Bagi Pieter Deventer, sang kepala pabrik, pegawai pribumi yang ideal adalah mereka yang bekerja seperti mesin: patuh, bisu, dan bermata kosong. Namun, pemuda berusia dua puluh satu tahun yang duduk di balik meja kantor administrasi Goalpara sore itu adalah pengecualian yang membuat kepalanya sering berdenyut jengkel.
Cecep Supriatna namanya. Juru tulis (schrijver) baru itu berasal dari Desa Cireunghas, sebelah tenggara perkebunan sejauh 14 kilometer. Cecep direkrut dari pemuda berpendidikan lokal untuk menjadi laagste administratieve kracht—penghubung tingkat paling bawah—antara sinder Belanda dengan kuli harian kampung.
Statusnya sebagai orang luar kampung inti membuat kehadirannya di Goalpara kerap dipandang sebelah mata, baik oleh kuli harian maupun oleh para mandor.
Sore itu, jadwal keberangkatan kereta kargo di Stasiun Sukabumi sudah di ambang batas. Keadaan darurat tersebut membuat Pieter Deventer kehilangan kesabaran hingga sudi melangkah keluar dari ruang kantornya demi mendatangi meja juru tulis pribumi tersebut secara langsung.
"Cecep…! Di mana catatan manifes pabrik minggu lalu?" suara lengkingan Sinder Deventer memecah keheningan kantor. Cecep yang sedang di fase microsleep tersentak dari kursinya, kaget bukan kepalang. Tangannya yang kurus namun lincah mendadak menyenggol sebuah wadah kayu tempat meramu sirih di sudut meja.
Dua butir biji pinang menggelinding ke lantai, disusul selembar daun sirih yang melayang jatuh tepat di atas sepatu bot mengilap milik sang sinder yang baru saja melangkah masuk.
"Dimana ya…? Aduh, Tuan Sinder... mohon beribu ampun," ujar Cecep dengan bola mata berputar. Ia segera membungkuk dalam-dalam, mencoba memungut daun sirih tersebut dengan gerakan canggung yang justru membuat badannya nyaris tersungkur. Kacamatnya melorot sampai ke mulut, tapi buru-buru ditahan dengan ujung bibir atasnya.
Deventer menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang kemerahan. "Singkirkan sampah dedaunan itu dari hadapanku, Cecep! Mulutmu sudah merah seperti habis memakan darah orang. Jawab pertanyaanku, di mana berkasnya?!"
"Oh, berkas... iya, berkas Tuan Sinder," Cecep menegakkan tubuhnya kembali. Ia meraba-raba saku kemeja, lalu berpindah mengobrak-abrik tumpukan kertas di mejanya hingga beberapa lembar formulir kosong terbang ditiup angin jendela.
Tindakan konyol itu membuat Deventer menggeram kesal. Namun, tepat sebelum sang sinder mengangkat tongkatnya untuk menggebrak meja, tangan Cecep dengan gerakan yang luar biasa presisi menarik secarik kertas tebal dari sela-sela buku besar yang paling bawah.
"Ini dia, Tuan Sinder. Tidak hilang, hanya sedang bersembunyi di bawah angka-angka," ucap Cecep, menyodorkan kertas tersebut dengan kedua tangannya seraya membungkuk hormat.
Sang sinder menyambar kertas itu dengan jengkel. Di bawah tekanan tenggat waktu kereta kargo, ia bersiap memeriksa setiap baris angka dengan cemas, khawatir pemuda baru ini melakukan kesalahan yang bisa memicu kemarahan Tuan Besar Herman van Persie.
Namun, begitu matanya menyapu barisan tulisan di atas kertas, kejengkelannya mendadak surut. Catatan itu sempurna. Setiap angka kuota timbangan daun basah, jumlah peti kemas teh yang siap dikirim ke stasiun, hingga persentase penyusutan daun teh kering ditulis dengan rapi, tanpa ada celah sedikitpun untuk dikoreksi.
"Hmmm… kerjamu tidak buruk!”
Deventer yang sedang dikejar tenggat waktu mendadak mengubah pikirannya. Ia melempar sebuah map kulit cokelat yang dibawanya ke atas meja Cecep.
“Kalau begitu sekalian lakukan pengecekan ulang bundel laporan pengiriman pabrik ini dengan data timbanganmu! Saya tunggu di ruangan saya, sepuluh menit harus selesai!"
"Siap, Tuan! Perintah Tuan adalah kompas hidup saya," jawab Cecep dengan wajah datar, membungkuk dalam-dalam.
Deventer lalu membalikkan badan dan bergegas kembali ke ruangannya.
Begitu sang sinder pergi, ekspresi linglung di wajah Cecep lenyap seketika. Matanya yang semula tampak layu kembali berbinar tajam. Ia meludahkan sisa air sirihnya ke dalam tampolong di bawah meja, lalu menyempilkan susur di sudut bibirnya.
Dengan cekatan, tangan Cecep membuka map cokelat pemberian Deventer. Di dalam birokrasi perkebunan kolonial, sudah menjadi tugasnya sebagai jurutulis terbawah untuk memeriksa ulang berkas laporan harian dari pabrik sebelum dibukukan.
Namun, di antara tumpukan nota resmi itu, sepasang mata jeli Cecep menangkap selembar kertas tik buram tanpa kop surat resmi perusahaan.
Itu adalah selembar surat pesanan rahasia untuk pasar gelap yang terselip akibat kecerobohan Deventer yang menyatukan berkas kargo pabrik. Di sana tercantum pesanan dalam jumlah besar: 20 kilogram Diacetylmorphine Hydrochloride.
Bagi lulusan Vervolgschool biasa, deretan huruf Latin itu pasti dianggap sebagai nama pupuk asing atau racun hama. Namun, dua tahun bekerja sebagai pembantu dokter, membersihkan peralatan medis di rumah sakit militer kota Sukabumi sebelum pindah ke perkebunan ini, membuat Cecep tahu banyak tentang obat-obatan kimia. Jemarinya yang sering mencuci wadah kaca obat bius milik dokter Belanda langsung mengenali nama itu.
Itu bukan obat untuk menyembuhkan pohon teh yang sakit terserang hama. Melainkan Diacetylmorphine—heroin padat dalam bentuk garam kristal murni.
Di zaman itu, perusahaan perkebunan besar Eropa memang lazim memiliki izin impor resmi untuk mendatangkan berbagai zat kimia dari Barat, seperti sulfur, soda abu, atau amonia untuk keperluan laboratorium riset botani.
Namun, surat pesanan terlarang yang dipegang Cecep ini membongkar taktik licik bosnya: Herman van Persie sengaja memanfaatkan jalur logistik resmi kebun tersebut untuk menyelundupkan dua puluh kilogram serbuk bius medis kelas berat dari jaringan pasar gelap. Sebuah rencana yang sama sekali tidak masuk akal untuk sebuah perkebunan teh.
Karena pasar bebas untuk morfin dan heroin sudah dikunci oleh hukum internasional, satu-satunya cara bagi pihak swasta seperti Tuan Besar Administrateur untuk mendapatkan pasokan besar hingga 20 kilogram adalah melalui pasar gelap, dengan jumlah minimal yang sudah ditetapkan.
Di tahun 1926, aturan ini baru mulai diterapkan namun pengawasannya di pelabuhan kolonial masih memiliki celah birokrasi, terutama bagi para elit kulit putih terpandang (Preangerplanters). Hal inilah yang ia manfaatkan sebelum regulasi internasional menjadi semakin ketat dan tertutup total di akhir dekade 1920-an.
Pihak bea cukai pelabuhan di Batavia kemungkinan besar akan meloloskan berkas ini begitu saja tanpa memeriksa, karena dokumennya ditandatangani langsung oleh Tuan Besar Administrateur—seorang kulit putih terpandang yang kekuasaannya di Sukabumi tidak berani dipertanyakan oleh petugas pelabuhan bumiputera.