MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #16

BERCENGKRAMA DI HARI MINGGU

Matahari hari bersinar teduh di atas langit Perkebunan Goalpara, membiarkan angin pegunungan berembus bebas tanpa sekat. Hari Minggu adalah satu-satunya hari libur mutlak yang paling dinanti oleh seluruh buruh, hari di mana kasarnya perintah sinder Belanda dan bisingnya mesin giling pabrik berhenti total selama dua puluh empat jam.

Di tepi jurang yang membatasi Kampung Limbangan, sebuah saung pos ronda berbahan bambu berdiri kokoh. Saung itu memiliki pemandangan yang luar biasa megah, menghadap langsung ke hamparan hijau lembah teh yang berselimut kabut tipis di kaki Gunung Gede yang berdiri angkuh menjulang ke langit.

Di dalam saung bambu yang sejuk itu, aura hari libur terasa begitu puitis. Adjat duduk bersila di sudut saung dengan melipat satu kakinya yang kekar. Di bawah siraman cahaya siang, penampilan Adjat sangat kontras dengan hari kerja.

Lengan dan bahunya yang legam penuh otot, kini memegang sebatang suling bambu dengan sangat lembut. Jemari kasarnya meliuk luwes di atas lubang-lubang bambu, meniupkan udara yang berubah menjadi alunan nada melengking syahdu, panjang, dan menyayat hati bergaung membelah sunyinya lembah.

Itulah kelebihan tersembunyi Adjat, sebuah kelembutan jiwa di balik tubuh kasarnya yang berhasil membuat Endah jatuh hati.

Di sebelahnya, Cecep duduk memangku sebuah kacapi Sunda kayu hasil meminjam ke tetangga. Karakternya mendadak berubah menjadi sangat karismatik saat bermusik. Bermain kacapi membutuhkan ketelitian hitungan ketukan kawat senar yang matematis dan teratur, sangat cocok dengan otak administratif Cecep yang rasional dan perfeksionis.

Dengan wajah yang datar tanpa ekspresi, jemari kurus Cecep memetik dawai kawat kacapi dengan sangat presisi, menciptakan melodi denting logam yang mengiringi tiupan suling Adjat dengan harmonis.

Endah, yang duduk di depan Adjat, mulai menggerakkan bahunya dengan luwes khas penari ronggeng. Ia menarik napas, lalu menyanyikan lagu rakyat tradisional dengan cengkok vokal yang sangat matang dan memikat. Sepasang mata Endah menatap berani ke arah Adjat, memancarkan aura asmara anak muda yang sedang membara.

Tak lama, giliran Imas yang menyanyi bergantian dengan Endah. Berbeda dengan Endah yang ekspresif, Imas menyanyi dengan suara yang lebih lirih, bersih, dan memancarkan kesantunan seorang gadis desa yang pemalu. Saat suara bening Imas mulai mengalun membelah angin saung, ia terus menundukkan kepalanya, menatap anyaman bambu lantai saung karena tidak berani menatap lawan jenis.

Mendengar kemerduan suara Imas yang begitu bening, fokus otak rasional Cecep mendadak buyar seketika. Juru tulis muda itu terpesona hingga jemarinya salah memetik senar kawat kacapi.

Tenggg...Bunyi petikan yang salah itu mendengung sumbang di dalam saung. Akibat gerakan tangannya yang kaku dan panik karena salah tingkah, kacamata bulat yang bertengger di wajah Cecep mendadak melorot jatuh sampai ke ujung hidungnya. Cecep langsung menghentikan petikannya, mengeluarkan suara batuk kaku yang dibuat-buat demi menutupi rasa malunya.

Kejadian konyol itu membuat Adjat menghentikan tiupan sulingnya dan tertawa terpingkal-pingkal bersama Endah, sementara Imas hanya bisa menyembunyikan senyum manisnya di balik ujung selendang dengan wajah yang merona merah mirip buah buni matang.

Lihat selengkapnya