MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #15

PENGIRIMAN SAMPEL KE ROTTERDAM

Pukul sepuluh malam lewat sedikit, kompleks pabrik Perkebunan Goalpara masih menderu keras di bawah gulungan kabut Gunung Gede Pangrango yang pekat. Suara bising mesin giling pengolah daun teh yang sangat besar terus berputar konstan membelah malam, ditemani dengan kepulan uap panas dari cerobong besi—memperlihatkan wajah industri yang tidak pernah tidur.

Namun, di dalam theeproefkamer, ruang analisis mutu teh yang terletak di bagian sayap depan, suasananya justru sangat tenang dan sunyi. Jendela-jendela kaca besar di ruangan itu terbuka lebar, membiarkan angin pegunungan yang sejuk masuk.

Di bawah hukum kekuasaan mutlaknya di Goalpara, malam ini, Herman van Persie melakukan proses pengolahan secara legal dengan dalih pengujian resmi pertanian.

Ia berdiri tegak di balik meja marmer panjangnya. Sebagai seorang pria yang sangat metodis dan perfeksionis, Herman mulai membuat formula dosis rendah F-3 untuk kebutuhan teh sejumlah 20 kati. Tangannya yang dibalut sarung tangan karet tebal memegang sebuah gelas ukur kaca besar. Dengan ketelitian seorang ilmuwan, ia melarutkan butiran kristal putih diacetylmorphine murni ke dalam cairan alkohol dan gliserin.

Takarannya sangat presisi, dihitung secara matematis agar zat aktif tersebut nantinya terbagi rata sempurna tanpa ada kesalahan satu miligram pun. Ia mengambil sebatang pengaduk kaca, memutarnya dengan ritme konstan hingga seluruh kristal padat itu larut seutuhnya menjadi cairan yang bening dan jernih.

Setelah larutan dosis rendah F-3 selesai dibuat, Herman memasukkan cairan morfin itu ke dalam tangki semprot—tangki yang biasa digunakan untuk menyemprot hama tanaman.

Tok! Tok! Sinder Deventer melangkah masuk setelah mengetuk pintu penghubung ruang analisis di dalam pabrik. Di belakangnya, dua orang buruh kontrak berjalan dengan kepala menunduk dalam. Ketakutan yang besar terhadap wibawa sang administratur membuat kedua kuli itu berdiri dengan tubuh yang sangat tegak, kaku seperti robot humanoid abad modern dan fokus menerima setiap perintah.

Di atas meja marmer panjang, Deventer telah menjajarkan belasan proefbakken—baki-baki penguji berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bingkai kayu ringan dengan alas jaring kawat halus. Di atas baki-baki laboratorium itulah, dua puluh kati daun teh kering kualitas nomor satu dihampar tipis-tipis secara merata.

"Gendong tangkinya," perintah Herman dingin. Salah seorang kuli kontrak bergegas mengangkat tangki semprot punggung berbahan kuningan tebal dari lantai. Kuli itu menggendongnya di punggung, lalu memutar katup pengatur kecil di pangkal pipa kuningan semprotannya. Ia mengecilkan tekanan udara di tingkat paling rendah, sesuai instruksi ketat sinder, agar semprotannya nanti tidak membuat daun teh kering yang sangat ringan di atas baki terbang berhamburan.

Tangan kiri sang kuli mulai bergerak naik-turun memompa tuas di samping pinggangnya, membangun tekanan udara yang tipis di dalam tabung kuningan.

Lihat selengkapnya