Sukaraja, Sukabumi 1926.
Kabut pagi di lereng Gunung Gede masih menggantung rendah, seperti enggan beranjak. Angin pegunungan berembus membawa rasa dingin yang menggigilkan, menembus sela-sela bilik bambu di Kampung Limbangan.
Di bawah rembang fajar, bayangan seorang gadis bergerak lincah menyusuri jalan setapak. Di punggungnya, sebuah junak—keranjang teh yang dirancang khusus dengan tali pengikat agar bisa digendong di punggung—bergoyang pelan mengikuti langkah kakinya yang telanjang.
Itu Endah. Di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun, tubuhnya sudah memperlihatkan bentuk ideal yang diidamkan semua wanita.
Anatominya proporsional, membentuk lekukan indah, buah dari jam-jam panjang yang ia habiskan di atas panggung sebagai penari ronggeng.
Namun subuh ini, tak ada selendang sutra atau bedak pupur di wajahnya yang elok. Hanya ada kebaya blacu hitam yang membungkus tubuh, serta kain jarit yang dililit tinggi hingga sebatas betis.
Endah berhenti di depan sebuah rumah panggung yang kolongnya masih dipenuhi ayam yang berkotek pelan.
Ia mengetuk tiang kayu rumah itu."Imaaas! Geleber subuh, Mas! Keburu lonceng sinder bunyi!" seru Endah setengah berbisik, takut membangunkan tetangga lain.
Pintu terbuka. Imas muncul sambil mengencangkan ikatan beubeur, stagen tenun di pinggangnya. Wajahnya masih sembap karena kantuk. "Aduh, Gusti… dingin sekali!" keluh Imas, giginya gemeretuk saat menuruni tangga rumah panggung.
Di samping rumah, ia meraih junak yang tergantung pada tiang, menyampirkan talinya ke bahu, lalu mengambil dudukuy cetok di bilik teras.
Angin Goalpara berembus kencang. Dengan cekatan, Imas melilitkan kain coklat ke dahi, menariknya erat ke belakang leher hingga menutupi seluruh rambut dan telinganya. Setelah turub sirah itu membungkus kepalanya, ia memakai dudukuy cetok, capingnya.
Sambil menoleh pada Endah, Imas bertanya serius, "Kamu apa tidak capai? Semalam baru pulang meronggeng di Cisarua, kan?"
Endah tertawa pelan, melangkah mendampingi sahabatnya menembus jalan setapak yang di sisi kanan-kirinya banyak terdapat pohon singkong.
"Kalau aku tidur terus, perut keluargaku tidak bisa kenyang hanya dengan mencium bau asap dapur tetangga, Imas."
"Tapi wajahmu tetap saja bersih, tidak kusam seperti aku," goda Imas, melirik pipi Endah yang merona alami karena dingin. "Kalau Mandor Danu melihatmu, pasti blok petik kita dipindahkan ke area yang dekat peneduh."
Wajah Endah mendadak berubah masam. "Jangan sebut nama mandor jahanam itu. Matanya seperti lalat hijau, menjijikkan. Ayo cepat, jalanmu seperti balakecot saja."
Mereka mempercepat langkah. Di ujung jalan setapak, rombongan dari kampung lainnya sudah bergabung. Semuanya berjalan tanpa alas kaki, menggendong keranjang, membentuk barisan siluet hitam yang membelah kabut subuh menuju batas tanah onderneming—perkebunan teh Goalpara.
TENG...! TENG...! TENG..!
Suara hantaman besi laras lonceng perkebunan menggema dari kejauhan, memutus sunyinya pegunungan. Itu adalah tanda mutlak. Waktu alam telah habis, kini waktu mereka sepenuhnya milik perusahaan Belanda.
Begitu melewati gerbang perbatasan yang dijaga, langkah kaki puluhan buruh perempuan itu berubah teratur dan bergegas.
Di sebuah lapangan tanah luas di dekat pos pengawasan, ratusan buruh dari kampung lain dan kuli-kuli kontrak dari barak sudah berkumpul. Suasana yang tadinya riuh oleh bisikan bahasa Sunda mendadak senyap seketika. Mereka berbaris rapi membentuk barisan-barisan panjang untuk melakukan apel pagi.
Di depan barisan, berdiri Mandor Besar Danu dengan celana pangsi hitam dan tongkat kayu di tangan. Di sampingnya, berdiri seorang sinder kebun yang menguasai Afdeling A, wilayah petak teh bagian barat Goalpara—Tuan Maarten—yang mengenakan pakaian putih bersih, topi pet tropis, dan sepatu bot kulit yang mengilap, kontras dengan kaki-kaki kotor berlumur tanah milik para buruh.
"Dengar semua!" suara Mandor Danu menggelegar, memecah kabut yang mulai menipis. "Hari ini Tuan Sinder minta pucuk terbaik! Kualitas pekoe! Jangan ada daun tua yang masuk keranjang! Siapa yang malas, potong upah, atau kalian silakan berurusan dengan hukum Tuan Sinder!"
Imas menyenggol lengan Endah dengan gemetar saat Mandor Danu mulai berjalan memeriksa barisan, memanggil nama satu per satu dari buku catatan besar di tangannya. Saat mata sang mandor tertuju pada baris tempat Endah berdiri, langkah pria itu melambat, menyunggingkan senyum tipis yang membuat bulu kuduk Endah meremang.
Gadis itu hanya bisa menunduk dalam-dalam, meremas pinggiran caping bambunya, berdoa agar hari ini ia bisa luput dari marabahaya di tengah hamparan hijau kebun teh Goalpara.
Creep! Ujung tongkat kayu Mandor Danu sengaja dihantamkan ke tanah, nyaris mengenai jemari kaki telanjang Endah. Tanah lempung yang basah mencuat, mengotori kain kebayanya. Endah tersentak, namun tetap memaksa matanya menatap tanah.
"Heh, ronggeng kampung," suara Mandor Danu terdengar berat, serak oleh asap rokok kawung. Meski fasih berbahasa Sunda, logat Jawanya yang kental terasa asing dan mengancam di telinga para buruh Sunda.
“Maneh jangan cuma pintar goyang pinggul kalau malam. Hari ini, jatah petikanmu saya naikkan jadi dua puluh lima kati."
Imas yang berdiri di sebelah Endah langsung menoleh, melupakan larangan untuk tidak bersuara. "Tapi Mandor, jatah biasa dua puluh kati saja sudah bikin jemari kami kaku. Mana bisa ditambah lima kati lagi?"
"Siapa yang suruh maneh ngagogog, hah?!" bentak Mandor Danu, matanya melotot ke arah Imas. "Kurang ajar ini kuli kampung! Jatah maneh juga naik jadi dua puluh lima kati! Kalau tidak suka dengan aturan saya, silakan pulang! Tidak usah bawa kupon beras untuk keluarga maneh!"
Di barisan belakang, Ceu Romlah bergeser satu jengkel, lalu berbisik lirih pada buruh di sebelahnya, "Mana ada aturan kebun menaikkan target sepihak begitu? Si Danu sengaja mencari-cari perkara karena Endah menolak diajak jalan Minggu tempo hari, dia panas melihat Endah malah memilih kabogohnya yang cuma kuli panggul.”
Endah segera menyenggol lengan Imas, mengisyaratkan sahabatnya itu untuk diam. Sambil mengatur napasnya yang memburu, Endah memberanikan diri mengangkat sedikit wajahnya, menatap lurus ke arah kancing kemeja Mandor Danu.