MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #7

BERANGKAT KERJA BERSAMA

Dinginnya fajar di kaki Gunung Gede terasa menggigit kulit. Cecep mendorong pelan pintu bilik samping kamarnya. Malam pertamanya di rumah Abah Odih baru saja pungkas, digantikan oleh jilatan warna biru samar di cakrawala timur.

Sembari menyampirkan selembar kain perca di bahu, Cecep melangkah turun meniti tiga undakan golodog kayu dengan kaki telanjang yang langsung mengkerut menyentuh rumput halaman yang basah oleh embun pekat.

Ia berjalan menuju pancuran bambu di sudut kebun samping. Saat air gunung yang jernih itu menyentuh wajahnya, Cecep menggigil kecil. Airnya terasa lebih dingin. Mungkin sudah memasuki musim kemarau.

Saat ia menyeka sisa air di janggutnya, sepasang mata jeli Cecep menangkap seberkas cahaya kuning kemerahan yang menyusup keluar dari celah-celah dinding bambu dapur di dekatnya.

Bersamaan dengan itu, aroma khas yang sangat sensual mulai membelai hidungnya: bau asap kayu yang terbakar berpadu dengan wangi pulen dari beras yang sedang ditanak di atas tungku tanah liat.

Dari balik dinding dapur yang renggang, Cecep bisa melihat siluet tubuh Imas yang bergerak lincah membelakangi cahaya api tungku. Gadis itu sedang sibuk meniup selongsong bambu untuk menghidupkan bara, membuat beberapa percikan api terbang menerangi wajah manisnya yang masih polos tanpa sapuan bedak dingin.

Cecep terdiam sejenak di dekat pancuran, menikmati lukisan alam subuh yang teramat jujur itu, sebelum bergegas kembali ke biliknya untuk mengenakan pakaian kerja dan merapikan bentuk lipatan iket totopongnya.

Lonceng pertama onderneming belum lagi berdentang saat pintu depan rumah panggung Abah Odih terbuka. Setelah menuntaskan kewajiban shalat Subuh, kampung Limbangan mulai riuh oleh suara-suara kegiatan pagi.

Imas melangkah ke luar. Di halaman tanah di bawah pohon mundu, Cecep sudah berdiri rapi mengenakan pakaian juru tulis kelas priyayi bawah, berupa jas tutup yang mirip jas Mandarin dan celana panjang pantalon, serta terumpah kulit. Tak lupa totopong batik di kepala dan kacamata bulatnya.

Badan Cecep menyebarkan aroma citrus 4711 Eau de Cologne impor dari Jerman. Penampilan yang bikin Imas terpana sesaat, sebelum akhirnya ia buru-buru mengambil keranjang teh yang tersampir di samping rumah.

Tak lama kemudian, dari arah jalan setapak belakang yang gelap, muncul siluet Endah yang berjalan tergesa membelah kabut sambil memegang obor kecil. Rumah Endah yang letaknya agak ke dalam memang mengharuskannya melewati rumah Imas terlebih dahulu jika ingin keluar menuju jalur utama perkebunan.

"Tah, si Aden Juru Tulis baru sudah wangi!” goda Endah dengan suara setengah berbisik saat langkahnya sampai di halaman berumput rumah Imas.

Imas hanya menunduk, pura-pura sibuk membetulkan letak tudung dudukuy di kepalanya untuk menyembunyikan senyum jengah.

Langkah kaki telanjang kedua gadis itu beradu halus dengan tanah basah, mengekor di belakang Cecep yang berjalan santai dengan terumpah kulitnya. Begitu sampai di persimpangan jalan setapak yang membelah rimbunnya rumpun bambu, siluet seorang pemuda bertubuh tegap sudah berdiri bersandar pada batang pohon kelapa.

Itu Adjat. Sembari menanti, ia tampak sedang menggosokkan sejumput tembakau susur di sela giginya, mencoba mengusir kantuk dan dingin yang merayap di waktu wanci balebat (setelah subuh).

"Tah, ketahuan sekarang mah," goda Adjat langsung meluruskan badannya begitu rombongan dari rumah Abah Odih itu mendekat. Matanya melirik jenaka ke arah Cecep yang berjalan di depan. "Pantas saja subuh ini jalan setapak Limbangan wanginya santer sampai ke Cikaret. Saya lupa, juru tulis baru kita ternyata sudah punya jalur berangkat yang lebih pendek."

Endah langsung menutup mulut, tawa renyahnya pecah membelah kesunyian subuh, sementara Imas buru-buru menarik tudung dudukuy di kepalanya lebih rendah hingga menutupi pipinya yang mendadak terasa panas bagai ditabok mandor Danu.

Cecep tidak canggung. Ia justru membetulkan letak iket totopongnya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat kaku, lalu menatap Adjat dengan wajah datar. "Ah, Kang Adjat bisa saja," sahut Cecep. “Ini asli hitungan yang matang, Kang. Setelah saya hitung menggunakan rumus kantor, pindah ke kamar bekas Aa Usep ini bisa menghemat biaya sewa kamar tiga kali lipat. Lumayan untuk bekal melamar anak gadis orang nanti."

Uhuk-uhuk…! Imas mendadak tersedak ludahnya sendiri, membuat Endah langsung menyenggol lengannya dengan kerlingan mata yang semakin nakal menggoda.

Lihat selengkapnya