Keesokan harinya, SMA Bolokotono terasa berbeda.
Masih tua. Masih berdinding lumut. Masih atapnya bocor di dua titik yang sama. Tapi ada sesuatu yang berubah di udara sekolah itu—seperti tekanan yang selama ini tidak kamu sadari ada, tiba-tiba menghilang, dan kamu baru tahu ia ada justru setelah ia pergi.
Tidak ada kesurupan. Tidak ada tulisan aneh di papan tulis. Bu Endang masuk toilet guru dan keluar dengan wajah normal. Pak Slamet menyapu halaman dengan langkah yang lebih ringan dari yang pernah ia tampilkan selama dua puluh tahun.
Dan di kantin, saat makan siang, Randi bertanya: "Menurut kalian, mereka semua udah pergi beneran?"
"Mungkin nggak semua," kata Joko, menatap langit-langit kantin. "Ini tetap EsEmBo, Ran. Tapi yang marah-marah itu? Gue rasa udah beres."
Budi menambahkan dengan mulut penuh nasi, "Kayak orang stres yang akhirnya dikasih cuti. Mereka butuh istirahat, kita butuh sekolah yang nggak mencekam. Semua dapat apa yang mereka mau."
Randi memandang dua temannya. Dua orang yang dua minggu lalu ia anggap teman biasa kelas XI yang masalah terbesarnya adalah nilai Fisika. Sekarang mereka sudah membobol ruang bawah tanah bersejarah, berhadapan dengan entitas purba, dan menyelamatkan sekolah dari teror yang tidak satu pun guru mereka tahu sedang terjadi.