Misteri Desa Palak Hulu

Luz Picillya
Chapter #1

Kembali ke Dusun

Hfffhh balek dusun lagi!"

Grace melangkah lesu sambil menyeret koper besar nya masuk ke gapura desa. Dusun Palak Hulu, desa kelahiran yang selama ini dia tinggalkan untuk memilih merantau merintis usaha yang ternyata harus gagal dan dia tinggal pulang

Suasana desa masih sama! Rumah rumah panggung khas Lahat Pagaralam yang berjejer rapi, di halaman banyak jemuran kopi menandakan sedang musim panen kopi saat ini

" Pantes sepi ternyata lagi musim mutigh kawe(metik kopi)" gumam Grace sepanjang jalan melewati gang kecil pelataran rumah rumah tetangganya

" Intan!"

Grace mendengus kesal, mati matian dia menghilangkan nama Intan, nama masa kecil yang menurutnya sangat tak hoki itu! Tapi begitu balik dusun langsung di sambut dengan panggilan nama itu lagi. Kesal, pengen protes tapi tidak bisa dia lakukan. Emang dasar bocah plenger si Grace alias Intan ini! Bisa bisanya dia merubah namanya sok ke bule bulean

Sambil memutar badan malas, Grace menoleh kearah gadis cantik yang barusan memanggil nya

"Ntan, astaga beneran kamu, akhirnya balek juga kaba ke dusun" dia Anisa anak kepala Dusun Palak Hulu yang dijuluki si kembang desa. Memang sangat cantik. Hidungnya bangir mirip prosotan di playgroup, alisnya tebal rapi, matanya lentik indah dan kulitnya putih bersih. Anisa tersenyum lebar sembari menghampiri Grace yang masih berdiri tak bergeming

Nampak kerinduan terpancar dari mata indah itu, wajahnya begitu sumringah menyambut kedatangan sahabatnya yang telah lama tak bersua

" Ehh Intan rupanya! Aiss caknye dem jadi gadis kota, cacam balek dusun la bawa koper pule( Intan, Wah udah jadi gadis kota rupanya, balek dusun bawa koper segala sekarang)" logat ketal jeme dusun kembali terdengar ditelinga Grace. Muis dengan medhok nya mengejek sahabatnya yang berdandan ala ala remaja ibu kota

Grace mendecak kesal, mengedungkan alisnya menarik bibir bawahnya sedikit, selain lelah setelah perjalanan panjang, dia juga lumayan badmood gegara gak bisa menghilangkan nama Intan yang sudah terlanjur melekat pada dirinya di dusub

" Aku ke rumah dulu ya. Nanti kita sambung lagi kalau aku udah istirahat" Grace buru buru pamitan, energi dan tenaga nya belum cukup kuat untuk bercerita banyak kali ini

" Aiss belagu nian kaba ni, dem dek galak lagi ngomong base dusun! Ngape? Malu di anggap kampungan! ( Ah banyak gaya kamu ini, udah gak mau lagi ngomong pakai bahasa dusun! Kenapa? Malu dianggap kampungan)" protes Muis nyinyir. Di dusun memang sedikit sensitif kalau ada warga lokal yang enggan menggunakan bahasa dusun ketika balik ke dusun

" Muis please! aku baru sampai dan kamu udah ngajak berdebat? Astaga.. tenaga ku udah abis buat perjalanan pulang Muis!" sungut Grace kesal, mood nya makin berantakan, seakan beban gegagalan yang membelenggu nya membuatnya malas berbasa basi dengan siapapun saat ini

" Sorry Ntan, kita terlalu senang ngliat kamu pulang, kamu udah lama banget kan gak balek dusun" Anisa menyela dengan suara lembut dan senyuman hangat. Dia cukup paham kalau sahabatnya ini kelelahan dan mungkin sedikit sentimen untuk menanggapi celetukan Muis yang garing itu. Untungnya juga Muis buka tipe orang yang gampang tersinggung, jadi ya dia santai aja nanggepin sikap Grace

" Maaf Nis, aku.. aku ngantuk makanya tada emosian" sedikit menyesal karena sudah bersikap dingin ke Muis, Grace meminta maaf tulus

Lihat selengkapnya