Warung nasi milik Bi Enah yang terletak agak di luar pagar tembok pabrik pengolahan teh sudah terlihat sepi selepas waktu makan siang buruh jam 11 sampai 12 siang tadi. Warung panggung beratap rumbia itu berdiri di garis depan perkampungan kuli, menjadi tempat pelepas lapar bagi para pekerja perkebunan Goalpara.
Di atas papan menu, Bi Enah menyediakan masakan Sunda. Tidak jauh dari warung Bi Enah, warung masakan khas Jawa Tengah, hingga Jawa Timur juga berdiri —sebuah perpaduan rasa yang sengaja dibuat untuk melayani lidah para mandor dan kuli kontrak yang didatangkan dari berbagai penjuru Pulau Jawa.
Para buruh bujangan yang biasanya makan tergesa-gesa sudah kembali ke pos masing-masing, menyisakan sampah sisa makan di kolong bangku kayu panjang yang kosong.
Cecep duduk di pojok warung, baru saja menyelesaikan suapan terakhir dari sepiring nasi dengan sayur tumis kangkung terasi, ikan tembang asin, dan sambal goang. Di sampingnya, Wahyu—seorang juru tulis kebun yang juga masih melajang—sedang asyik mengorek sisa kangkung yang menyelip di giginya menggunakan potongan lidi kecil. Setelah yakin tidak ada yang melihatnya, Wahyu menelan sisa kangkung yang tadi menempel di giginya.
Di Perkebunan Goalpara tahun 1926 ini, status bujangan menempatkan mereka berdua dalam kasta nasib yang sama. Dua orang juru tulis kebun lainnya yang sudah berkeluarga hidup lebih mapan di rumah-rumah dinas permanen bertembok bata dan lantai tegel yang disediakan oleh perusahaan di afdeling atas. Sementara Cecep dan Wahyu harus puas mengandalkan warung nasi Bi Enah untuk mengisi perut mereka.
"Bagaimana kamar sewaan baru kamu, Cep?" tanya Wahyu, sambil menuangkan air minum dari teko. "Saya dengar dari Adjat, kamu pindah ke rumah buruh petik, si Imas.”
"Iya, Wahyu. lumayanlah kalau untuk bujangan seperti kita.. Setidaknya waktu tempuh ke kebun lebih cepat dari ujung barat rumah Wak Haji Umuh. Lagipula, harga sewanya tiga kali lipat lebih murah."
Obrolan santai sesama juru tulis itu tidak berlangsung lama. Begitu waktu istirahat satu jam pungkas, mereka berdua berdiri, dan melangkah kembali ke tempat kerja. Wahyu berjalan mendaki menuju pos pantau afdeling atas, sementara Cecep kembali ke dalam gedung administrasi pabrik bawah untuk bersiap menghadapi rutinitas paling sibuk hari itu: timbangan sore.
Matahari condong ke barat saat selasar kantor administrasi pabrik mulai riuh oleh derit keranjang dan langkah kaki yang lelah. Jadwal timbang daun teh harian resmi dibuka.
Mandor Danu berdiri kaku di depan loket timbangan, memegang tongkat kayu panjangnya dengan rahang tegap. Di belakangnya, barisan buruh petik Sukaraja mengular panjang, menanti giliran nomor mereka dipanggil. Danu berkali-kali mendengus gusar, sepasang mata besarnya menatap tajam ke arah Cecep yang duduk di balik meja yang diatasnya terdapat pena besi dan buku induk laporan.
Cecep duduk dengan punggung agak membungkuk, berkali-kali ia menguap dan mengerjapkan mata seolah sedang menahan kantuk yang luar biasa berat.
"Heh, Kang Juru Tulis!" tegur Mandor Danu, suaranya meninggi penuh kekesalan, tongkat kayunya diketukkan keras ke lantai selasar. "Pusatkan pikiran, Kang! Mata jangan merem-melek begitu! Ini rekap harian Blok Tiga, jangan sampai ada salah hitung. Kalau angkanya meleset, kupon beras kuli-kuli bisa macet total!"
Cecep menaikkan kacamatanya yang turun, lalu menatap Danu dengan wajah lugu andalannya. "A-aduh, ha-hapunten, Ma-mandor Dan… u," sahut Cecep dengan nada suara “gugup”. "Ini mata rasanya berat sekali. Mungkin gara-gara tadi siang kebanyakan makan tumis kangkung di warung Bi Enah. Tapi tenang saja Mandor, kalau urusan angka mah saya tetap lurus di atas kertas. Sok, tanyakeun wae ka Tuan Sinder lamun teu percaya!"
Danu hanya bersungut-sungut mendengar alasan konyol tersebut, sementara beberapa kuli perempuan di barisan belakang menahan tawa mereka.
Proses timbangan berlanjut cepat. Hingga akhirnya, giliran Imas melangkah maju menaruh keranjang miliknya di atas kait besi timbangan besar perkebunan.
Seorang petugas weger lapangan yang bertubuh legam bergegas menggeser bandul kuningan di sepanjang batang besi timbangan. Begitu batang besi itu bergerak lurus seimbang, si weger langsung berteriak lantang ke arah loket meja administrasi.
"Imas dari Limbangan.. dua puluh dua kati!" teriakan si weger memecah keriuhan selasar.Mendengar teriakan itu, sepasang mata Cecep yang semula layu mendadak berkilat jeli. Otak rasionalnya langsung menghitung kilat selisih dari target wajib hari itu. Goresan pena besinya bergerak mantap menuliskan angka tersebut ke dalam kolom buku induk, sengaja memberikan tanda centang surplus dua kati di samping nama Imas.
Imas yang berdiri menunduk di depan loket langsung mendongak, sepasang mata bulatnya berbinar lega dan bahagia. Tambahan dua kati artinya ada angka catatan yang sangat berharga untuk akumulasi kupon gaji bulanannya nanti. Dari balik tudung dudukuynya, gadis itu melayangkan pandangan penuh terima kasih yang teramat manis, yang dibalas oleh Cecep dengan satu kedipan mata polos yang teramat tipis di balik topeng linglungnya.
Di samping loket, Mandor Danu hanya bisa menggertakan giginya, menahan dongkol karena tidak punya alasan untuk memotong kupon hari itu. Senja pecah menjadi kegelapan malam saat seluruh urusan rekapitulasi jumlah timbangan teh selesai diserahkan Cecep ke meja Sinder Deventer. Setelah memastikan semua lembar kertas aman, Cecep berjalan pulang membelah kabut menuju kamar sewa barunya di rumah Abah Odih.
Selepas menunaikan ibadah shalat Magrib di dalam kamarnya yang berukuran 2 x 2,5 meter, Cecep melangkah keluar lewat pintu samping. Ia berjalan memutar ke arah depan, lalu duduk bersila di atas lantai bilah bambu tepas yang bersih, menikmati embusan angin malam kaki Gunung Gede yang sejuk setelah seharian berkutat dengan administrasi pabrik.
Tak lama kemudian, pintu depan berderit pelan. Sosok Abah Odih melangkah keluar dari dalam rumah. Lelaki tua itu sudah berganti pakaian sarung tenun kotak-kotak, tangannya membawa sebuah wadah kayu berisi tembakau rajangan dan beberapa lembar daun kawung kering sebagai pembungkusnya.
"Eh, Kang Cecep... belum tidur, kasep?" sapa Abah Odih dengan suara beratnya yang ramah, langsung mengambil posisi duduk bersila di hadapan Cecep.