MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #22

SURAT DARI ROTTERDAM.

Waktu satu setengah bulan berjalan tanpa banyak riak di hamparan hijau Perkebunan Goalpara. Satu bulan penuh dihabiskan oleh kapal laut kargo logistik untuk membawa peti teh sampel awal menyeberangi samudra luas menembus Terusan Suez menuju pelabuhan Rotterdam. Dua minggu sisanya adalah waktu yang dihabiskan bagi jaringan mafia di Eropa untuk menguji kualitas morfin tersebut, sebelum akhirnya mereka mengirimkan pesan balasan bersandi lewat ketukan telegraf bawah laut internasional yang membelah Samudra Hindia hingga tiba di Batavia, lalu dicetak dan diantar oleh kurir kereta ekspres langsung ke kaki Gunung Gede.

Kehidupan perkampungan di sekitar perkebunan teh Goalpara berjalan seperti biasa. Namun sore itu, di dalam ruang kerjanya di atas bukit, Administrateur Herman van Persie sedang duduk tegak di balik meja mewahnya, menatap selembar kertas telegram dari Rotterdam yang baru saja tiba. Di atas pita kertas itu, tercetak barisan kalimat bisnis yang tampak sangat biasa: DUA PULUH KATI SAMPEL TEH PEKOE UTAMA SUDAH DITERIMA AGEN DISTRIBUTOR ROTTERDAM STOP KLIEN KELAS SATU SANGAT PUAS KUALITAS BERSIHNYA STOP HARAP SEGERA KIRIM SERATUS ENAM PULUH LIMA KATI DENGAN FORMULA DUA STOP AWASI HAMA SINGAPURA STOP

Sebuah senyuman dingin yang sangat puas muncul di wajah pucat Herman. Bagi petugas telegraf, pesan ini hanyalah transaksi teh premium biasa. Namun bagi Herman, kata "Klien Kelas Satu" adalah kode bahwa teh morfinnya sukses besar memikat para borjuis dan bangsawan kaya di salon dansa serta hotel mewah Eropa.

Keuntungan finansial yang fantastis sudah membayang di depan mata. Namun, peringatan tentang "hama Singapura" di ujung telegram itu juga mempertegas ancaman nyata. Kongsi dagang Inggris mulai mengendus adanya pasar teh rahasia baru di wilayah Belanda.

Di dalam kamar kerjanya yang sunyi, Herman van Persie merasa dikejar waktu. Ia tahu tidak boleh lambat. Dia harus segera menyempurnakan pasokan komoditas ini sebelum para kompetitor Inggris merebut pasarnya. Pasar gelap di Rotterdam meminta pengiriman skala besar berikutnya dengan dosis yang ditingkatkan.

Herman van Persie melipat kembali surat tersebut. Baginya, selembar kertas telegram kaku di tangannya adalah satu-satunya jembatan kilat penembus benua. Lalu ia menelepon Deventer—Jaringan telepon darat lokal di Jawa memang sudah matang, namun teknologinya untuk jaringan internasional belum tersedia—Sepuluh menit kemudian asistennya itu sudah berada di ruang kerja bosnya.

"Surat dari Rotterdam sudah datang, Deventer," ujar Herman van Persie, suaranya datar namun terasa sangat dingin. Ia menggeser kertas surat itu ke tepi meja. "Orang-orang di Eropa sangat menyukai barang kita. Mereka minta pasokan penuh dalam jumlah besar, tapi dosis efeknya harus jauh lebih kuat mengikat saraf."

Sinder Deventer melangkah mendekat, sepasang matanya menatap kertas surat tersebut dengan binar yang dipenuhi rasa tunduk pada otoritas atasannya. "Berarti... ini saatnya kita membongkar simpanan formula berikutnya, Tuan Besar?"

Herman van Persie berdiri dari kursi jatinya, berjalan menuju lemari besi brankas besar yang tertanam kokoh di brankas ruang kerjanya. Setelah memutar kombinasi angka kunci besi tersebut hingga terdengar bunyi klik yang berat, ia membuka pintu besi yang tebal. Dari rak paling sudut yang tersembunyi, ia mengeluarkan kaleng perak berkode label tulisan tangan: F-2.

"Ini Formula Dosis Menengah," kata Herman van Persie sembari menaruh kaleng perak itu di atas meja. "Efek morfin murni di dalam formula F-2 ini tiga kali lipat lebih kuat mencengkeram urat saraf dibanding sampel F-1. Tapi risikonya juga ganda; zat kimia murni ini akan memeras habis seluruh energi fisik dan otot manusia yang mengonsumsinya secara paksa hingga ke titik nadir."

Herman van Persie menatap lurus ke arah sinder kepercayaannya itu, memberikan perintah mutlak yang tidak boleh dibantah sepatah kata pun. "Besok pagi, suruh Mandor Danu untuk mengumpulkan sekelompok kecil kuli pikul terbaik yang badannya paling tangguh di lapangan kebun. Satukan mereka menjadi Regu Pikul Khusus."

Lihat selengkapnya