MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #14

PENTAS RONGGENG DI HAJATAN LURAH

Asap rokok kawung dan wangi minyak srimpi mengambang di udara malam Sukaraja yang dingin. Di atas tratag—panggung papan rendah setinggi betis—gesekan rebab mulai menyayat malam, disusul ketukan kendang yang lincah menabuh lagu Kintel Lulut.

Endah, si primadona ronggeng, melangkah anggun ke tengah gelaran. Kebaya beludru hijau lumut yang membungkus tubuh sintalnya berkilau diterpa cahaya kuning lampu petromaks. Gerakan lehernya yang luwes langsung mengunci pandangan ratusan pasang mata penduduk desa yang berdesakan di luar pembatas tarub bambu.

Kain batik motif laleur hejo khas Sukabumi-an yang dipakainya meliuk ketat seiring pinggulnya yang bergoyang tipis mengikuti irama kendang.

Sebagai primadona, Endah tahu betul tata krama birokrasi kolonial. Matanya tidak memandang ke arah kerumunan rakyat kelas bawah. Tatapan matanya yang tajam namun berhias senyum manis langsung menyapu meja para pembesar desa. Tangan kanannya yang lentik memegang ujung sampur sutra merah cerah. Dengan satu gerakan memutar yang memikat, selendang itu dilayangkan ke udara.

Sreeet...Ujung kain merah itu mendarat dengan sempurna di bahu kanan Juragan Camat. Gamelan ketuk tilu seketika beralih tempo menjadi sangat rancak, menandakan kibingan pertama resmi dibuka.

Melihat hal itu, Pak Lurah selaku tuan rumah segera membungkuk dari kursinya. Ia mempersilakan sang atasan dengan senyum lebar penuh rasa hormat. "Mangga, Juragan Seten Pucuk dicinta ulam tiba. Sampur dari Si Endah sudah mendarat. Mohon kersa membuka gelaran kibingan di hajat pernikahan anak kami."

Asisten wedana atau yang sekarang dikenal dengan nama camat, terkekeh berwibawa sembari membetulkan letak kancing jas putihnya yang kaku khas pejabat pemerintah kolonial. Sebagai atasan, ia menatap Pak Lurah dengan pandangan memuji. "Hahaha! Waduh, Lurah Sukaraja, selera ronggeng di desamu ini memang tidak ada duanya. Si Endah ini biarpun masih belia, gerakannya sudah sangat matang.”

“Baik, demi menghormati hajat yang kamu gelar, saya turun!"

Dari kursi sebelah, Kokolot, si kepala dusun Limbangan ikut tertawa kecil lalu berbisik mengingatkan tamu agung tersebut, "Wah, Juragan Camat jangan langsung dihabiskan tenaganya di lagu pertama. Ingat, tabuhan kendang Sukaraja ini terkenal bikin kaki enggan berhenti ngibing!"

"Tenang, Kokolot Limbangan," sahut Juragan Camat sambil berdiri dan merapikan letak bendo di kepalanya. Ia menoleh dengan kilat jenaka di matanya sebelum melangkah. "Setelah saya satu lagu, nanti saya oper selendang ini langsung ke pundakmu. Jangan sampai kamu sembunyi di balik tiang tarub, ya!"

Sang asisten wedana yang biasa disapa seten itu kemudian melangkah turun menuju tratag kayu, disambut Endah yang merendahkan tubuhnya dalam posisi dekku sembari membungkuk hormat. Begitu keduanya berdiri sejajar, jarak di antara mereka terpangkas hingga menyisakan ruang satu meter saja.

Endah mulai beraksi. Matanya yang dinaungi celak hitam menatap lurus ke dalam manik mata Juragan Camat tanpa berkedip—sebuah tatapan berani yang mengunci seluruh wibawa sang pejabat. Mengikuti ketukan gitek kendang yang semakin menggila, Endah meliukkan pinggulnya, memutar tubuh dengan sangat dekat hingga minyak srimpi beraroma bunga mawar-melati pekat, bedak dingin yang terbuat dari tumbukan beras, kencur dan daun pandan, serta kehangatan kulitnya tercium oleh sang lawan tari.

Juragan Camat membalasnya dengan rentangan tangan yang gagah, melangkah maju seolah hendak mendekap, namun dengan cerdik Endah menarik tubuhnya mundur persis satu ketukan sebelum kulit mereka saling bersentuhan. Siasat maju-mundur yang intim namun berjarak ini melemparkan ketegangan yang pekat ke udara, membuat penonton di balik tarub menahan napas menyaksikan adu pikat yang mendebarkan di atas panggung rendah tersebut.

Satu lagu penuh berlalu. Di bawah tatapan memikat Endah, Juragan Camat menyudahi kibingannya dengan sisa napas yang memburu. Sembari terkekeh puas, ia melepaskan sampur merah dari bahunya, lalu melemparkannya tepat ke arah Kokolot Limbangan—memaksa kepala dusun itu turun ke gelaran diiringi riuh sorak penonton.

Suasana di bawah tarub semakin panas saat malam merambat makin larut. Beberapa botol limun dan kopi disuguhkan, mengiringi gantian para pamong desa yang bergiliran menguji ketahanan kaki di atas tratag kayu. Hingga akhirnya, saat kendang mulai menabuh gending penutup yang paling rancak, lagu Renggong, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Kokolot Limbangan mengakhiri tariannya dengan membungkuk takzim, lalu menyampirkan selendang merah itu ke pundak Pak Lurah Sukaraja sendiri.

Malam itu, sang sohibul hajat tidak bisa mengelak lagi. Sorak-sorai riuh dari sanak saudara dan penduduk desa pecah, memanggil nama sang pemimpin desa untuk turun ke gelaran merayakan pernikahan anaknya.

Pak Lurah berdiri sembari merapikan beskap hitamnya. Dengan langkah mantap yang berwibawa, ia turun ke atas tratag. Endah menyambutnya dengan senyuman paling menawan malam itu, meliuk lincah, seolah memberi penghormatan tertinggi bagi sang tuan rumah. Langkah kaki Pak Lurah tampak mantap, bergerak selaras dengan gitek pinggul Endah yang semakin rapat mengikuti ketukan kendang yang menggila.

Di tengah riuhnya tarian, Pak Lurah merogoh saku dalam beskapnya. Dengan satu gerakan dramatis, ia menarik selembar uang kertas lima Gulden bergambar Jan Pieterszoon Coen dan mengacungkannya tinggi-tinggi ke udara. Lembaran uang kertas bernilai fantastis itu berkelebat di bawah sorot lampu petromaks, memancing kasak-kusuk riuh dari ratusan penonton.

Pak Lurah sedang tidak sekadar menyawer; ia sengaja memamerkan isi dompetnya untuk membungkam nyali para lelaki di desa itu yang diam-diam menaruh hati pada sang primadona.

Di sudut meja kehormatan, Kokolot Limbangan menatap lembaran kertas itu dengan pandangan yang mendadak dingin. Sepasang matanya menyipit sinis, memancarkan kedengkian yang tertahan di balik senyum sopan yang dipaksakan. Rahangnya mengatup rapat menyaksikan kesombongan penguasa Sukaraja tersebut. Bagi Kokolot, aksi pamer Pak Lurah bukan lagi soal apresiasi seni, melainkan sebuah hinaan terbuka yang sengaja dipajang di depan mukanya untuk menegaskan siapa yang paling berkuasa di wilayah ini.

Mata Danu, mandor kebun yang duduk tak jauh dari sana pun seketika menggelap. Namun, alih-alih ciut, ia justru mendengus meremehkan sembari mencengkeram gelas kopinya. Dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan agar terdengar oleh pamong desa di sekitarnya, ia berbisik kepada rekannya, "Pamer lima Gulden saja sudah seperti menguasai seluruh Sukabumi. Dia tidak tahu, uang segitu tidak ada seujung kuku dari bonus mingguan yang dijanjikan administrateur perkebunan kepada saya jika target daun teh bulan ini tembus."

Lihat selengkapnya