Kegelapan malam yang pekat telah lama mengepung rumah panggung besar milik Sutisna. Rumah beratap ijuk tebal dengan tiang-tiang kayu jati gelondongan itu berdiri angkuh di batas Kampung Limbangan, menandakan status sosial pemiliknya yang bukan sekadar petani biasa. Di dalam kamar pribadinya yang luas dan nyaman, Kokolot Limbangan berumur empat puluh delapan tahun itu masih terjaga.
Ia duduk mematung di tepi ranjang kayunya yang beralaskan kasur kapuk tebal sembari menatap ke arah jendela tertutup, namun masih mengalirkan angin dingin dari kisi-kisinya yang berembus turun dari puncak Gunung Gede-Pangrango.
Dinginnya udara malam itu sama sekali tidak mampu mendinginkan darahnya yang sedang bergolak hebat. Dada pria paruh baya itu terbakar oleh kombinasi berbahaya antara nafsu berahi yang liar dan rasa dengki yang mengisap kewarasannya.
Dua hari telah berlalu sejak malam hajatan besar di pelataran rumah Pak Lurah Dadang Koswara. Namun ingatan tentang peristiwa di atas panggung tratag kayu itu masih terus mengganggu di kepala Sutisna seperti bau tahi ayam yang tidak mau hilang meski kotorannya sudah lenyap dibasuh.
Sebagai kepala dusun, seorang kokolot yang kata-katanya biasa didengar oleh warganya, merasa harga dirinya sudah diinjak-injak sampai lumat. Di depan matanya sendiri, dan hadapan ratusan pasang mata orang kampung, dia harus menyaksikan bagaimana kekuasaan dan kekayaan Pak Lurah dipamerkan secara brutal di malam hajaran itu.
Namun, bukan hanya soal jabatan birokrasi atau kekuasaan yang membuat hati Sutisna bernanah hingga mengeluarkan bau busuk kemarahan, melainkan sikap pak lurah terang-terangan merendahkan dirinya yang kalah jabatan, kalah harta, dan kalah ajian.
Sutisna, yang rambutnya mulai ditumbuhi uban penuaan kembali terbayang-bayang pada kemolekan tubuh Endah saat menari ronggeng malam itu. Setiap liukan pinggang yang luwes, gerak lentik jemari yang gemulai menepis selendang, dan tatapan mata tajam namun menggoda dari gadis berumur tujuh belas tahun itu telah menyulut nafsu gila di dalam batok kepalanya. Endah bukan sekadar penari; dia adalah primadona yang harumnya mekar di sela-sela pohon teh Perkebunan Goalpara.
Kedengkian Sutisna memuncak ke ubun-ubun ketika ingatan itu bergeser pada momen yang paling menyakitkan: gerakan tersamar tangan Pak Lurah yang berhias cincin akik Sulaiman Mata yang mewah, menyelipkan uang kertas lima Gulden yang masih kaku ke dalam genggaman jemari Endah yang halus.
Lima Gulden—sebuah nominal yang setara dengan upah berminggu-minggu seorang kuli petik teh biasa. Itu adalah sebuah jaring kekuasaan tebal yang sengaja dipasang oleh sang penguasa desa untuk mengikat sang primadona ronggeng agar tunduk dalam pelukannya.
Sutisna tahu betul, dengan sisa kantong peraknya yang kian menipis akibat seretnya hasil panen dan tingginya pajak landrente dari pemerintah kolonial, ia tidak akan pernah bisa menandingi tebalnya dompet Pak Lurah untuk mendapatkan Endah. Kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah penonton di tepi panggung kekuasaan membuat Sutisna frustrasi setengah mati, hingga memicu kelaparan syahwat di dalam jiwanya untuk mencari jalan pintas yang nista.
Sekitar pukul satu dini hari, saat seluruh kampung dibawah yuridiksinya, telah tenggelam dalam tidur yang nyenyak, Sutisna akhirnya meluncur turun dari ranjang empuknya.
Langkahnya didorong oleh bisikan iblis yang sudah tak sabar meminta tumbal. Ia mengenakan baju salontreng khas Sunda, melilitkan selembar sarung bermotif kotak-kotak di lehernya untuk menghalau angin, lalu mengendap-endap keluar menembus pekatnya kabut yang turun menyelimuti makam.
Langkah kakinya yang beralaskan terumpah kulit, bergerak tanpa suara di atas tanah berbatu yang lembap. Ia berjalan membelah jalur tanah setapak diantara barisan pohon singkong, menghindari sorot cahaya lampu rumah warga, menuju halaman belakang balai desa. Di sana terdapat sebuah bangunan gudang penyimpanan perlengkapan pementasan kesenian. Sebagai salah satu kepala dusun di desa Sukaraja, yang diamanahi mengurus inventaris desa, Sutisna memegang kunci serep gudang.
Jantungnya bertalu-talu memukul rongga dada, memompa adrenalin yang membuat sekujur tubuhnya merinding, bukan karena dingin, melainkan karena sensasi melakukan kejahatan yang terencana. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Sutisna memasukkan kunci besi itu ke dalam lubang gembok kuningan kuno buatan Belanda yang berat.
Klik. Kreeek… Pintu kayu yang peliturnya sudah mengelupas, itu terbuka sedikit, memicu derit kasar dari engselnya yang perlu pelumas. Suara kecil itu langsung ditelan mentah-mentah oleh angin malam yang menggoyang pohon-pohon peneduh di halaman balai desa.
Dengan gerakan tangkas, Sutisna segera menyelinap masuk, menutup kembali pintunya dari dalam hingga menyisakan celah tipis, lalu merogoh pinggangnya, menyalakan oncor leutik—obor kecil dari ruas bambu berdiameter 3 sentimeter dan panjang 15 sentimeter yang diisi minyak tanah, dan kain perca sebagai sumbunya.