Lampu-lampu petromaks menyala benderang di halaman luas milik Juragan Aryasubrata, seorang penguasa bisnis gula kawung yang paling disegani di Desa Pasirhalang.
Malam Rabu itu, suasana hajatan pernikahan anak bungsu sang juragan berlangsung sangat mewah. Bau harum uap masakan daging kerbau dan manisnya seduhan air jahe hangat beradu di udara, menyambut ratusan tamu undangan. Di tengah halaman, sebuah panggung kayu tratag yang besar didirikan dengan megah, beralaskan tikar pandan halus yang baru digelar.
Kemakmuran sang juragan malam itu terpapar nyata dari bagaimana para tamu berinteraksi dengan hidangan yang disajikan. Di barisan kursi jati paling depan, Ndara Assistent Wedana Sukaraja duduk berwibawa bersama para menak kabupaten.
Dengan gerak-gerik yang tertib dan menjaga sikap, jemari mereka yang berhias cincin emas batu akik menggenggam cangkir keramik putih bermotif naga—barang pecah belah impor mahal yang dipesan khusus dari kota Sukabumi. Mereka perlahan menyesap kopi tubruk pekat yang diselingi gigitan kecil irisan gula kawung cetak kualitas nomor satu.
Di piring porselen mereka, potongan semur daging kerbau bersanding dengan sate maranggi yang harum ketumbar, menegaskan kasta sosial mereka yang berjarak dari orang kebanyakan.
Tepat di sebelah meja para menak, atmosfer yang jauh lebih dingin tersimpan di antara Lurah Sukaraja dan Kokolot Limbangan, Sutisna. Pak Lurah Dadang Koswara dengan bendo, ikat kepala kualitas tinggi dan kumis melintang yang dipapar minyak wangi, duduk bersandar sambil mengunyah sepotong gepuk daging kerbau. Matanya tajam menyapu area sekitar, sesekali melirik angkuh ke orang di sampingnya.
Kokolot Sutisna tahu, dia menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras. Lirikan mengejek Pak Lurah pada dirinya tidak ia tanggapi. Sambil pura-pura sibuk mencuil ketan wajit yang liat dan hitam legam dengan jemarinya, dada Kokolot Sutisna si kepala dusun, bergemuruh oleh rasa dengki yang membakar.
Setiap kali Pak Lurah menyesap kopi tubruknya dengan bunyi berdecak yang sengaja dikeras-keraskan, Sutisna merasa urat lehernya menegang. Ia tahu betul, Decakan itu adalah cara halus sang lurah memamerkan kemenangan.
Belum genap sebulan lalu, di bawah pohon-pohon aren Kampung Limbangan, Sutisna harus menelan ludah pahit saat impiannya memboyong Endah ke rumahnya kandas. Jika Pak Lurah bisa punya banyak istri, mengapa dirinya tidak? Uang simpanannya dari hasil upeti para penyadap tak ada apa-apanya dibanding lembaran gulden dan pengaruh politik yang disodorkan Pak Lurah demi menjadikan sang primadona sebagai istri simpanan di kota. Kini, duduk berdampingan di kursi kehormatan dengan aroma masakan mewah Juragan Aryasubrata justru terasa bagai duduk di bara api bagi sang kokolot.
Kontras dengan keheningan di meja pejabat, di pojokan halaman dekat dapur justru menjadi tempat berkumpulnya para tengkulak kota dan mandor Perkebunan Goalpara. Di sana, obrolan tentang harga komoditas dan politik tahun 1926 bergemuruh di balik kepulan asap tembakau. Tangan-tangan mereka yang kasar berpindah cepat dari mangkuk Soto Sukabumi berkuah kaldu bening yang gurih, menuju nampan kuningan berisi wajit dan dodol ketan yang liat mengkilap.
Sementara itu, di pinggiran pagar bambu, para buruh penyadap aren dan penduduk kampung berdiri berdesakan, mengunyah ali agrem (kue cincin) dan cucur hangat yang pinggirannya renyah membentuk renda cokelat, sambil menatap kagum pada kemewahan yang digelar sang juragan.