Deru mesin truk Ford Model T bertenaga bensin membelah kesunyian sore di depan gudang logistik stasiun kereta api barang kota Sukabumi. Asap knalpotnya yang hitam dan berbau sangit mengepul ke udara, berpadu dengan aroma pekat dari puluhan karung goni berisi pupuk belerang perkebunan yang menumpuk di atas bak kayu terbuka.
Sinder Deventer melompat turun dari kabin depan truk sebelum bannya benar-benar berhenti berputar. Wajah Eropa-nya yang basah oleh peluh tampak tegang, sepasang matanya beredar jeli menyapu sekeliling pelataran gudang stasiun yang mulai berangsur sepi dari aktivitas kuli bongkar muat kota.
Tangan kanannya dengan sigap meraba saku mantel wolnya, memastikan surat perintah jalan resmi berkop perusahaan Thee Onderneming Goalpara dan selembar nota manifes khusus aman di tempatnya.
Seorang kepala gudang bumiputera berpakaian seragam dinas kereta api melangkah keluar dari pintu besi, membungkuk dalam begitu mengenali pakaian dinas milik sang sinder pabrik.
"Selamat sore, Tuan Sinder. Truk pupuk Goalpara datang terlambat hari ini," sapa kepala gudang itu dengan nada sungkan.
"Jangan banyak bicara," potong Deventer tajam, suaranya ditekan rendah agar tidak memancing perhatian dua orang petugas polisi kolonial yang sedang berpatroli di ujung peron gerbong.
"Buka pintu gudang nomor empat sekarang juga. Saya harus memeriksa koli muatan berkode B-407 yang diturunkan dari kereta ekspres Batavia subuh tadi."
Kepala gudang itu mengangguk cepat, tangannya yang memegang untaian kunci besi bergegas membuka gembok besar pintu gudang. Di dalam keremangan ruang semen yang pengap oleh bau besi tua, sebuah peti kayu berukuran lima puluh sentimeter persegi berdiri menyendiri di sudut ruangan.
Permukaan kayu tebalnya masih bersih, disegel rapat menggunakan kawat timah dengan cap resmi pelabuhan Tanjung Priok, dan di dinding kayunya tertera huruf-huruf hitam tebal yang dicat menggunakan cetakan stensil: MANIFEST B-407.
Pieter Deventer melangkah mendekat, detak jantungnya bertalu keras menembus mantel wolnya. Sifat rasionalnya sebagai orang teknik langsung bekerja cepat. Ia membungkuk, memeriksa kerapian kawat segel timah tersebut dengan ujung jemarinya. Begitu memastikan segelnya utuh dan tidak tersentuh oleh pemeriksaan bea cukai kota, seulas senyum lega akhirnya tersungging di sudut bibirnya yang pucat.
Dua puluh kilogram Diacetylmorphine murni pesanan rahasia Tuan Besar Herman van Persie telah resmi berada di dalam genggamannya. Komoditas farmasi berbahaya yang didatangkan langsung dari pabrik farmasi Eropa itu berhasil lolos menembus jaringan pemeriksaan birokrasi legal kota tanpa meninggalkan jejak kecurigaan sedikit pun.
"Angkut peti ini ke atas bak truk sekarang juga," perintah Deventer, menunjuk ke arah dua kuli panggul stasiun yang mengikutinya dari belakang. "Tumpuk di bagian paling tengah, lalu tutup rapat seluruh permukaannya menggunakan karung-karung pupuk belerang. Jangan sampai ada satu senti pun bagian kayunya yang terlihat dari luar!"
Para kuli itu bekerja dengan patuh, mengangkat peti tersebut menaiki tangga bak kayu truk Ford dengan tergesa. Bau menyengat dari belerang dan pupuk pertanian sengaja digunakan sebagai tameng sensorik paling andal untuk menyamarkan, jika sewaktu-waktu ada patroli mantri kesehatan perkotaan yang menghentikan laju kendaraan mereka di tengah jalan raya.
Setengah jam kemudian, Deventer kembali melompat naik ke kabin depan truk. Dengan satu raungan mesin yang keras, truk logistik itu bergerak meninggalkan pelataran stasiun kota, melaju mantap mendaki jalur aspal berliku menembus kabut sore menuju gerbang atas Perkebunan Goalpara.
Di dalam kepalanya yang mulai tenang, Deventer tahu bahwa di dalam ruang analisis mutu daun teh, eksperimen pertama Tuan Besar untuk menciptakan formula teh narkotika untuk pasar Eropa kelas atas akan segera terwujud.
Jalan raya yang menghubungkan pusat kota Sukabumi dengan kaki Gunung Gede-Pangrango mulai menyempit. Ford Model T itu berderit keras setiap kali rodanya menghantam lubang yang tergenang air sisa hujan siang tadi.
Di kanan dan kiri jalan, pemandangan kota yang dipenuhi bangunan beton bergaya Indische Empire perlahan digantikan oleh dinding-dinding bambu rumah panggung milik penduduk bumiputera. Penerangan jalan pun lenyap; hanya menyisakan sorot lampu depan truk yang kekuningan, menembus kabut tipis yang mulai turun dari puncak gunung.
Sinder Deventer menyandarkan punggungnya pada jok truk yang keras. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebuah pemantik kuningan dan sebatang cerutu Gouda berkualitas tinggi. Sambil mengembuskan asap cerutu yang tebal ke arah jendela kabin yang terbuka separuh, matanya menatap spion samping. Di belakang sana, terikat kuat di bawah tumpukan karung goni belerang, peti Manifest B-407 diam membisu.
Peti itu adalah masa depannya. Bagi seorang sinder kelas dua seperti dirinya, kesempatan untuk naik pangkat menjadi Hoofdsinder (kepala sinder) atau bahkan mendapatkan saham minoritas di perusahaan Thee Onderneming Goalpara adalah hal yang mustahil jika hanya mengandalkan gaji resmi dari dewan direksi di Amsterdam.