Teng... Teng... Teng…!
Suara hantaman gada besi pada potongan rel kereta api yang menggantung di depan kantor pusat emplasemen berdentang memecah kesunyian subuh pukul lima pagi. Gema tajamnya merayap membelah pekatnya kabut putih Gunung Gede yang turun begitu rendah, menusuk hingga ke sela-sela dinding bambu barak buruh kontrak pendatang.
Di dalam kompleks pemukiman buruh kontrak yang terisolasi oleh pagar kawat berduri itu, hawa dingin terasa begitu menyiksa, bercampur dengan aroma pengap dari minyak tanah, keringat lama, dan bau tanah basah.
Sinder Deventer melangkah membelah kabut subuh dengan langkah yang kaku. Sepasang matanya merah dan cekung, akibat terjaga sepanjang malam panjang tanpa sedetik pun rasa kantuk di rumah dinasnya. Di dalam saku mantel wolnya yang tebal, sebuah kaleng perak berkode F-3 terasa dingin menyentuh kulit jarinya yang pucat.
Bagi para kuli kontrak pendatang yang didatangkan dari tanah Jawa bagian tengah, lonceng subuh adalah awal dari kerja tanpa henti di bawah ancaman sanksi penalti perusahaan. Namun bagi Deventer, subuh ini adalah awal dari sebuah eksperimen rahasia yang menentukan hidup dan jabatannya.
"Buka pintunya, Mandor," perintah Deventer dingin, suaranya bergetar menahan gigitan udara subuh.
Pintu kayu yang berderit kasar itu terbuka, menampilkan sosok Mandor Danu yang buru-buru mengenakan ikat kepala kainnya. Wajah yang tampak masih mengantuk itu tampak terkejut, sekaligus sungkan melihat sang sinder Belanda sudah berdiri di ambang pintunya sepagi ini.
Hoaaaa… mmm. Mandor Danu menguap. "Selamat subuh, Tuan Sinder," sapa Mandor Danu dengan suara rendah, badannya membungkuk hormat.
“Dasar mandor kurang ajar, tutup mulut maneh kalau menguap!” bentak Deventer, gusar.
“Maafkan saya, Tuan, saya kelupaan.”
“Mulut maneh bau jamban di balong, tahu!”
“Maafkan saya sekali lagi, Tuan!” Mandor Danu membungkukan badan lebih dalam. "Ada urusan darurat apa hingga Tuan Sinder turun langsung ke barak dalam?"
Deventer tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam ruang depan rumah mandor yang sempit, memastikan tidak ada mata kuli lain yang mengintip dari celah dinding bambu.
"Kunci pintunya, Danu. Dengarkan aku baik-baik," perintah Deventer dalam bahasa Melayu campur Sunda.