MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #13

LAPORAN HASIL EKSPERIMEN

Lonceng pukul enam sore baru saja berhenti berdentang, menyisakan kesunyian yang dingin dan pekat di luar jendela kantor administrasi pabrik Perkebunan Goalpara.

Di dalam ruangan kantornya, Sinder Deventer masih duduk mematung di balik meja kerja. Sepasang matanya yang merah menatap kosong ke selembar kertas logistik di depannya. Urat di pelipisnya menyembul, merasakan kepalanya berat akibat tidak tidur barang sekejap sejak kemarin malam.

Rasa lelah dan kantuk yang menggelayuti kelopak matanya, bisa memaksa kesadarannya untuk ambruk ke atas meja kerja kapan saja. Namun, ia tidak punya kemewahan untuk jatuh tertidur malam ini. Setengah jam lagi, ia harus berjalan kaki mendaki lereng menuju landhuis—rumah dinas megah sang Administratur Herman van Persie.

Pertemuan malam ini bukan sekadar pelaporan administrasi biasa. Ia harus membawa buku catatan berisi angka-angka produktivitas dari lima kuli kontrak pendatang yang subuh tadi dijadikan kelinci percobaan Formula F-3.

Sifat Herman van Persie yang perfeksionis dan kejam tidak akan menoleransi seorang sinder yang menghadap dengan wajah layu, bicara terbata-bata, atau tampak kehilangan ketegasan seorang opsir lapangan Belanda. Herman menuntut kesempurnaan mutlak.

Pieter Deventer menarik napas dalam-dalam, merasakan dadanya yang sesak. Jemarinya yang gemetar menahan dingin meraba saku mantel, mengeluarkan satu-satunya kaleng perak berkode F-3 yang ia bawa dari lapangan sore tadi.

Ketika tutup kaleng itu dibuka, aroma wangi teh hitam Assam menguar tipis. Hanya bau teh. Cuma saja tampilannya sedikit mengilap dan agak lengket jika dipegang. Di dasar kaleng logam tersebut, masih tersisa sejumput daun teh kering hasil semprotan zat padat diacetylmorphine murni semalam.

Mata Deventer menatap kumpulan daun teh hitam itu. Pikirannya bergolak hebat di antara batas moralitas dan keputusasaan fisik. Kilas balik ingatan subuh tadi mendadak berputar di kepalanya: bagaimana Kromo yang biasanya lamban dan kaku sendi, mendadak bergerak memikul teh dengan kecepatan dua kali lipat layaknya mesin setelah menenggak seduhan daun ini.

Kuli-kuli pikul itu tidak memperlihatkan rasa lelah sedikit pun sepanjang siang, seolah-olah sistem saraf mereka telah dipahat ulang oleh sains Tuan Besar.

‘Kalau zat ini bisa membuat kuli panggul bekerja kesetanan tidak ada capainya... pasti juga bisa meningkatkan staminaku malam ini,’ bisik batin Deventer.

Rasa takut akan kelemahan fisiknya sendiri di depan Herman van Persie akhirnya meruntuhkan sisa logika sang sinder. Dengan gerakan yang diburu oleh kecemasan, pria 28 tahun itu mengambil cangkir porselen putih miliknya. Ia memasukkan satu sendok kecil sisa daun teh berkode F-3 itu ke dalamnya, lalu menuangkan air panas.

Tiga menit kemudian cairan di dalam cangkir porselen itu perlahan berubah warna menjadi merah kecokelatan yang pekat. Uap panasnya mengepul, membawa aroma teh premium kualitas pekoe yang sangat harum, kuat, dan segar khas pegunungan Goalpara. Tidak ada warna yang ganjil, tidak ada bau alkohol dan gliserin yang tersisa.

Tanpa menunggu airnya agak mendingin, Deventer mengangkat cangkir tersebut dengan tangan yang bergetar keras. Ia meniupnya sekilas, lalu meneguk habis cairan pahit mendidih itu hingga tetes terakhir, mengabaikan rasa perih yang sempat membakar lidah dan tenggorokannya.

Ia meletakkan cangkir kosong itu kembali ke meja, lalu bersandar pada kursi, memejamkan mata, sembari menanti dengan was-was zat alkaloid opium dalam tubuhnya bereaksi.

Sepuluh menit pertama, hawa dingin di dalam ruangan masih terasa menggigit. Namun tepat pada menit kelima belas, sebuah keajaiban biologis mulai merayapi tubuh sang sinder Belanda. Efek senyawa alkaloid opium murni yang menyatu dengan stimulan kafein teh pekat mulai mengunci reseptor saraf di kepalanya.

Perubahan itu datang seperti gelombang hangat yang menyapu dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Rasa pening yang menyiksa di kepalanya mendadak lenyap tanpa bekas, seolah-olah rasa sakit itu baru saja diangkat paksa oleh sepasang tangan tak kasat mata.

Kantuk luar biasa yang menindih kelopak matanya menguap seketika, digantikan oleh kesadaran yang mendadak menjadi sangat tajam dan jernih. Denyut jantung Deventer berdetak lebih cepat. Rasa linu di persendian kakinya setelah seharian berdiri di pematang tanah kebun hilang total.

Deventer membuka matanya. Pandangannya yang tadi kabur kini menangkap setiap detail ruangan dengan fokus yang luar biasa. Ia berdiri dari kursi, merapikan mantel wolnya yang kini terasa seringan selembar kain katun. Reaksi fisik zat morfin itu telah sukses memanipulasi tubuhnya, menipu otot dan otaknya dengan pasokan energi palsu yang sangat bertenaga.

Sambil menyunggingkan senyum percaya diri yang kaku, sinder itu menyambar buku catatan logistik di meja, mengunci pintu kantornya dari luar, dan mulai melangkah lebar menembus pekatnya malam perkebunan

Jalur menanjak sejauh seratus meter menuju rumah dinas atas kini terasa seperti jalan datar yang mudah.

Langkah sepatu lars kulit Deventer menghentak mantap di atas batu-batu makadam, membelah tirai tebal kabut putih Gunung Gede yang turun begitu rendah menyapu permukaan tanah. Dinginnya angin malam tidak mampu membuat tubuhnya menggigil; efek obat di dalam darahnya telah menciptakan perisai mati rasa yang sempurna.

Di ujung tanjakan, kemegahan bangunan landhuis bergaya indis mulai terlihat di balik keremangan kabut, berdiri kokoh dalam sorotan cahaya terang lampu gas karbit.

Deventer mempercepat langkahnya hingga berhenti tepat di depan pintu ganda kayu jati berukir yang menjadi pembatas ruang kerja pribadi sang administratur. Efek segar palsu dari Formula F-3 yang mengalir di pembuluh darahnya membuat dadanya membusung tegap, menghilangkan semua sisa keraguan yang sempat menggelayuti batinnya di kantor pabrik bawah tadi.

Ia mengangkat tangan, mengetuk pintu tebal itu tiga kali dengan ketukan yang mantap.

"Masuk," terdengar suara bariton yang berat dan berwibawa dari dalam ruangan. Deventer membuka pintu, melangkah masuk ke dalam ruangan yang luas dan pengap oleh aroma mewah cerutu Gouda serta minyak rambut maskulin.

Lihat selengkapnya