Blurb
Sukabumi, 1926.
Di balik ketenangan Perkebunan Goalpara, Administrateur Herman van Persie berencana menjalankan bisnis gelap internasional.
Ia memanfaatkan keahlian sainsnya dalam menciptakan formula morfin yang akan disemprotkan pada daun teh untuk pasar gelap Eropa.
Efek zat maut pada eksperimen ini mampu mendongkrak stamina kuli pikul secara signifikan sekaligus membuat otot mereka mati rasa terhadap perih dan lelah.
Eksperimen pertama dan kedua sukses, produksi teh morfin selanjutnya dikirim tanpa kendala.
Namun, kalangan pecandu elit Eropa meminta dosis lebih tinggi untuk pengiriman berikutnya.
sebelum memproduksi teh morfin dosis tinggi dalam jumlah besar,
Herman van Persie melakukan eksperimen ketiga terlebih dahulu. Sayangnya uji coba ketiga itu menewaskan seorang kuli pikul.
Demi menutupi kejadian sebenarnya, dirancanglah sebuah konspirasi untuk menghindari tuduhan pada pihak perkebunan.
Konspirasi ini berjalan rapi dan terkunci aman di bawah vonis palsu serangan jantung, untuk sebuah kematian tragis karena overdosis.
Semua orang memilih pasrah pada takdir—Kecuali Cecep.
Di mata para pembesar Belanda, juru tulis ini hanyalah pemuda lugu dan bodoh.
Namun mereka buta, bahwa di balik topeng keluguan Cecep, tersimpan kecerdasan dan kejelian.
Berbekal sejumput daun teh morfin dosis tinggi yang didapatkannya dari mandor pabrik, Cecep dengan taktis menyelipkan amplop kecil berisi teh morfin dan secarik memo ke dalam buku Catatan Timbangan Tahunan yang akan diperiksa Tim Auditor dari Dinas Pajak/Bea Cukai Batavia.
Berdasarkan memo dan sampel barang bukti itu, tim auditor bergerak cepat menguji sampel teh di RS militer, selanjutnya menghubungi pihak Kepolisian Kolonial Sukabumi—bersiap untuk menggagalkan penyelundupan narkotika tersebut.