MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #5

BISIK SUBUH DAN SIASAT KAMAR KOSONG

Kabut fajar keesokan harinya turun lebih pekat, laksana gulungan selendang putih raksasa yang menyapu atap-atap rumbia Kampung Limbangan.

Dinginnya kaki Gunung Gede Pangrango subuh ini terasa lebih menggigit, membuat uap hangat mengepul dari mulut Imas setiap kali ia mengembus napas. Langkah kaki telanjangnya meniti jalan setapak berlumpur terasa kaku, namun hatinya tidak sedingin kemarin. Di punggungnya, junak berderit pelan saat bertabrakan dengan keranjang Endah yang berjalan di sampingnya sambil memegang oncor leutik, untuk menerangi jalan.

Rombongan buruh petik perempuan Sukaraja berjalan beriringan di depan mereka, membelah kegelapan subuh dengan langkah-langkah bergegas mengejar bunyi lonceng onderneming.

Imas sengaja memperlambat langkah kaki telanjangnya, membuat jarak beberapa tindak dari rombongan di depan agar percakapannya tidak mengundang telinga-telinga usil tetangga kampung. Ia menyenggol bahu Endah dengan pelan.

"Endah... jalanmu jangan cepat-cepat, ada yang mau saya tanyakan," bisik Imas, suaranya parau beradu dengan desau angin fajar.

Endah menoleh, menurunkan sedikit obor bambu kecil hingga sinarnya menerangi wajah Imas yang merona kemerahan—bukan karena dingin, melainkan karena rasa jengah yang tertahan.

Endah terkikik pelan. "Aduh, ada apa ini? Masih subuh begini mukamu sudah seperti buah buni masak, Imas. Pasti mau membahas juru tulis itu, ya?"

"Sstt! Jangan keras-keras, Endah!" Imas bergegas membekap mulut sahabatnya dengan cemas, matanya melirik barisan kuli di depan mereka. Setelah memastikan aman, ia melepaskan tangannya dan membetulkan letak dudukuy di kepalanya. "Ini bukan soal bahas kelakuannya kemarin. Ini... soal kamar belakang rumah saya."

Dahi Endah mengernyit di balik balutan kain kepalanya. "Kamar belakang? Kamar bekas Aa Usep?"

"Enya," Imas mengangguk cepat, meremas tali bambu keranjangnya. "Kasihan saya melihat Den Cecep. Dia kan orang Cireunghas, jauh sekali kalau harus memutari hutan setiap hari. Sekarang dia kos di ujung barat rumah Wak Haji Umuh, jaraknya ke kantor perkebunan masih lumayan jauh."

Endah menghentikan langkahnya sesaat, menatap Imas dengan mata jeli khas penari ronggeng yang seakan bisa membaca hati sahabatnya ini.

Senyum penuh arti terbit di bibir Endah. "Oh... jadi si Eneng ini ceritanya mau menawarkan kamar kosong itu agar si Aden Juru Tulis bisa tinggal lebih dekat? Biar kalau sore bisa curi-curi pandang dari balik dapur, begitu?"

Wajah Imas terasa makin panas, ia mencubit lengan kebaya Endah dengan gemas.

"Ih, bukan begitu, Endah! Saya kan utang budi soal kupon beras kemarin. Tapi... mana mungkin saya yang bicara langsung pada Den Cecep. Pamali, atuh! Apa kata orang kampung nanti kalau anak gadis perawan menawarkan kamar pada bujangan?"

Sambil berjalan, tawa Endah tertahan di balik kegelapan kabut.

"Iya, iya, saya paham. Lalu maumu bagaimana?"

Imas mendekatkan bibirnya ke telinga Endah, membisikkan inti siasatnya dengan sangat hati-hati. "Nanti siang, saat Kang Adjat naik ke lereng Blok Tiga untuk membantu memikul keranjang kita... tolong kamu bicarakan pada Kang Adjat. Minta Kang Adjat yang menemui Den Cecep di pos kantor. Biar kesannya ini urusan tolong-menolong biasa sesama lelaki pekerja kebun. Bagaimana?"

Endah tersenyum lebar, menepuk bahu Imas dengan bangga. Jari lincah penari ronggeng itu bergerak membetulkan letak kain selendang Imas yang agak miring ditiup angin subuh yang menggigilkan badan.

"Cerdik juga kamu kalau sedang jatuh cinta, Imas. Tenang saja, urusan Kang Adjat mah biar saya yang kunci batinnya siang nanti. Dia pasti mau membantu mencarikan jalan untuk Den Cecep."

Lamat-lamat terdengar bunyi TENG...! TENG...! TENG...! dari laras besi lonceng Perkebunan Goalpara, membelah sunyinya pegunungan, menandakan batas waktu mereka telah habis.

Kedua gadis yang sama-sama berusia tujuh belas tahun itu mempercepat langkah kaki mereka, menembus sisa kabut subuh menuju gerbang pos apel, membawa sebuah rencana asmara tersembunyi yang mulai dirajut rapi di bawah pengawasan ketat mandor dan sinder kebun.

Apel subuh berlalu cepat di bawah gertakan Mandor Danu, digantikan oleh jam-jam panjang yang menguras tenaga. Kabut putih yang semula membungkus lereng lereng bukit perlahan koyak, terusir oleh hawa hangat yang merayap naik dari lembah. Dari balik rindangnya dedaunan, rona fajar keemasan berganti menjadi binar biru langit yang cerah, menyambut hari.

Jari-jari lentik Endah dan tangan mungil Imas terus bergerak tak hentinya di sela barisan pohon teh, memetik lembar demi lembar pucuk muda dibawah ancaman gigitan pacet atau ulat bulu, hingga peluh mulai membasahi dahi karena sang surya tanpa terasa sudah duduk di kepala, memancarkan teriknya yang gagah.

Lonceng istirahat tengah hari baru saja berdentang lamat-lamat dari arah pabrik bawah.

Lihat selengkapnya