MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #4

RENCANA IMAS DEMI CECEP

Selepas salat Isya, Imas sedang berada di kamarnya yang berukuran tiga kali tiga meter. Pikirannya kembali berfokus pada Cecep. Ia ingin menawarkan pada pemuda itu bahwa di rumahnya ada kamar kosong satu, tapi dia malu kalau harus mengatakannya sendiri.

Kang Adjat adalah kuncinya. Besok di kebun teh, ia bisa berbisik pada Endah, agar Endah meminta Kang Adjat memberi tahu Cecep bahwa ada kamar kosong yang murah di rumah orang tua Imas. Dengan begitu, semuanya akan terdengar seperti urusan tolong-menolong biasa antar-lelaki pekerja perkebunan.

Imas tersenyum tipis, memeluk bantal dari lipatan kain blacu—karena harga bantal kapuk di zaman itu terbilang mahal bagi keluarganya. Ia menenggelamkan wajahnya pada bantal dengan angan-angan yang mulai tumbuh subur di dalam dadanya.

Angan-angan gadis itu seolah melayang, menerobos celah bilik kamar yang ditempati Cecep di ujung barat Kampung Limbangan, Di dalam sebuah kamar berukuran tiga kali empat meter milik Wak Haji Umuh Muchtar, seorang juragan sawah, Cecep Supriatna sedang duduk di tepi kasur kapuk yang masih baru.

Ia baru saja membasuh mulutnya dari sisa getah sirih terakhir hari itu. Suasana malam begitu sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik "latihan paduan suara" dan derit tiang rumah yang digoyang angin gunung.

Cecep menyalakan pemantik api, membakar sumbu lampu minyak semprong di atas meja kecilnya. Cahaya kuning bergoyang, menyinari telapak tangan kanannya yang bersih dan ramping, memandangi ujung jari telunjuknya.

Sore tadi, di loket timbangan, jemari yang ujungnya menghitam karena getah daun teh milik Imas sempat menyentuh ujung jarinya saat menerima kupon. Sebagai pemuda berusia dua puluh satu tahun yang biasanya abai pada urusan asmara, sentuhan singkat itu meninggalkan bekas getaran yang ganjil di dadanya.

Rasa iba bercampur kagum pada keteguhan perjuangan hidup gadis Sukaraja itu saat terancam denda Mandor Danu, terus menggantung di kepalanya hingga malam ini.

Cecep mengembus napas panjang, mencoba membuyarkan debaran aneh itu dari dadanya. Sifat rasionalnya kembali mengambil alih. Sebagai pegawai baru di perkebunan ini, ada hal lain yang jauh lebih membingungkan dan mengusik pikirannya sejak sore tadi.

Ia bersandar pada dinding bambu, menatap langit-langit kamar. Di pojok bilik bagian atas, sepasang cicak tampak sedang bermesraan sambil merencanakan hal yang muluk-muluk, tak ubahnya insan yang sedang dimabuk asmara.

Otaknya memutar kembali lembar nota pengiriman rahasia milik Tuan Besar Administrateur yang sempat ia baca tempo hari. Cecep sama sekali tidak ingat seluruh rangkaian huruf Latin rumit yang tertulis disana.

Matanya terlalu awam untuk menghafal nama kimia yang panjang. Namun, dua tahun bekerja sebagai pembantu dokter di rumah sakit militer kota Sukabumi membuat matanya langsung mengunci satu patah kata pendek yang tercetak jelas di sana: Morphine.

Lihat selengkapnya