MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #19

MASA MANIS PENGANTIN BARU

Sinar matahari fajar menerobos masuk secara perlahan lewat celah-celah dinding bilah bambu, menggambar garis-garis cahaya keemasan di atas lantai panggung rumah yang sederhana.

Udara pagi Kampung Limbangan masih terasa sangat dingin, dikepung oleh sisa-sisa kabut tebal yang turun dari puncak bukit. Namun, di dalam rumah kayu yang bersih itu, kehangatan yang syahdu justru baru saja dimulai. Endah terbangun lebih awal. Ia sedikit terkejut. Merasa asing dan aneh karena ada seseorang di sampingnya.

Biasanya, ia terbangun sendirian. Sekarang, di sisinya ada Adjat, sang suami yang masih mendengkur halus. Yang lebih aneh lagi, sewaktu masih tidur sendiri, Endah sering mendengar suara tokek berbunyi di atas plafon bambu.

Semalam, tidak terdengar sekalipun bunyi: Tekeeek di balik plafon. Mungkin si tokek tahu diri, ingin memberi privasi bagi pasangan pengantin baru itu. Biar mereka puas menikmati keintiman tanpa gangguan suaranya yang nyebelin! Apalagi semalam, Adjat begitu bergairah menjalankan kewajibannya sebagai suami. Begitu perkasa dalam memberikan nafkah batin pada dirinya. Hingga ia berkali-kali melenguh puas.

Endah memandangi wajah maskulin suaminya sesaat dengan senyum yang tertahan, lalu bergerak dengan sangat pelan, berusaha keras agar derit halus ranjang tidak membangunkan suaminya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia melangkah ke dapur kecil di bagian belakang rumah sebagai seorang istri yang sah.

Ketika ia melangkah ke bagian dapur belakang, asap tipis beraroma ranting pohon teh tua yang terbakar ternyata sudah mengepul hangat, menghalau dinginnya subuh. Di depan tungku tanah liat (hawu), Ceu Eti, emaknya sudah lebih dulu terjaga, sedang sibuk menanak nasi liwet untuk sarapan.

Melihat anaknya masuk ke dapur dengan langkah pelan yang kaku dan sedikit meregangkan kedua kakinya, menahan sisa rasa perih sekaligus nikmat dari keperkasaan menantu barunya semalam, Emak langsung melirik penuh arti. Senyum jahil seorang ibu yang sudah kenyang asam garam kehidupan seketika terbit di wajah keriputnya.

Tanpa banyak bicara namun dengan kedipan mata yang menggoda, Emak menyerahkan sepasang cangkir batok kelapa ke tangan Endah, memberi isyarat agar Endah yang menyeduh kopi hitam hangat perdana untuk suaminya pagi itu. Sembari menanti nasi liwet matang, Endah menyeduh dua cangkir kopi hitam kental ke dalam cangkir.

Adjat menggeliat, kelopak matanya perlahan terbuka karena hidungnya menangkap aroma gurih nasi liwet dan wangi kopi yang pekat. Dia membuka pintu kamar, ketika menoleh ke arah pintu dapur, ia mendapati Endah sedang berjalan mendekat dengan membawa baki kayu. Rambut panjang Endah digelung longgar, dan wajah geulis-nya memancarkan senyum malu-malu yang begitu tulus, sebuah pemandangan yang seketika membuat dada Adjat bergetar penuh rasa syukur.

"Kopina dileueud heula, Kang," bisik Endah lembut, meletakkan cangkir itu di samping suaminya.

Adjat duduk bersandar pada dinding bambu, menyesap kopi panas itu perlahan sembari menatap lekat-lekat pada mata sang istri. "Nuhun, Neng. Rasa kopi buatan Eneng beneran beda, bikin badan Akang langsung segar."

Endah tertunduk malu, guratan merah merona muncul di kedua pipinya mendengar pujian jujur tersebut.

Hari ini adalah hari Rabu, hari kedua dari kemewahan libur tiga hari yang berhasil Adjat dapatkan setelah meluluhkan hati Mandor Danu dengan hantaran gula kawung tempo hari.

Lihat selengkapnya