Hawa dingin mengayunkan kabut tebal menuruni lereng Goalpara, membungkus Kampung Limbangan dalam keremangan malam Jumat yang cerah, penuh bintang bertaburan. Wajah bulan di hari keempat belas memamerkan keindahannya, menemani dua anak manusia berlainan jenis yang tengah melangkah menuju rumah sahabat mereka.
Sehabis waktu Magrib, suasana di beranda depan rumah Imas tampak sepi. Sebuah lampu minyak tanah yang tergantung di tiang kayu bergoyang pelan ditiup angin, memantulkan bayangan Cecep yang sedang duduk kaku di atas palupuh—bambu yang dibelah, lalu dipukul hingga rata menjadi lembaran papan lantai—sembari membersihkan lensa kacamata bulat minusnya.
Di pojok lantai bambu yang dialasi tikar pandan, Imas duduk dengan anggun, jemari tangannya telaten memilah daun-daun sirih di dalam nyiru letik (tampah kecil). Seperti biasa, keheningan di antara mereka berdua terasa begitu penuh sungkan khas tata krama priyayi dan gadis pemalu.
Namun, keheningan yang kaku itu mendadak pecah oleh suara tawa renyah yang mendekat dari arah halaman luar. Dari balik keremangan kabut, Adjat dan Endah berjalan melangkah naik ke atas teras dengan jemari tangan yang saling bertautan sangat erat.
"Sampurasun, Kang Cecep, Neng Imas!" seru Adjat dengan volume suara yang sengaja dikeras-keraskan, membuat Cecep yang sedang memegang kacamatanya hampir saja menjatuhkan benda kaca itu ke lantai bilah bambu.
"Astagfirullah, Adjat... Matak reuwas wae, maneh mah!" gerutu Cecep yang kaget dengan kepala mendongak, mata membesar, dan mulut ternganga sembari bergegas memakai kembali kacamata bulatnya yang terlempar kena tangannya.
Adjat tertawa kecil, tidak memedulikan gerutuan itu. Ia langsung menarik Endah untuk duduk bersama di atas tikar, sengaja mengambil posisi yang sangat rapat, saling menempel.
Endah yang kini sudah sah menjadi istri, tidak lagi memperlihatkan jarak atau rasa canggung di depan umum. Dengan gerakan yang luwes dan manja, Endah langsung memperhatikan penampilan Adjat, tangan kanannya terangkat lembut membetulkan posisi totopong di kepala suaminya yang sedikit miring.
Melihat sepasang pengantin baru itu memamerkan kemesraan yang terang-terangan, gerakan tangan Imas yang sedang memilah daun sirih langsung membeku seketika. Wajahnya langsung merona merah hingga ke ujung leher. Imas bergegas menundukkan kepalanya, berpura-pura sangat sibuk menatap guratan daun sirih di nyiru agar tidak terlihat jengah.
Adjat menyeringai lebar, menyenggol bahu Cecep dengan siku kekarnya hingga kacamata sang juru tulis itu nyaris terlempar lagi. Salah satu gagangnya lepas dari kuping Cecep, hingga posisi kacamatanya jadi miring sebelah.
"Kang Cecep, lihat ini," ledek Adjat, matanya berkedip jenaka ke arah Endah yang sedang tersenyum centil. "Menikah itu rasanya beneran nikmat luar biasa. Setiap malam tidur ada yang menemani, bangun subuh sudah ada kopi hitam hangat, dan sarapan tersaji di atas meja dapur. Makanya, Akang jangan terlalu lama menghitung angka-angka timbangan teh!"
Cecep membelalakkan mata yang biasanya kelihatan mengantuk. Alisnya terangkat tinggi, dengan kacamata yang letaknya masih miring.
Dia buru-buru meraih cangkir kopinya yang sudah mendingin, menyeruputnya dengan bunyi yang keras—sruuuup—demi menyembunyikan salah tingkahnya digoda oleh sahabatnya sendiri.
"Urusan menikah itu butuh perhitungan yang matang, Jat! Tidak bisa asal ujug-ujug seperti memikul keranjang teh," jawab Cecep dengan nada datar, padahal kupingnya sudah memerah.
Endah langsung ikut menyambar, menyenggol lengan Imas dengan gaya menggoda centil. "Imas, jangan mau mendengarkan alasan hitungan Kang Cecep. Laki-laki terpelajar kalau kebanyakan berpikir nanti rambutnya bisa botak duluan sebelum ijab kabul. Kamu harus sering-sering kasih isyarat yang galak biar Aden juru tulis ini cepat melamar ke Abah kamu!"
"Endah... ih, sudah, jangan bicara begitu di depan Kang Cecep," bisik Imas gugup setengah mati, suaranya hampir hilang karena menahan rasa malu yang membuncah di dalam dadanya.
Adjat tertawa lepas, suaranya bass-nya memenuhi seluruh area teras rumah. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lekat-lekat pada wajah kaku Cecep dengan sorot mata yang penuh canda.
"Dengarkan saya, Kang," ujar Adjat sembari menepuk lutut Cecep dengan akrab. "Akang harus cepat-cepat melamar Neng Imas dan mengikuti jejak kami secepatnya untuk menikah. Jangan sampai kalian kelamaan berpacaran penuh sungkan begini, lalu tiba-tiba keburu datang Perang Dunia yang kedua! Perang Besar tempo hari saja sudah bikin pasokan pabean dunia hancur lebur dan harga barang naik, jangan sampai kalian belum sempat bersanding di pelaminan tapi dunia sudah keburu pecah lagi oleh perang!"