergetar. Kabut hitam di sekelilingnya mulai bergulung ke dalam dirinya sendiri, seperti asap yang dihisap kembali.
"TERUS BUDI! RANDI BACA! JANGAN BERHENTI!"