MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #6

BERTAMU KE RUMAH IMAS

Menemukan sebuah rumah di Kampung Limbangan pada tahun 1926 bukanlah perkara yang rumit, meski tak ada selembar pun nomor rumah yang tertempel di dinding bangunan.

Di pedesaan kaki Gunung Gede, arah mata angin dan informasi warga adalah penunjuk jalan yang paling sahih. Asalkan tidak malu berjalan, sesat ditanya. Maaf salah, maksudnya malu bertanya jangan berjalan. Nah ini baru benar.

Sesuai petunjuk ringkas yang dibisikkan Adjat sore tadi sebelum pulang, Cecep hanya perlu berjalan ke bagian tengah kampung, mencari rumah panggung yang halamannya dinaungi oleh sebatang pohon mundu besar yang buahnya berlimpah, tepat di sebelah tajug tempat sembahyang dan anak-anak mengaji.

Lampu minyak di teras rumah panggung itu sudah dinyalakan saat sandal Cecep yang mengeluarkan bunyi—plek-plek-plek—memasuki halaman tanah yang resik.

Di pundak kirinya, tersampir sebuah buntelan kain sarung berisi tiga stel pakaian kerja, beberapa celana komprang dan baju harian, dua lembar sarung, sebuah cermin oval kecil serta sebuah sisir tanduk buatan Tiongkok—seluruh harta bendanya sebagai pemuda bujangan yang merantau dari Cireunghas.

Di atas tepas atau teras rumah panggung beralas bilah bambu yang bersih, Adjat sudah duduk bersila. Di sampingnya, seorang lelaki tua berwajah teduh namun menyiratkan ketegasan, mengenakan sarung tenun kasar dan songkok hitam yang sudah agak pudar warnanya. Beliau adalah Abah Odih ayah kandung Imas, seorang mantan kuli pangkas senior perkebunan yang kini menghabiskan masa tuanya dengan menggarap petak sawah sisa leluhur.

"Tah, eta jelmana, Bah" bisik Adjat, langsung berdiri menyambut kedatangan Cecep di undakan tangga teras.

Cecep seketika menurunkan buntelan kainnya ke tanah, lalu buru-buru melepas sandalnya. Sebelum melangkah naik ke tangga kayu rumah panggung tersebut, ia memasang kembali topeng andalannya: wajah polos, sedikit canggung, dengan punggung yang agak dibungkukkan khas pemuda udik yang menghormati orang tua kampung.

"Sampurasun... Abah," ucap Cecep dengan nada suara sopan, menyodorkan kedua belah tangannya yang bersih untuk bersalaman, menjepit sejumput tembakau susur yang sejak tadi diselipkannya di sela bibir agar napasnya tidak bau mulut.

"Rampes, mangga kasep! Calik, calik! sahut Abah Odih dengan suara berat yang rendah, menyambut jabat tangan Cecep dengan hangat. Sepasang mata tuanya yang jeli langsung menyapu penampilan Cecep dari ujung totopong, ikat kepalanya hingga baju salontreng hitamnya yang rapi.

Sebagai mantan pekerja kebun, Abah Odih tahu pemuda di hadapannya ini bukan kuli kasar; tangan Cecep terlalu halus untuk ukuran orang yang bekerja memikul keranjang.

Imas yang sejak tadi bersembunyi di balik sekat dinding bilik rumah, menahan napasnya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang. Kupingnya menempel pada dinding bilik.

Lewat celah anyaman bambu yang renggang, sepasang mata bulat gadis itu memperhatikan bagaimana canggungnya Cecep duduk bersila di pojok teras, berhadapan langsung dengan ayahnya.

"Jadi, ini Juru Tulis baru yang diceritakan si Adjat tadi?" tanya Abah Odih sambil meraih wadah sirih kuningan di dekat lututnya, lalu mulai meramu daun sirih dan kapur untuk dikunyahnya sendiri.

"Muhun Abah. Nami abdi Cecep Supriatna, asli urang Cireunghas" jawab Cecep, tersenyum lugu, membuat wajahnya terlihat sangat jujur di bawah siraman cahaya kuning lampu teras.

"Mohon maaf kalau kedatangan saya malam-malam begini jadi mengganggu ketenangan rumah Abah."

Tuan rumah terkekeh pelan, meludahkan air sirih pertamanya ke tampolong—wadah bambu untuk ludah sirih. "Ah, tidak mengganggu, Aden! Adjat sudah cerita kalau Aden butuh kamar yang lebih dekat ke kantor onderneming. Kebetulan, kamar belakang bekas si Usep memang kosong sejak tiga bulan lalu. Kamarnya kecil, tidak ada kasurnya, hanya beralas tikar pandan, apa Aden tidak keberatan?"

Cecep cepat-cepat menggelengkan kepala, membungkuk takzim. "Aduh, Abah... jangan panggil Aden! Panggil Cecep saja! Bagi bujangan perantau seperti saya, bisa tidur di bawah atap yang tidak bocor saja sudah merupakan berkah yang besar. Apalagi kalau jaraknya dekat ke gerbang depan kebun teh."

Abah Odih mengangguk-angguk puas melihat kesopanan Cecep yang dinilainya sangat tahu adat pribumi, berbeda dengan bayangan sebagian orang kampung tentang "pegawai kantoran Belanda" yang biasanya angkuh, sombong, sok kebarat-baratan dan selalu menghisap rokok putih, tidak mau menyirih.

"Imas! caina pangmawakeun ka tepas!" seru bapaknya ke arah ruang dalam. Bunyi prek-prek ketika langkah kaki Imas menapaki bilah-bilah bambu lantai terdengar halus. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah lengser, nampan kayu berisi tiga cangkir batok kelapa yang diberi gagang bambu, mengeluarkan uap panas beraroma harum daun pandan.

Lihat selengkapnya