MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #3

DERU MESIN PENGOLAHAN TEH

Matahari sore telah beranjak turun di balik dinding hijau Gunung Gede, menyisakan langit Sukabumi yang teduh dan hawa dingin yang mulai menggigit. Namun, bagi Adjat, udara sedingin apa pun tak mampu meredakan uap panas yang keluar dari sekujur tubuhnya.

Bilah bambu pemikul di pundak kirinya melengkung tajam, menahan beban dua kantong rajutan jala besar berisi daun teh hasil petikan gabungan. Otot-otot di lengan dan betis kekarnya menegang kaku, mencengkeram lantai semen halaman pabrik yang basah.

Pemuda 20 tahun itu tetap melangkah bergegas, menjaga ritme napasnya agar beban puluhan kilogram itu tidak mematahkan tulang bahunya.

Di dalam salah satu rajutan jala yang dipikulnya, ada daun teh milik Endah dan Imas—daun teh yang telah ia selamatkan bersama Cecep di meja timbangan teras tadi.

Pikiran tentang senyum lega Endah adalah satu-satunya bahan bakar yang membuat kaki Adjat terus bergerak, memikul beban tersebut menuju selasar penerimaan daun basah di bagian belakang pabrik.

Begitu melangkah masuk, bau khas langsung menusuk hidung Adjat. Bukan aroma wangi melati, melainkan bau pekat daun teh segar yang mulai layu bercampur dengan kepulan asap kayu bakar dari tungku-tungku pengeringan. Bersamaan dengan itu, suara rendah yang menggetarkan dada mulai terdengar lamat-lamat.

BLUK... CHUG... BLUK... CHUG...

Itu adalah suara raungan mesin pabrik. Bagi orang-orang di onderdistrict (kecamatan) Sukaraja, bangunan Pabrik Goalpara yang berdiri tegak sejak tahun 1908 itu laksana monster besi raksasa milik orang kulit putih.

Atap sengnya yang luas berkilat keperakan di bawah sisa cahaya, dan cerobong asapnya yang tinggi terus-menerus memuntahkan jelaga hitam ke langit bebas.

Pemuda asal Kampung Cikaret itu memasuki selasar penerimaan daun basah di bagian belakang pabrik. Suasana di sana sangat bising. Puluhan kuli panggul pria dari blok lain berteriak-teriak mengatur antrean karung rajutan jala.

Di atas kepala mereka, sabuk-sabuk kulit penggerak berputar cepat, menghubungkan roda-roda raksasa di langit-langit gedung dengan mesin penggiling teh di lantai bawah.

"Adjat! Tuang di sini!" seru Subagja, mandor pabrik. Ia menunjuk sebuah bak kayu ekstra besar yang terhubung dengan katrol penarik menuju lantai pelayuan daun teh di atas.

Adjat menghentakkan pikulannya, menurunkan dua karung rajutan jala dengan hati-hati. Saat ia membuka ikatan tali ijuk pada mulut karung untuk menuangkan isinya, uap panas dari daun-daun teh yang mulai layu menguar ke wajahnya.

Aroma sepat khas teh jenis Assam yang segar memenuhi rongga dadanya, berbaur dengan uap minyak pelumas dari roda-roda gila yang berputar di langit-langit bangunan.

Dengan sekop kayu besar, dua kuli pabrik bertelanjang dada langsung memindahkan gundukan daun hijau dari bak kayu milik Adjat ke dalam keranjang katrol.

KRETEK... KRETEK... KRETEK...Tali baja katrol berderit tegang, menarik keranjang-keranjang itu naik menembus lubang lantai menuju lantai atas—ruang pelayuan.

Di atas sana, ruangan sengaja dibuat sangat luas dengan jendela-jendela kayu berbilah yang bisa dibuka-tutup untuk mengatur aliran angin pegunungan. Ratusan kuli perempuan sibuk menghamparkan daun teh di atas rak-rak panjang yang disusun bertingkat. Udara hangat dari pipa uap di bawah lantai mengembus lembar-lembar daun tersebut hingga layu, lemas, dan siap masuk ke tahap berikutnya.

Adjat melangkah beberapa tindak ke dalam area inti pabrik yang lantainya dilapisi tegel semen abu-abu kasar. Matanya menyapu barisan mesin penggilas raksasa buatan pabrik Machinefabriek J.A. van Dijk di Belanda.

Lihat selengkapnya