Kabut sore mulai turun menyelimuti hamparan hijau lereng Gunung Gede, membawa hawa dingin menggigilkan ke sekeliling Perkebunan Goalpara. Di dalam ruang kerja yang luas dibagian sayap kiri bangunan landhuis, Herman van Persie berdiri terpaku di dekat jendela kaca besar. Jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran meja kayu jati dengan ritme konstan yang menyembunyikan secuil ketegangan di dalam dadanya.
Dua minggu telah berlalu sejak ia mengirimkan telegram pemerasan ke Rotterdam. Hari ini adalah tenggat waktu yang disepakati. Herman melirik sekilas ke arah jam dinding kuno berlapis kuningan yang berdetak nyaring. Bertransaksi langsung di rumah dinasnya seperti ini bukannya tanpa risiko. Jika ada satu saja mandor pabean yang jeli atau informan polisi kolonial yang membuntuti, reputasi dan kariernya sebagai pejabat terhormat kerajaan akan hancur lebur dalam semalam.
Namun, otaknya yang dingin telah mengalkulasi segalanya dengan matang. Melakukan pertemuan di atas bukit terisolasi ini jauh lebih aman ketimbang bertemu di kamar hotel mewah di Batavia yang penuh dengan telinga-telinga menguping. Di Goalpara, ia adalah hukum itu sendiri.
Brummm…! Suara gerungan mesin berat yang dipaksa menanjak tiba-tiba pecah dari kejauhan, memotong kesunyian bukit teh. Herman menajamkan pandangannya. Sebuah mobil sedan mewah Nash Advanced Six hitam tampak merayap perlahan membelah kepulan kabut tipis. Ban-ban karet besarnya terdengar berisik menghantam dan menggilas batu-batu makadam jalan kebun. Moncong radiator mobil itu mengeluarkan sedikit uap putih ketika akhirnya berhenti dengan mulus tepat di halaman beranda landhuis.
Herman menahan napas sejenak. Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria Eropa berumur 40 tahun berpakaian jas linen tropis putih yang rapi turun dari kursi belakang.
Pria itu adalah Tuan Schalkwijk, seorang procuratiehouder—agen finansial kepercayaan sindikat yang sehari-hari menyamar sebagai pengacara dagang necis di Batavia. Di tangan kanannya, Schalkwijk menjinjing sebuah koper kulit buaya berukuran sedang dengan sangat erat.
Senyuman dingin yang penuh kemenangan perlahan terukir di wajah pucat Herman. Uang mukanya telah tiba. Ia berbalik dari jendela bersamaan saat terdengar langkah kaki Sinder Deventer yang menaiki tangga kayu, mengantarkan Schalkwijk masuk ke dalam ruang kerjanya membawa koper penuh petaka tersebut.
Pintu kayu jati berukir itu terbuka perlahan. Sinder Deventer melangkah masuk terlebih dahulu, memberikan anggukan kaku kepada Herman sebelum berdiri menyamping di dekat pintu. Di belakangnya, Tuan Schalkwijk masuk dengan langkah kaki yang tenang dan penuh percaya diri. Aroma minyak rambut pomade mahal dan tembakau cerutu Eropa seketika merebak di dalam ruangan, dihembus angin dingin pegunungan yang menyelinap dari jendela.
"Selamat sore, Administrateur van Persie," sapa Schalkwijk dengan nada suara bariton yang datar dan formal. Ia tidak melepaskan topi fedoranya, melainkan langsung melangkah mendekati meja kerja mewah Herman.
"Selamat sore, Tuan Schalkwijk. Perjalanan menanjak dari Sukabumi tampaknya tidak membuat Anda terlambat satu menit pun," balas Herman dingin sembari mengisyaratkan tamunya untuk duduk. Schalkwijk tidak meraih kursi kayu di hadapannya.
Sebagai pria yang terbiasa dengan urusan dunia bawah, ia tahu pertemuan ini harus diselesaikan secepat mungkin. Tanpa banyak basa-basi, ia mengangkat koper kulit buaya di tangan kanannya dan meletakkannya dengan bunyi debuman pelan tepat di atas tumpukan dokumen perkebunan milik Herman.
Klik! Klik! Schalkwijk memutar sandi pengunci kuningan pada koper tersebut hingga terbuka. Ia mendorong tutup koper ke atas, menghadapkan isinya langsung ke arah mata biru Herman van Persie.
Di dalam kegelapan boks kulit tersebut, berbundel-bundel uang kertas pecahan 100 dan 500 Gulden emisi terbaru dari De Javasche Bank tertata dengan kerapatan yang sempurna. Cap air bergambar Singa Kerajaan Belanda berkilat tipis di bawah cahaya lampu gantung ruangan.
"Tiga puluh persen di muka. Tunai, tanpa jejak perbankan resmi pemerintah," ujar Schalkwijk sembari menepuk pelan pinggiran koper. "Jaringan Rotterdam membuktikan bahwa mereka adalah rekan bisnis yang menepati janji. Sekarang, mereka menagih komitmen Anda."
Herman tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang sangat metodis, ia mengambil satu bundel pecahan 500 Gulden, meraba ketebalan kertasnya dengan ibu jari dan telunjuk, lalu mencium aroma kertas cetakan baru yang khas. Angka totalnya tepat. Ini adalah dana segar yang cukup untuk mendanai foya-foya di Batavia selama setahun penuh, atau dalam kasus Herman, modal bersih untuk memperkuat kerajaannya di Goalpara. Herman meletakkan kembali bendelan uang itu, lalu menutup koper kulit buaya itu dengan lembut.
"Beri tahu Rotterdam, pengapalan seratus kilogram teh Formula Dua akan segera diproses. Barang akan siap di pelabuhan Tanjung Priok dalam waktu tiga minggu," ucap Herman dengan nada penuh kemenangan.
Schalkwijk mengangguk puas. Ia meraih kembali topinya, memberikan penghormatan kaku, lalu berbalik melangkah keluar menuju mobil Nash Advanced Six-nya yang terparkir di halaman.
Begitu pintu landhuis tertutup dan suara mobil terdengar menjauh menuruni bukit makadam, atmosfer ruangan kembali sunyi. Herman menoleh tajam ke arah asistennya yang sejak tadi berdiri mematung di dekat pintu.
"Deventer," panggil Herman, suaranya terdengar seperti desis ular di tengah malam. "Besok subuh, kumpulkan tiga kuli kontrak kepercayaanmu dari barak dalam. Kita mulai penyemprotan massal untuk seratus kilogram pekoe utama. Naikkan dosisnya menjadi Formula Dua."
Sinder Deventer membungkuk dalam, matanya berkilat penuh kepatuhan yang bercampur ketakutan. "Dimengerti, Tuan Besar. Semuanya akan siap sebelum matahari terbit.”
Deventer lalu mohon diri untuk kembali ke rumah dinasnya untuk beristirahat, hingga ia terbangun pukul setengah dua malam. Setelah mencuci muka, Deventer bergegas mengenakan mantel wolnya, lalu melangkah lebar menuju barak kuli kontrak.
Suasana di barak pekerja perkebunan Goalpara masih sunyi senyap. Di dalam salah satu pondok bambu yang remang-remang, tiga orang buruh kepercayaan juga masih terlelap ketika pintu mereka diketuk pelan namun tegas dari luar.