MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #8

LOGIKA SANG JURU TULIS

Kabut fajar masih membungkus tebal pilar-pilar beton Landhuis Goalpara yang berdiri kokoh. Di dalam ruang kerja utama rumah dinas yang luas beralas karpet wol tebal itu, hawa dingin pegunungan terusir oleh kehangatan bara api dari perapian bata.

Di balik meja mahoni yang besar, Herman van Persie duduk tegak dengan cerutu yang asapnya meliuk harum ke langit-langit. Pria paruh baya berambut ikal klimis itu menatap tajam ke arah pintu ruang kerjanya yang baru saja diketuk.

"Sinder Deventer, Tuan Besar," ucap seorang kepala pelayan pribumi berpakaian seragam putih penuh hormat sebelum mengundurkan diri.

Pieter Deventer melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu setelah berjalan mendaki sekitar seratus meter dari gedung kantor administrasi pabrik bawah. Mantel wolnya yang basah oleh embun subuh segera ia rapikan begitu sepasang mata biru Herman van Persie menatapnya dengan dingin.

Pintu jati kembar setinggi tiga meter yang memisahkan selasar depan dengan ruang kerja utama itu menutup dengan dentum berat, seketika membungkam desis angin fajar dari luar. Ruang kerja utama Herman van Persie adalah perwujudan mutlak dari keangkuhan kasta penguasa Preangerplanter.

Ruangan itu memiliki langit-langit setinggi lima meter, disangga oleh balok-balok kayu jati kuno berukuran besar yang dipelitur hitam mengilat. Alih-alih menggunakan lantai ubin semen biasa seperti di kantor bawah, seluruh permukaan lantai ruangan ini dilapisi oleh tegel semen bermotif geometris warna merah terracota yang hangat. Sebagian besar lantainya ditutupi oleh permadani bermotif rumit khas Persia.

Di sudut barat ruangan, sebuah perapian bata bergaya Eropa abad pertengahan berdiri kokoh, memuntahkan kehangatan dari bara kayu ketapang yang menyala jingga. Asap tipisnya ditarik naik menembus cerobong batu, meninggalkan aroma wangi kayu terbakar yang berbaur dengan pekatnya wangi cerutu Sumatra-tabak mahal milik Tuan Besar.

Cahaya di dalam ruangan itu terasa remang namun berwibawa, bersumber dari dua buah lampu gantung kristal yang rantai kuningan pengikatnya menjuntai dari langit-langit, serta sebuah lampu meja berkaki perunggu dengan kap kaca berwarna hijau zamrud yang menyinari tumpukan berkas di atas meja mahoni yang mengilat.

Di dinding ruangan yang dicat putih bersih, berjejer beberapa bingkai foto hitam-putih berukuran besar yang menampilkan potret Ratu Wilhelmina, peta topografi konsesi lahan Perkebunan Goalpara tahun 1910, serta sepasang kepala rusa jantan berpahat tanduk runcing hasil buruan Herman van Persie di hutan lereng Gunung Gede.

Tepat di tengah ruangan, di balik kemegahan meja mahoni yang permukaannya dilapisi kaca tebal, Herman van Persie duduk di atas kursi putar berlapis kulit lembu jantan berwarna cokelat tua.

Di dekat siku kanannya, sebuah set perangkat minum teh dari keramik porselen Cina berwarna biru-putih berdiri anggun di atas nampan perak, bersandingan dengan sebuah tempat pena dari gading gajah dan sebuah asbak kuningan yang permukaannya diukir oleh guratan tangan halus pengrajin dari daerah Cipacing, Sumedang.

Kombinasi kemewahan eropa dan material lokal Priangan di dalam bilik ini seolah menegaskan bahwa bagi seorang administrateur, ruangan ini bukan sekadar tempat memeriksa angka timbangan kuli, melainkan sebuah takhta suci tempat hidup dan matinya ribuan nyawa buruh bumiputera ditentukan hanya lewat satu goresan pena besi.

Mantel wol Deventer yang basah oleh embun subuh segera ia rapikan begitu sepasang mata biru Herman van Persie menatapnya dengan dingin dari balik meja mewah tersebut.

"Kenapa lambat sekali maneh, Deventer? Bagaimana dengan laporan dari stasiun kereta?" tanya Herman van Persie, suaranya berat dalam bahasa Indonesia yang lancar dan berwibawa. Sinder Deventer menjatuhkan topi pet tropisnya ke atas meja, wajah tegangnya tampak kemerahan.

"Excuus, Meneer van Persie. Er is een probleem met telegrafie-bericht. Pihak PTT di kota belum menerima konfirmasi kabel telegraf dari pelabuhan Batavia mengenai koli nomor B-407."

Herman Van Persie mengusap wajahnya dengan gusar.

Sementara itu, sekitar seratus meter di bawah bukit landhuis, keheningan kantor administrasi pabrik yang sepi seolah ikut membeku di sekitar meja tulis Cecep. Bunyi detak jarum jam dinding besar buatan Jerman di sudut ruangan terdengar berirama, menemani goresan mata penanya yang bergerak menyalin catatan timbangan peti teh harian yang tertunda.

Namun, di dalam kepala Cecep, goresan pena itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan angka-angka kati daun teh di atas kertas tebal. “Apotheek Sukabumi... kepala gudang stasiun... lalu nomor manifes B-407.”

Cecep meletakkan penanya, membiarkan ujung besi logamnya mengambang di atas permukaan botol tintanya yang pekat. Otaknya langsung menangkap kejanggalan besar: Rumah sakit militer saja tidak pernah memesan zat bius sebanyak itu sekaligus, lalu untuk apa sebuah perkebunan teh memesan zat turunan morfin dalam jumlah yang bisa membius satu karesidenan?

Pikiran rasionalnya yang terlatih di laboratorium rumah sakit militer dulu mulai menguliti setiap patah kata yang diteriakkan Sinder Deventer di kotak telepon engkol dinding subuh tadi sebelum pria Belanda itu buru-buru pergi mendaki ke rumah Tuan Besar.

Jika itu adalah pasokan obat-obatan atau alkohol pembersih luka untuk kebutuhan poliklinik perkebunan, kiriman itu pasti dikirim lewat kurir resmi atau diambil langsung oleh mantri klinik di kota. Poliklinik Goalpara hanya tempat mengobati kuli yang flu batuk, mencret atau demam malaria, tidak ada dokter ahli bedah di sana yang membutuhkan obat bius.

Lagipula, kenapa Deventer justru meminta dihubungkan dengan kepala gudang stasiun kereta api barang, bukan dinas kesehatan resmi? Sepertinya ada jalur pasokan besar yang sengaja disembunyikan dari pengawasan umum di stasiun Sukabumi. Nomor B-407 yang diteriakkan Deventer dengan begitu gusar pastilah sebuah kode muatan rahasia yang beratnya murni sepadan dengan angka dua puluh kilogram morfin yang sempat ia lirik di nota pesanan rahasia Tuan Besar tempo hari.

Cecep bangkit dari kursinya. Ia mendekati meja besar milik Sinder Deventer yang terletak di balik sekat kayu setengah badan. Meja ini menghadap ke arah jendela kaca besar agar Deventer bisa langsung mengawasi pelataran luar, kuli panggul yang lalu lalang, dan pintu masuk gudang sortir.

Suasana kantor masih sangat sepi; jam di dinding baru menunjuk pukul enam pagi lewat sedikit. Mandor pabrik dan mandor sortir biasanya baru akan menampakkan batang hidungnya setengah jam lagi.

Cecep berhenti tepat di depan kursi jati milik Pieter Deventer. Bau minyak wangi Citrus dan kayu manis khas Eropa yang dipakai sang sinder masih tertinggal samar, berbaur dengan aroma getir minyak tanah dari lampu semprong yang baru disulut.

Mata jeli Cecep menyapu permukaan meja kayu yang berantakan. Di sana tergeletak sebuah asbak kuningan berisi dua puntung cerutu yang sudah mati, beberapa lembar manifes kosong Blok Tiga, dan sebuah kalender meja bertahun 1926 buatan Batavia.

Lihat selengkapnya