Herman van Persie melangkah mendekati meja marmer penguji mutu teh, lalu meletakkan botol cokelat berisi kristal diacetylmorphine itu dengan ketukan yang sengaja diperkeras. Bunyi benturan kaca dan marmer itu menggema, membuat Deventer terkaget-kaget di tempatnya berdiri, menatap botol cokelat itu dengan dahi berkerut. Dia menelan ludah, mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya membuka suara.
"Maaf, Tuan Besar... tetapi dua puluh kilogram zat murni ini sepertinya terlalu banyak. Untuk eksperimen awal di kebun kita, bukankah satu atau dua gram saja sudah lebih dari cukup? Mengapa kita harus mengambil risiko sebesar ini dengan mendatangkan satu koli penuh?"
"Kau pikir kita sedang bertransaksi dengan apotek kecil di sudut jalan Passer Baroe, Deventer?" tanya Herman dengan nada suara yang merendahkan, khas seorang majikan Eropa kepada bawahannya. "Jaringan pelabuhan yang menghubungkan sindikat pabean di Rotterdam, Marseille, hingga ke Tanjung Priok tidak bekerja untuk menyelundupkan barang seukuran botol parfum."
Herman berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebuah ceret tembaga berisi air panas yang diletakkan di atas kompor minyak dari plat besi yang dilapisi enamel.
"Kontak rahasia kita di dalam struktur Dienst der Belastingen (Dinas Bea Cukai) Tanjung Priok telah mempertaruhkan leher mereka untuk memalsukan manifes pengapalan kapal kargo SS Volendam yang bersandar subuh tadi. Mereka harus menyuap tiga orang opsir pemeriksa, mengubah manifes muatan impor dari Hamburg, dan mengatur agar peti kayu itu diturunkan di peron logistik paling sunyi di stasiun Sukabumi," lanjut Herman sembari menuangkan air panas ke dalam gelas ukur yang sudah terisi cairan alkohol murni. Suhu tinggi itu memicu penguapan kilat, membuat uap air yang mengepul langsung membawa aroma alkohol yang menyengat ke seluruh ruangan.
Herman berbalik, menatap Deventer dengan mata birunya yang tajam. "Sindikat internasional tidak mau mengambil risiko hukum gantung hanya untuk menyelundupkan satu atau dua kilogram heroin demi memuaskan rasa penasaran eksperimen kita. Batas minimum yang mereka tetapkan untuk satu kali jalur pengiriman aman adalah satu koli penuh seberat dua puluh kilogram. Kurang dari itu, mereka menolak bergerak. Jika aku tidak mengambil seluruh kuota itu sekarang, pintu pasokan dari Eropa akan tertutup selamanya bagi kita."
Deventer terdiam. Sifat rasionalnya dipaksa menerima kenyataan bahwa dalam bisnis pasar gelap global yang baru lahir akibat Konvensi Jenewa 1925 ini, uang taruhannya terlalu besar untuk sebuah keraguan.
“Dua puluh kilogram heroin padat itu bukan lagi sekadar bahan uji coba, melainkan sebuah investasi mati yang harus berhasil, apa pun konsekuensinya,” tegas Herman tajam.
"Saya mengerti, Tuan Besar," jawab Deventer pelan, mencoba menstabilkan suaranya. "Namun, dengan jumlah sebanyak itu di tangan kita... ini adalah wilayah yang sama sekali baru, dan kita belum pernah mencobanya pada siapa pun. Jika takaran kristal padat ini tidak pas, efeknya bisa langsung fatal bagi manusia."
"Justru karena itulah kita berada di laboratorium ini pada tengah malam, Deventer. Untuk memastikan tidak ada kesalahan fatal pada produksi massal kita nanti," ucap Herman sambil mengambil buku catatan logistik bersampul kulit miliknya. Ia membuka lembaran kosong yang baru dipenuhi oleh bagan konversi metrik dan angka timbangan kasar hasil corat-coret pikirannya sendiri.
"Mari, kumandikan kau dengan realitas sains, Deventer," ujar Herman sembari melangkah ke meja marmer panjangnya.
Di atas permukaan meja yang bernoda zat kimia itu, tiga mangkuk porselen putih berisi daun teh kering berkualitas pekoe terbaik sudah berderet rapi. Di sampingnya, terdapat sebuah alat semprot silinder kuningan kecil berpompa tangan—alat yang biasa digunakan untuk menyemprot parfum mahal atau sampel cairan pestisida.
"Perhatikan dengan baik, Deventer. Ini adalah bagian di mana sains mengubah zat padat murni menjadi tak terlihat," ujar Herman, suaranya berbisik penuh penekanan.Ia mengambil cawan porselen berkode F1 yang berisi beberapa gram bubuk kristal diacetylmorphine. Dengan tangan yang stabil, Herman menuangkan bubuk padat itu ke dalam gelas ukur besar yang sudah terisi cairan alkohol murni (etanol) sebagai zat pelarut utama.
Begitu kristal putih itu menyentuh cairan, Herman mengambil sebatang pengaduk kaca. Ia memutar batang kaca itu dengan ritme yang konstan. Di bawah terangnya cahaya putih lampu gas karbit yang mendesis, Deventer menyaksikan dengan mata terbelalak bagaimana butiran-butiran kristal padat itu perlahan-lahan larut, pecah, dan menyatu sempurna hingga cairan alkohol tersebut kembali menjadi bening dan jernih. Tidak ada endapan. Tidak ada perubahan warna.
"Garam hidroklorida padat memiliki struktur molekul yang sangat reaktif. Ia larut dengan sempurna di dalam alkohol murni," jelas Herman, puas melihat larutan kimianya yang jernih. "Namun, jika kau hanya menyemprotkan alkohol dan heroin, zat ini akan luruh dan jatuh menjadi debu saat daun teh mengering. Kita butuh bahan pengikat."