MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #23

EKSPERIMEN DOSIS MENENGAH

Keesokan harinya, tepat pada waktu subuh, Deventer langsung mendatangi rumah Mandor Danu, lalu Ia memerintahkan Danu agar mengumpulkan lima orang kuli pikul tangguh di lapangan pagi ini untuk membagikan seduhan “teh penambah stamina "tersebut kepada mereka sebagai regu pikul khusus.

Bagi Deventer, ini murni untuk menguji daya tahan fisik manusia, tanpa ia tahu kuli mana yang akan dipilih oleh Danu di lapangan nanti. Mandor Danu bergerak cepat mengeksekusi perintah dari Tuan Besar di Landhuis atas.

Di dalam ruang tamu rumahnya yang sempit, Danu berdiri di depan meja kayu, menuangkan air panas dari teko ke dalam lima buah cangkir blirik berisi teh pemberian Deventer.

Lima orang kuli pikul paling tangguh yang dipilih secara acak subuh itu berdiri mengelilingi meja, meniup uap panasnya sejenak, lalu meminumnya dengan semangat untuk mendongkrak stamina

Selang tiga puluh menit, kuli-kuli barak yang meminum air teh "penambah energi" tersebut mendadak memiliki stamina yang tidak masuk akal. Tanpa mengenal rasa lelah atau pegal linu, mereka mampu berjalan cepat menanjak dan menuruni tebing Blok Dalam yang curam sembari memikul beban ratusan kati teh di pundak mereka berulang kali hingga sore hari.

Zat murni di dalam formula F-2 membuat seluruh otot dan urat saraf kuli mati rasa terhadap rasa sakit. Tubuh mereka tidak berjalan sempoyongan ataupun menabrak tebing; sebaliknya, kaki-kaki mereka melangkah dengan sangat kaku, tegang, dan presisi menapaki pematang lereng yang licin, dikendalikan sepenuhnya oleh insting bawah sadar tubuh yang sudah terbiasa memikul beban berat.

Pandangan mata mereka melotot kosong menatap lurus ke depan dengan sepasang bola mata yang sayu melayang. Biarpun pikulan kayu seratus kati meremukkan tulang bahu hingga berdarah, atau jurang maut menganga tepat di sebelah kaki mereka, rasa takut dan perih itu hilang tak bersisa dihantam oleh efek sedatif morfin yang terselubung di dalam air rebusan teh tersebut.

Dari atas punggung kudanya di batas bukit, Sinder Deventer berdiri diam memantau jalannya pekerjaan dari kejauhan dengan batin yang dipenuhi rasa waswas tersamar. Hasil pemantauan siang itu sungguh membuat bulu kuduknya merinding.

Efek dari cairan F-2 bekerja dengan gila-gilaan pada saraf tubuh manusia pribumi. Kuli-kuli barak yang meminum jatah air teh gratis tersebut tidak lagi bekerja dengan riuh, melainkan bergerak kaku seperti robot bernyawa. Tatapan mata mereka melotot kosong menatap tanah, tampak mengantuk berat namun kaki mereka terus melangkah mendaki tebing tanpa henti.

Jatah bobot timbangan teh di pos bawah siang itu melonjak drastis secara signifikan, sebuah pembuktian sains yang sukses besar di lapangan.

Begitu lonceng penutupan jam kerja sore hari berdentang, Sinder Deventer segera memacu kudanya menaiki bukit, menuju landhuis untuk menemui Herman van Persie. Dengan napas yang masih tersengal, Deventer melaporkan seluruh hasil pengamatan fisiknya di lapangan.

Lihat selengkapnya