Hari Minggu pagi di musim metik tahun 1926. Kompleks pabrik teh Goalpara tampak sunyi dari raungan mesin, namun di Kampung Limbangan, suasana justru pecah oleh keriuhan. Karena hari Minggu adalah satu-satunya hari libur bagi buruh dan pegawai perkebunan, seluruh warga memanfaatkan momen ini untuk gentusan—gotong royong mendirikan tenda hajatan di rumah panggung Endah.
Ibu-ibu pemetik teh yang biasanya menggendong keranjang bambu di punggung, kini sibuk melingkari lesung, menumbuk padi untuk cadangan beras pesta hari Selasa nanti.
Di sudut lain pekarangan berlantai tanah itu, para pemuda kuli panggul dari Kampung Cikaret—kawan-kawan Adjat—bahu-membahu memikul batang bambu bulat yang masih hijau.
Di tengah kesibukan komunal itulah Cecep muncul, memanfaatkan hari liburnya sebagai juru tulis pabrik. Penampilannya hari itu terlihat sederhana dengan pakaian sehari-hari: baju salontreng khas Sunda berkancing lima—yang secara filosofis mengartikan 5 rukun Islam.
Dasar memang Cecep bukan tipe lelaki pesolek yang mementingkan penampilan, baju yang dipakainya terlihat aneh jika dicermati. Mungkin karena terburu-buru, kancing nomor satu masuk ke lubang nomor dua. Kancing nomor dua masuk ke lubang nomor tiga, begitu seterusnya, membuat bagian bawah kemejanya menceng sungsang. Celana kain drill hitamnya digulung sebelah hingga betis, memperlihatkan kakinya yang kurus.
Cecep menatap ujung bambu yang dipegangnya dengan ekspresi kosong khas orang linglung sambil mengetuk-ngetukkan pensil ke batang bambu, lalu mengguratkan garis tebal di atasnya
"Kang Cecep! Ari eta nulis naon dina batang awi?” teriak salah seorang kuli panggul Cikaret yang sedang memotong tali ijuk.
Cecep kaget. Dia mengerjapkan mata, menaikkan alisnya tinggi-tinggi. Menyadari sedang diperhatikan, sedetik kemudian wajahnya berubah serius, seolah-olah dia sedang memegang dokumen rahasia milik administrateur Belanda.
"Eh... anu... ini. Saya sedang menghitung sudut kemiringan tenda. Penting ini. Kalau hari Selasa nanti hujan, airnya akan meluncur turun tepat empat puluh lima derajat dan tidak akan merusak sanggul Endah saat akad," jawab Cecep dengan nada sangat meyakinkan.
Si kuli panggul melongo, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu pergi begitu saja karena pusing mendengar penjelasan juru tulis yang kelewat pintar tapi aneh itu.
Tentu saja itu cuma taktik. Fokus sejati Cecep sebenarnya bergeser lima meter ke sebelah kanan: ke arah Imas yang sedang berjongkok memeras santan kelapa untuk bumbu masakan.
Sambil berpura-pura mengukur kelurusan tiang bambu dengan benang kasur, mata Cecep melotot kosong ke arah Imas—persis Mr. Bean yang sedang mengagumi lukisan di museum tanpa berkedip. Mulutnya sedikit menganga. Imas yang merasa dikunci oleh tatapan aneh itu, menengok.
Begitu melihat muka Cecep yang konyol Imas langsung gegedod— menepuk jidatnya sendiri. Dengan gerakan kepala yang cepat, Imas memberikan isyarat mata menyuruh Cecep menjauh agar tidak menjadi bahan gunjingan ibu-ibu pengaduk kue papais.
Bukannya paham, Cecep malah mengartikan itu sebagai ajakan berinteraksi. Dia membalas dengan menggerakkan kedua alis tebalnya naik-turun, mungkin maksudnya berniat mengirimkan "kode cinta rahasia". Namun, karena terlalu fokus menggerakkan alis sambil berjalan mundur dengan gaya kaku, Cecep tidak menyadari ada sebuah boboko (bakul bambu) besar berisi beras sumbangan warga tepat di belakang tumitnya.
Gubrag! Kaki Cecep tersangkut pinggiran bakul. Tubuhnya limbung ke belakang dengan estetika jatuh yang sangat lambat, lalu mendarat telentang tepat di atas tumpukan jerami kering pakan ternak. Uniknya, meskipun badannya sudah telentang, kedua tangannya tetap lurus kaku ke atas memegang pensil dan benang, dengan ekspresi wajah yang tetap datar, sambil memandang langit biru cerah.
Pekarangan rumah Endah seketika gempar. Ibu-ibu menjerit kaget lalu tertawa terpingkal-pingkal. Imas buru-buru menutup seluruh wajahnya dengan kain saringan santan karena malu sekaligus menahan tawa hingga bahunya terguncang keras.
Beberapa ratus meter di atas mereka, di jalan setapak lereng bukit teh yang meliuk, Mandor Danu menghentikan langkah patrolinya. Dari ketinggian itu, dia berdiri bersedekap, memandang lurus ke arah kepulan asap dapur dan sayup-sayup suara keriuhan yang menggema dari Kampung Limbangan.
Dia tahu betul hari Selasa besok adalah hari pernikahan Endah, meskipun dari sana rumah Endah tidak terlihat karena tertutup rimbunnya pohon, rahang Danu mengencang. Suara tawa bahagia orang-orang kampung yang terbawa angin, terdengar seperti ejekan Sinder Deventer di telinganya. Prosesi di hari Minggu itu akhirnya ditutup oleh malam yang dingin dan sunyi hingga dilanjutkan keesokan harinya.
Di malam yang sunyi itu, di saat seluruh warga kampung bawah sudah terlelap kelelahan setelah seharian bergotong royong, Adjat justru tidak bisa memejamkan mata. Dengan langkah berat, dia menyelinap membelah pekatnya kabut malam menuju rumah panggung milik Mandor Danu. Adjat tahu aturan kebun sangat mencekik; ia tidak bisa asal bolos di hari pernikahannya tanpa menghadapi cambuk atau potongan upah dari sinder Belanda.
Di teras rumah sang mandor, Adjat duduk bersila dengan penuh rasa hormat, meletakkan bungkusan goni kecil berisi beberapa tangkep gula kawung murni sebagai pelicin hantaran. Mandor Danu yang duduk di hadapannya, mengisap rokok kawung dalam-dalam, lalu membuang asapnya persis di muka Adjat.
Sepasang matanya berkilat penuh dengki dan cemburu melihat kuli miskin di depannya ini berhasil memenangkan hati Endah. Namun, otak culas Danu bergerak lebih cepat. Ia melihat ini sebagai kesempatan emas untuk memeras tenaga Adjat di kemudian hari.
"Pergilah maneh bersenang-senang selama tiga hari bersama Endah, Jat. Urusan absen lisanmu saat apel subuh di lapangan, biar saya yang pasang badan menipu sinder Belanda," ujar Danu dengan senyum sinis yang tipis.